Air dan Irigasi: Tulang Punggung Baru Pertanian Ambon
Proyek irigasi pertanian Ambon berbasis perpipaan adalah bentuk investasi infrastruktur air desa yang dirancang untuk memastikan ketersediaan air berkelanjutan, sehingga petani lokal dapat mengembangkan budidaya padi gogo dan komoditas lain secara lebih produktif, tahan musim kemarau, dan tidak lagi terpaku pada pola tanam tradisional yang rawan gagal panen. Di balik istilah teknis itu, pesan utamanya jelas: tanpa air yang terjamin, semua program peningkatan produksi dan ketahanan pangan hanyalah slogan. Karena itu, bantuan pemerintah yang menyasar sistem irigasi dan sumber air layak pakai patut dibaca sebagai koreksi atas kelalaian lama terhadap kebutuhan paling dasar petani di kawasan terpencil seperti Pulau Ambon.

Rp97 Juta untuk Padi Gogo: Langkah Kecil, Dampak Panjang
Ketika Kelompok Tani Waiyomar di Dusun Seri, Negeri Urimesing, menerima bantuan Rp97 juta dari Kementerian Pertanian untuk proyek irigasi perpipaan, pemerintah sebenarnya sedang menguji satu tesis penting: air yang stabil akan mengangkat kualitas budidaya padi gogo dan kesejahteraan petani lokal sekaligus. Dana swakelola itu dipakai untuk memasang pipa dari sumber air menuju lahan perkebunan, disusul pembangunan fondasi bak penampungan yang menjadi jantung distribusi air ke hamparan sawah tadah hujan. Menurut Ketua Poktan Waiyomar, proyek ini muncul sebagai bentuk pengakuan atas keberhasilan demplot padi gogo di kaki Gunung Nona yang menunjukkan hasil panen menggembirakan. Kutipan yang layak dicatat: “Dana tunai dalam bentuk swakelola itu digunakan petani untuk mengatasi kesulitan air pada musim kemarau sekaligus untuk peningkatan produksi pertanian dan kesejahteraan petani.”
Rutong dan Sagu: Bukti Air Menentukan Arah Diversifikasi
Contoh di Negeri Rutong menunjukkan bahwa urusan air bukan hanya soal sawah, tetapi juga masa depan diversifikasi produk pertanian lokal. Di sana, tim pengabdian Jurusan Geologi Universitas Pattimura menggali sumur baru sedalam enam meter untuk menopang produksi pati sagu yang selama ini tersendat oleh terbatasnya sumber air. Sumur itu dilengkapi pompa, sistem perpipaan, dan tangki penampungan 2.500 liter sebagai cadangan air yang lebih terencana. Selain kuantitas, kualitas air ikut diperbaiki melalui filtrasi tiga tahap—filter sedimen 10 mikron, filter 0,3 mikron, dan filter CTO—hingga air tampak jernih, tidak berwarna, dan tidak berbau, dengan pH serta TDS masih dalam batas normal. Program ini dengan gamblang menyatakan bahwa infrastruktur air desa adalah prasyarat mutlak jika Ambon ingin mengelola potensi sagu secara berkelanjutan, bukan hanya sebagai komoditas tradisional sesekali panen.

Ketahanan Pangan Dimulai dari Pipa dan Sumur
Dua kisah—budidaya padi gogo di Urimesing dan pengolahan sagu di Rutong—bertemu pada satu titik: ketersediaan air adalah faktor kritis bagi keberlanjutan produksi pertanian di Ambon. Ketika irigasi pertanian Ambon dibangun lewat pipa, sumur baru, tangki, dan sistem filtrasi, pemerintah menunjukkan komitmen yang lebih konkret terhadap ketahanan pangan di daerah terpencil, jauh lebih kuat daripada sekadar program pelatihan sesaat. Namun bantuan petani lokal semacam ini hanya akan bermakna jika diikuti pemeliharaan, pengelolaan kelembagaan kelompok tani, dan perluasan lahan produktif. Rencana penanaman padi gogo di lahan 3–5 hektare setelah proyek rampung adalah start yang baik, bukan garis finish. Kesimpulannya tegas: masa depan pangan Ambon tidak ditentukan oleh slogan swasembada, tetapi oleh seberapa serius kita membangun dan menjaga setiap pipa, sumur, dan filter air di desa.






