Resistensi Insulin? Ini Cara Gula Berlebihan Merusak Tubuhmu

sumber gambar: Daniel Kraus via unsplash
Pernahkah kita merasa sulit sekali menolak segelas es kopi susu kekinian atau makanan penutup yang manis legit? Wajar, lidah kita memang akrab dengan rasa manis. Sayangnya, di balik kesenangan sesaat itu, tersimpan risiko kesehatan yang serius: Diabetes Tipe 2.
Dahulu, penyakit ini identik dengan orang lanjut usia. Namun, kini kasus diabetes usia muda semakin meningkat drastis di Indonesia. Lantas, seberapa besar peran asupan gula berlebih dalam memicu penyakit kronis ini? Mari kita bedah bersama mekanismenya.
Glukosa, Insulin, dan Resistensi: Sebuah Drama di Dalam Sel
Di dalam tubuh kita, ada organ kecil bernama Pankreas yang bekerja keras memproduksi hormon bernama insulin. Insulin ini bertugas layaknya kunci yang membuka pintu sel agar glukosa (gula dari makanan) bisa masuk dan diubah menjadi energi.
sumber gambar: isens usa via unsplash
Masalah muncul ketika kita terlalu sering dan terlalu banyak mengonsumsi gula tambahan.
-
Beban Kerja Berlebihan: Saat asupan gula (terutama gula pasir, sirup jagung, dan minuman manis) membanjiri darah, Pankreas dipaksa memproduksi insulin dalam jumlah besar secara terus-menerus.
-
Sel "Kelelahan" dan "Membangkang": Paparan insulin yang tinggi dan konstan membuat sel-sel tubuh menjadi "kebal" atau kurang sensitif terhadap insulin. Kondisi ini yang disebut resistensi insulin.
-
Gula Menumpuk di Darah: Karena kuncinya (insulin) tidak lagi berfungsi, pintu sel tetap tertutup. Akibatnya, glukosa menumpuk di aliran darah, memicu kondisi gula darah tinggi kronis.
-
Lelah dan Rusak: Jika kondisi ini terus berlanjut, Pankreas akan menjadi lelah dan fungsinya memburuk (defisiensi insulin). Gabungan antara resistensi dan penurunan fungsi inilah yang secara bertahap menyebabkan diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 atau yang sering disebut kencing manis.
Singkatnya, gula berlebihan memang bukan satu-satunya penyebab, tetapi adalah faktor utama yang mempercepat dan memperparah munculnya resistensi insulin, biang keladi utama diabetes tipe 2.
Waspada Gula Tersembunyi di Makanan dan Minuman Harian
Ancaman terbesar saat ini datang dari gula tersembunyi dalam makanan dan minuman olahan. Contohnya:
-
Minuman kemasan (soda, teh botolan, boba).
-
Saus dan dressing makanan.
-
Sereal sarapan dan roti tawar.
Survei Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 bahkan menunjukkan bahwa lebih dari 60% masyarakat Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali sehari, jauh melebihi batas aman yang dianjurkan.
Batas Aman Gula Harian Menurut Ahli Kesehatan
sumber gambar: Mikhail Nilov via pexels
Agar terhindar dari bahaya lonjakan gula darah, kita perlu menerapkan batasan konsumsi gula tambahan.
Menurut rekomendasi dari Kementerian Kesehatan, batas aman konsumsi gula harian bagi orang dewasa adalah tidak lebih dari 50 gram atau setara dengan 4 sendok makan gula pasir per hari. (Sumber: Kemenkes RI)
Batasan ini mencakup semua jenis gula tambahan, mulai dari yang ditaburkan di kopi, hingga yang tersembunyi dalam satu botol minuman kemasan.
Langkah Kecil untuk Cegah Diabetes
Pencegahan diabetes Tipe 2 bisa dimulai dari perubahan kebiasaan sehari-hari.
-
Jeli Membaca Label: Biasakan memeriksa kandungan gula pada label nutrisi minuman dan makanan kemasan.
-
Ganti Kebiasaan Minum: Jika tidak bisa lepas dari manis, coba ganti minuman manis dengan air putih, teh tawar, atau air infused buah tanpa gula.
-
Tingkatkan Aktivitas Fisik: Olahraga teratur sangat efektif membantu sel tubuh kembali sensitif terhadap insulin.
-
Perhatikan Berat Badan: Menjaga berat badan ideal adalah kunci untuk mengurangi risiko resistensi insulin.
Mengurangi asupan gula berlebihan adalah investasi terbaik untuk kesehatan jangka panjang. Mari kita jaga diri dari manisnya bahaya!





