Tiket perempat final diraih dengan susah payah
Adu penalti Carabao Cup adalah penentu laga gugur ketika skor tetap imbang setelah waktu normal, dan duel Manchester City kontra Brighton menjadi contoh betapa satu penyelamatan bisa mengubah nasib sebuah pertandingan. City lolos ke perempat final setelah menang 4-3 dalam adu penalti, menyusul hasil imbang 2-2 di Stadion Etihad pada Kamis, 29 Oktober 2026. Namun, kemenangan ini lebih pantas disebut hasil perjuangan ketimbang penampilan yang meyakinkan. City dua kali tertinggal dan harus mengejar skor melalui gol Mateo Kovacic serta Vitor Reis. Kelolosan memang penting, tetapi cara mereka mendapatkannya memberi peringatan: rotasi besar belum membuat permainan tim berjalan mulus, terutama dalam membangun peluang.

Rulli mengubah tekanan menjadi kemenangan
Pahlawan malam itu adalah Gerónimo Rulli, kiper pelapis yang tampil ketika City paling membutuhkannya. Ia menggagalkan tendangan Yasin Ayari dan Lewis Dunk secara beruntun, membuat kegagalan Kovacic dari titik putih tidak berujung pada tersingkirnya tuan rumah. Dua tepisan tersebut bukan sekadar momen dramatis; itulah pembeda nyata dalam laga yang sepanjang 90 menit lebih sering membuat City bereaksi terhadap ancaman Brighton. Rulli memberi City jalan keluar saat permainan terbuka tak cukup untuk memastikan kemenangan. Penampilannya juga menegaskan nilai penting kedalaman skuad: pemain pelapis bisa menjadi penentu ketika laga berujung pada detail terkecil. Tanpa Rulli, kelolosan City sangat mungkin berubah menjadi malam yang mengecewakan.

Cherki bersinar, tetapi masalah peluang tetap ada
Di antara pemain City, Rayan Cherki menjadi penggerak serangan paling menonjol dan pantas mendapat sorotan dalam pembahasan rating Rayan Cherki. Ia mencatat enam tembakan, menciptakan empat peluang, serta mengirim 23 operan di sepertiga akhir lapangan. Kerja samanya dengan Phil Foden memberi City kombinasi yang menjanjikan, sementara tendangan bebas Cherki ikut berperan dalam gol penyama kedudukan Vitor Reis. Namun, kreativitas individu itu belum cukup menutupi masalah kolektif. Brighton lebih tajam dan lebih sering mengancam: tim tamu mencatat xG 2,06 berbanding 0,87 milik City, serta unggul dalam tembakan, 17-13, dan tembakan tepat sasaran, 6-3. Angka itu menunjukkan bahwa kemenangan City tidak identik dengan kendali permainan.
Kelolosan penting, pekerjaan rumah masih besar
City patut merayakan tiket ke delapan besar, tetapi hasil Manchester City Brighton ini tidak boleh menutupi celah yang terlihat jelas. Brighton mampu mengeksploitasi pertahanan tuan rumah dan menciptakan lebih banyak peluang, sementara City masih kesulitan menghasilkan ancaman yang sebanding. Pergantian sembilan pemain dari susunan saat menghadapi Aston Villa memberi kesempatan kepada pemain pelapis, tetapi juga membuat efektivitas tim belum konsisten. Cherki dan Foden menawarkan alasan untuk optimistis; Rulli memberi bukti bahwa kedalaman skuad bisa menyelamatkan tim. Namun, jika City ingin melangkah lebih jauh, mereka perlu mengubah momen-momen individual itu menjadi permainan yang lebih teratur dan produktif. Kesimpulannya tegas: Rulli mengantar City lolos, Cherki memberi kilasan kualitas, tetapi performa tim masih menuntut perbaikan.






