Sertifikasi asesor menjawab kebutuhan tenaga PLTS
Asesor PLTS adalah tenaga yang menilai apakah keterampilan seseorang di bidang pembangkit listrik tenaga surya telah memenuhi standar kompetensi kerja yang ditetapkan. Karena itu, ketersediaan asesor yang cakap ikut menentukan mutu dan jangkauan sertifikasi bagi pekerja sektor ini. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memfasilitasi sertifikasi kompetensi teknis bagi 60 calon asesor dari 18 lembaga pendidikan dan pelatihan PLTS pada 29–31 Oktober 2026. Langkah ini terkait dengan target pembangunan PLTS berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Skala target tersebut menuntut persiapan tenaga kerja sekaligus perangkat untuk menguji dan mengakui keahlian mereka. Tanpa asesor yang memadai, sertifikasi berisiko menjadi hambatan, bukan jembatan, antara pelatihan dan kebutuhan industri. Inilah alasan sertifikasi asesor PLTS layak dipandang sebagai bagian dari infrastruktur transisi energi, bukan sekadar agenda pelatihan.

Keterampilan yang diuji harus mencerminkan pekerjaan nyata
Kebutuhan tenaga PLTS tidak berhenti pada pemasangan panel. Pembangunan pembangkit skala besar membutuhkan pekerja untuk perencanaan, pemasangan, pembangunan, pemeriksaan, pengujian, pengoperasian, hingga pemeliharaan. Artinya, pelatihan SDM PLTS dan proses penilaian harus mencakup pekerjaan yang beragam, bukan hanya keterampilan instalasi. Sertifikasi calon asesor berlangsung di tiga lokasi dengan masing-masing 20 peserta. Skemanya meliputi Pelaksana Pemasangan dan Pembangunan PLTS Atap di SMKN 1 Garut, Inspektur Muda Pemeriksaan dan Pengujian PLTS di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, serta Pelaksana Senior Pemeliharaan PLTS di BBPVP Serang. Pembagian itu merupakan pendekatan yang tepat: kompetensi energi surya dibangun melalui spesialisasi yang sesuai dengan tugas di lapangan. Namun, hasilnya akan bergantung pada apakah standar penilaian terus mengikuti kebutuhan pekerjaan dan perkembangan proyek, bukan hanya terpenuhi saat ujian.

Kolaborasi perlu berujung pada akses sertifikasi
Sertifikasi dilaksanakan LSP Energi Terbarukan melalui program Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Kerja BNSP. Kepala Sekretariat BNSP Moh. Amir Syarifuddin menyebut kegiatan tersebut bagian dari upaya memperkuat ekosistem sertifikasi SDM PLTS. Kolaborasi Kemnaker dan BNSP menjadi penting karena lembaga sertifikasi membutuhkan dukungan sekolah, perguruan tinggi, balai vokasi, asosiasi profesi, lembaga riset, regulator, dan industri. Sebanyak 18 lembaga peserta berasal dari balai pelatihan vokasi, perguruan tinggi, dan sekolah menengah. Pesertanya terdiri atas dosen, instruktur, dan guru. Setelah kompetensi teknis terverifikasi, mereka masih harus memenuhi persyaratan yang berlaku untuk menjadi asesor kompetensi; kemudian, mereka berpotensi mendukung layanan sertifikasi di lembaga masing-masing. Bagi pekerja dan masyarakat, ukuran keberhasilan program ini bukan jumlah peserta semata. Kemnaker berharap ketersediaan LSP dan asesor yang lebih luas memudahkan akses ke uji kompetensi PLTS serta pengakuan atas keahlian. Itu manfaat konkret yang dapat menghubungkan pelatihan dengan peluang kerja.
Langkah awal yang harus diikuti perluasan layanan
Sertifikasi 60 calon asesor merupakan langkah awal yang relevan untuk mendukung target PLTS 100 GWp, tetapi belum dengan sendirinya menjamin tersedianya tenaga kompeten dalam jumlah yang dibutuhkan. Para peserta perlu menuntaskan persyaratan lanjutan, sementara lembaga mereka harus mampu menyediakan uji kompetensi yang terjangkau, konsisten, dan sesuai standar. Ukuran kemajuan berikutnya semestinya terlihat pada bertambahnya asesor yang memenuhi kualifikasi dan akses sertifikasi yang benar-benar terbuka bagi pekerja. Jika sinergi Kemnaker, BNSP, LSP, lembaga pendidikan, dan industri berlanjut, sertifikasi dapat membantu memastikan keahlian pekerja diakui dan sesuai kebutuhan sektor energi terbarukan. Kesimpulannya, pengembangan PLTS memerlukan lebih dari perangkat dan proyek pembangkit: ekosistem pengujian kompetensi juga harus tumbuh seiring. Menyiapkan asesor yang mumpuni adalah investasi penting agar ambisi 100 GWp ditopang tenaga kerja yang keterampilannya dapat diverifikasi.






