Tiket perempat final diraih lewat ketegangan
Adu penalti dalam sepak bola adalah cara menentukan pemenang ketika laga sistem gugur berakhir imbang, dan Liverpool menggunakannya untuk menyingkirkan Chelsea serta melangkah ke perempat final Piala Liga Inggris. Pertarungan Liverpool vs Chelsea di Anfield berakhir 1-1 selama waktu normal sebelum The Reds menang 6-5 dari titik putih pada Kamis dini hari, 29 Oktober 2026. Hasil ini Carabao Cup memberi Liverpool jalan ke babak delapan besar, tetapi kemenangan itu tak datang dari dominasi yang tuntas. Kedua tim saling mengancam, sementara para penjaga gawang menjaga skor tetap imbang hingga peluit akhir. Liverpool pantas merayakan kelolosan, namun drama tersebut juga memperlihatkan betapa tipis jarak antara melaju dan tersingkir dalam kompetisi gugur.

Dua penalti membentuk skor babak pertama
Chelsea lebih dulu unggul pada menit ke-40 ketika Morgan Rogers menuntaskan penalti setelah Ryan Gravenberch melanggar Moises Caicedo di kotak terlarang. Liverpool tak membiarkan ketertinggalan itu bertahan lama. Tiga menit kemudian, wasit menunjuk titik putih setelah Wesley Fofana melakukan handball saat berusaha menghalau bola dari situasi sepak pojok. Cody Gakpo menjalankan tugasnya dengan baik dan mengarahkan bola ke sudut bawah gawang Mike Penders. Skor menjadi 1-1, sekaligus menetapkan pola laga yang keras dan rapat: setiap kesalahan berpotensi berujung mahal. Kedua gol lahir dari penalti, bukan rangkaian serangan terbuka yang berhasil dituntaskan. Itu membuat babak kedua terasa menentukan, tetapi tak satu pun tim mampu mengubah peluang menjadi gol tambahan.
Peluang datang, tetapi tak ada gol penentu
Liverpool berusaha mengambil kendali setelah jeda. Ronald Araujo mendapat peluang lewat sundulan, tetapi Penders menepisnya; Florian Wirtz juga nyaris mencetak gol sebelum upayanya diblok Levi Colwill. Chelsea membalas lewat ancaman Morgan Rogers dan Bradley Barcola, sementara Giorgi Mamardashvili menggagalkan kesempatan Marco Palestra. Penampilan kedua kiper menjadi alasan penting mengapa skor tak berubah, tetapi bagi Liverpool, kegagalan mengunci laga dalam waktu normal menambah risiko yang sebenarnya bisa dihindari. Akhirnya, adu penalti Liverpool menjadi penentu. Rangkaian eksekusi berlangsung menegangkan hingga tendangan Wesley Fofana melambung di atas mistar dan memastikan kemenangan Liverpool 6-5. Kemenangan ini diraih dengan ketahanan mental, meski The Reds juga harus menerima bahwa peluang untuk menyelesaikan pertandingan lebih awal telah berlalu.
Liverpool melaju, Chelsea tersingkir
Kelolosan ini membawa Liverpool ke perempat final Piala Liga Inggris 2026/27, sedangkan Chelsea harus mengakhiri perjalanan mereka di kompetisi tersebut. Bagi Liverpool, hasilnya penting bukan hanya karena tiket babak berikutnya, tetapi juga karena mereka melewati ujian langsung dalam laga yang menuntut ketenangan sampai eksekusi terakhir. Namun, kemenangan adu penalti bukan alasan untuk mengabaikan pekerjaan yang masih perlu dibenahi: peluang-peluang terbuka belum cukup untuk menghasilkan gol kedua. Chelsea, sebaliknya, pulang dengan penyesalan atas kegagalan Fofana, meski mampu membawa pertandingan hingga penentuan dari titik putih. Kesimpulannya, Liverpool mendapatkan hasil yang dibutuhkan dan tetap bertahan dalam perebutan trofi, tetapi cara mereka menang mengingatkan bahwa kelolosan berikutnya akan menuntut penyelesaian peluang yang lebih tajam.






