Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kelas Bahasa Inggris sebagai Jembatan Pertukaran Budaya

Kelas Bahasa Inggris sebagai Jembatan Pertukaran Budaya
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Mengajar bahasa, membuka perjumpaan

Global Classroom adalah proyek sukarelawan pendidikan AIESEC yang mempertemukan pemuda lintas negara dengan siswa melalui kegiatan belajar dan interaksi budaya. Nilainya terletak pada dua arah pertukaran: siswa berlatih bahasa, sementara relawan belajar memahami lingkungan yang baru.

Pada Juli 2026, Safa Khairana, Local Committee President AIESEC in Unsri, mengikuti Global Volunteer di Sheffield School, India. Sebagai Cross Cultural Teacher, ia mengajar sekaligus mengenalkan budaya Indonesia kepada para siswa. Kegiatan ini sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan menunjukkan bahwa pendidikan bahasa Inggris dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal perspektif lain.

Safa perlu menyesuaikan diri dengan bahasa dan kebiasaan setempat, termasuk sebagai anggota komunitas minoritas di sekolah. Pengalaman tersebut penting: pertukaran budaya bukan sisipan dekoratif dalam pelajaran, melainkan proses yang menuntut rasa ingin tahu, persiapan, dan sikap saling menghargai.

Kelas Bahasa Inggris sebagai Jembatan Pertukaran Budaya

Dari Vietnam: belajar lewat permainan

Pengalaman relawan AIESEC di Vietnam memperlihatkan bagaimana pembelajaran bisa terasa dekat dengan keseharian siswa. Selama sebulan, Christabel Venusha Simatupang, mahasiswa Teknik Industri Universitas Airlangga, mengajar melalui Global Classroom Project di Ho Chi Minh City bersama VEA English Center. Program itu berfokus pada bahasa Inggris, literasi, dan numerasi.

Saat liburan sekolah, Christabel mengajar kegiatan summer camp dari pukul 7 pagi hingga tengah hari, lalu melanjutkan kelas reguler pada sore hingga malam. Permainan digunakan untuk mengulas materi dan mengerjakan tugas, bukan sekadar mengisi waktu. Pilihan ini masuk akal untuk menjaga perhatian siswa dan memberi mereka kesempatan menggunakan bahasa dalam suasana yang lebih santai.

Manfaatnya juga melampaui ruang kelas: kegiatan selama liburan membantu orang tua yang bekerja karena anak-anak tetap belajar dalam pendampingan pengajar. Namun, dampak yang lebih bertahan akan bergantung pada kesinambungan latihan setelah relawan pulang—sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh pengalaman singkat, betapapun berkesannya.

Kelas Bahasa Inggris sebagai Jembatan Pertukaran Budaya

Kelas interaktif membuat siswa ikut mengambil peran

Di Medan, pendekatan lain tampak dalam teaching session Global Classroom yang dijalankan exchange participants program Incoming Global Volunteer AIESEC in USU pada Oktober 2026. Kelas berlangsung di Namira Islamic School, Jabal Rahmah Mulia, dan EduGlobal, dengan pendampingan panitia bagi peserta maupun sekolah mitra.

Para peserta memadukan permainan, storytelling, dan diskusi untuk mengajarkan bahasa Inggris, literasi, serta numerasi dasar. Siswa diajak berbicara, bertanya, dan mencoba memakai bahasa Inggris, sehingga mereka tidak hanya menjadi pendengar. Cara ini memberi ruang bagi keberanian untuk tumbuh lewat praktik, alih-alih mengandalkan ceramah.

Pengenalan kehidupan dan tradisi negara asal peserta memperluas wawasan siswa tanpa mereka harus meninggalkan kelas. Sebaliknya, para relawan juga belajar dari rasa ingin tahu dan cara belajar anak-anak Indonesia. Pertemuan semacam ini menunjukkan bahwa pertukaran budaya paling bermakna ketika siswa dan pengajar sama-sama menjadi peserta aktif.

Dampak yang layak diteruskan

Tiga pengalaman ini menegaskan bahwa pendidikan bahasa Inggris melalui Global Classroom bukan sekadar latihan kosakata. Pengajaran yang interaktif dapat menumbuhkan partisipasi dan kepercayaan diri, sedangkan pertemuan lintas budaya membuat pelajaran terasa relevan dengan dunia di luar sekolah. Itu merupakan kontribusi nyata bagi tujuan pendidikan berkualitas, meski bukan pengganti pengajaran jangka panjang.

Agar manfaatnya tidak berhenti ketika program selesai, sekolah dapat meneruskan pola belajar aktif dan memberi siswa kesempatan rutin untuk berbicara, bertanya, serta berbagi pengalaman. Relawan pun perlu didukung agar mampu menyesuaikan materi dengan kebutuhan kelas. Kesimpulannya, kekuatan program AIESEC bukan hanya pada siapa yang datang mengajar, tetapi pada ruang belajar dua arah yang mereka bangun—ruang yang membuat bahasa menjadi jembatan, bukan sekadar mata pelajaran.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!