Literasi membutuhkan lebih dari buku
Literasi anak Papua adalah kemampuan membaca dan belajar yang tumbuh ketika anak memiliki akses pada bacaan bermutu, kebutuhan sekolah yang mendukung, serta ruang aman untuk mengembangkan rasa ingin tahu. Karena itu, dua inisiatif yang hadir di Papua patut dilihat bukan sebagai kegiatan berbagi buku semata, melainkan sebagai upaya membangun lingkungan belajar.
Wahana Visi Indonesia (WVI) meluncurkan kembali kampanye Baca Tanpa Batas pada 1 November 2026 untuk menggalang dukungan bagi lebih dari 5.000 anak Papua. Kampanye ini menargetkan peningkatan kualitas pendidikan melalui alat tulis sekolah, selimut, dan paket peralatan bekal sekolah. Langkah tersebut berangkat dari tantangan nyata: penelitian WVI pada 2025 di Biak, Sentani, Sarmi, dan Pegunungan Tengah mencatat tingkat literasi siswa kelas tiga SD hanya 32 persen sebelum intervensi pendidikan komprehensif.
Angka itu menunjukkan mengapa bantuan harus menjawab kondisi belajar sehari-hari, bukan hanya menambah materi pelajaran. WVI juga menilai kebutuhan dasar yang membuat anak nyaman belajar kerap luput dari perhatian, padahal sekolah, guru, dan buku pelajaran saja belum cukup.
Baca Tanpa Batas menghubungkan dukungan dengan kebutuhan
Baca Tanpa Batas menawarkan pendekatan yang lebih luas daripada pembagian perlengkapan. Program ini mencakup motor pustaka, rumah baca, sudut baca, perpustakaan digital, serta buku cerita anak. Ragam dukungan tersebut penting karena akses bacaan dan sarana belajar tidak selalu tersedia dekat dengan tempat tinggal anak.
Bagi keluarga di desa terpencil, perlengkapan sekolah pun bisa menjadi kendala. Mama Siska dari Sentani mengatakan cucunya, Tina, senang membaca, tetapi jarak dari kota menyulitkan keluarga memperoleh alat tulis; bantuan paket literasi, ujarnya, akan sangat membantu. Kesaksian ini menegaskan bahwa akses literasi bukan semata soal minat anak: ketersediaan barang dan fasilitas ikut menentukan apakah minat itu dapat berkembang.
WVI telah mendampingi anak-anak Papua selama lebih dari empat tahun untuk memperluas akses literasi, dan kampanye ini terbuka bagi dukungan masyarakat. Keterlibatan publik sebaiknya diarahkan pada kebutuhan yang berkelanjutan, agar dukungan tidak berhenti pada pembagian barang, tetapi ikut membentuk ruang belajar yang aman dan nyaman.
Taman baca Yapsi memberi ruang untuk tumbuh
Di Kampung Ongan Jaya, Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura, Taman Baca Masyarakat Seribu Mimpi diresmikan pada 23 Oktober 2026. Inisiatif Tim 9 Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Bandung (TEP ITB) menghadirkan lebih dari 4.000 buku dan melibatkan pemuda setempat sebagai pengelola. Taman baca Yapsi menyediakan tempat untuk membaca, belajar, dan bermain bersama, memperluas pilihan kegiatan anak di luar sekolah.
Bagi siswa kelas VIII Fransiskus Moa, tempat itu nyaman untuk membaca dan bermain bersama teman-temannya. Suwarti, guru PAUD yang tempat mengajarnya berdampingan dengan taman baca, juga menyebut ruang tersebut memberi anak-anak Yapsi wadah bukan hanya untuk bermain, tetapi juga belajar. Manfaat seperti ini memperlihatkan bahwa buku untuk anak akan lebih bermakna ketika tersedia dalam ruang yang ramah dan dapat dikunjungi.
Keterlibatan warga menjadi kekuatan sekaligus syarat keberlanjutan. TEP ITB melibatkan pemuda setempat sebagai pengurus dan bersama Relawan Literasi Masyarakat Kabupaten Jayapura telah mengajukan pendaftaran TBM ke Perpustakaan Nasional untuk memperkuat kelembagaannya.

Akses harus diikuti keberlanjutan
Kedua inisiatif ini saling melengkapi: Baca Tanpa Batas menggalang dukungan bagi kebutuhan belajar dan berbagai saluran bacaan, sedangkan TBM Seribu Mimpi menghadirkan pusat kegiatan yang dikelola bersama pemuda setempat. Keduanya mengakui bahwa meningkatkan literasi anak Papua menuntut lebih dari satu solusi.
Tantangan berikutnya adalah menjaga layanan tetap hidup setelah kampanye atau peresmian berlalu. Dukungan masyarakat untuk Baca Tanpa Batas dapat membantu menghadirkan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi anak. Di Yapsi, pengelolaan oleh warga serta pengajuan pendaftaran ke Perpustakaan Nasional menjadi langkah menuju keberlanjutan taman baca.
Kesimpulannya, menambah buku adalah awal yang penting, tetapi dampak jangka panjang bergantung pada akses yang konsisten, kebutuhan belajar yang terpenuhi, dan keterlibatan masyarakat. Ketika ketiganya berjalan bersama, ruang membaca dapat menjadi ruang bagi anak untuk belajar, bermain, dan merawat cita-cita.







