Dari bahasa iman menuju kerja perdamaian
Diplomasi agama adalah upaya membangun hubungan dan meredakan konflik melalui nilai-nilai keagamaan yang dapat dipahami bersama, bukan untuk memaksakan satu keyakinan. Gagasan ini mendapat panggung dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant’Egidio bertema “Unarmed and Disarming Peace” di Assisi, Italia, yang dihadiri Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, serta tokoh lintas iman dunia. Setelah kembali dari kunjungan kerja ke Roma dan Italia, Nasaruddin menyampaikan bahwa gagasan diplomasi agama dan nilai universal Pancasila mendapat apresiasi komunitas internasional, termasuk dari Amerika dan Timur Tengah. Apresiasi itu penting, tetapi nilainya tidak terletak pada sambutan semata. Bahasa agama baru berdaya sebagai instrumen diplomasi global jika mampu menumbuhkan kepercayaan dan menggerakkan kerja bersama di tengah perbedaan.
Semangat Assisi menuntut lebih dari seremoni
Dalam forum “Prayer, Dialogue and Peace: The Legacy of Assisi”, Nasaruddin mengkritik pertemuan lintas iman yang berhenti sebagai acara seremonial atau dokumen kesepakatan. Pesannya tepat: ketika krisis dunia menuntut tindakan, dialog lintas agama tak boleh sekadar menjadi bahasa sopan di ruang konferensi. “Dialog lintas agama tidak boleh berhenti hanya sebagai dokumen kesepakatan di atas kertas, melainkan harus ditransformasikan menjadi aksi kemanusiaan yang nyata,” ujarnya; seruannya disambut tepuk tangan ratusan hadirin. Semangat Assisi, dengan demikian, bukan sekadar lambang kerukunan, melainkan ukuran bagi hasil dialog. Uji keberhasilannya ada pada apakah kesepahaman dapat berubah menjadi bantuan kemanusiaan dan perlindungan lingkungan yang meringankan beban masyarakat di akar rumput. Tanpa tindakan semacam itu, diplomasi agama berisiko mengulang seremoni yang dikritiknya.
Pancasila dan Islam moderat sebagai tawaran Indonesia
Dalam diplomasi Indonesia, Pancasila dapat menjadi bahasa bersama karena menawarkan nilai universal tanpa menghapus perbedaan keyakinan. Nasaruddin menempatkan pengalaman Nusantara bukan sebagai resep untuk ditiru mentah-mentah, melainkan sebagai contoh bahwa masyarakat majemuk dapat merawat kerukunan tanpa menuntut keseragaman. Ia menyebut pendekatan itu pluralisme progresif: perbedaan dihormati, bukan sekadar ditoleransi secara pasif. Gagasan tersebut sejalan dengan citra Islam moderat yang ramah, progresif, dan inklusif, yang menurut Nasaruddin membuat Indonesia dipandang sebagai salah satu pusat penting peradaban Islam modern. Kementerian Agama menyebut komunitas internasional mengapresiasi nilai Pancasila dan tertarik bekerja sama serta belajar dari kerukunan masyarakat Indonesia. Tugas diplomasi Indonesia ialah membuktikan bahwa nilai-nilai itu hadir dalam kebijakan dan kehidupan warga, bukan hanya pidato.
Perdamaian juga berarti merawat bumi
Gagasan Nasaruddin melampaui hubungan antarkelompok agama. Ia menghubungkan krisis iklim dengan cara pandang teologis yang menempatkan alam sebagai objek untuk didominasi dan dieksploitasi, lalu menawarkan ekoteologi Nusantara sebagai bagian dari jalan keluar. Hubungan itu memperluas agenda diplomasi agama: menjaga lingkungan bukan isu teknis yang terpisah dari iman, melainkan tanggung jawab bersama yang dampaknya dirasakan masyarakat. Namun, mengaitkan nilai spiritual dengan aksi konkret menuntut lebih dari kesepakatan moral; perlu kerja yang dapat menjawab kebutuhan warga dan melindungi lingkungan. Di sinilah Semangat Assisi memperoleh makna praktis. Diplomasi Indonesia akan meyakinkan ketika bahasa Pancasila dan Islam moderat diterjemahkan menjadi solidaritas lintas keyakinan, tindakan kemanusiaan, dan kepedulian ekologis. Kesimpulannya jelas: dialog membuka jalan, tetapi tindakanlah yang memberi bobot pada perdamaian.






