Tiga warna untuk membaca gejala
Kabut asap karhutla adalah campuran polutan dari kebakaran hutan dan lahan yang dapat mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan, sehingga gejalanya perlu dinilai dan ditangani sesuai tingkat keparahan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membagikan panduan tiga indikator berwarna—Hijau, Kuning, dan Merah—untuk membantu masyarakat menentukan langkah saat terpapar asap. Panduan ini lebih berguna daripada menebak-nebak atau menganggap semua batuk sebagai keluhan sepele. Respons tubuh menjadi petunjuk penting bagi siapa pun di wilayah terdampak, termasuk warga dan relawan. Budi menyampaikan panduan tersebut melalui unggahan media sosial yang dikutip pada Minggu, 25 Oktober 2026. Prinsipnya jelas: kenali gejala kabut asap sejak awal dan tingkatkan penanganan ketika keluhan memburuk.

Hijau: keluhan ringan, pulihkan diri
Indikator Hijau menandakan keluhan masih ringan, seperti tenggorokan terasa gatal atau batuk kecil. Pada tahap ini, panduan Menkes menyarankan pemulihan mandiri di rumah tanpa terburu-buru menuju fasilitas kesehatan. Namun, mandiri bukan berarti mengabaikan perubahan kondisi. Kurangi paparan asap sebisa mungkin, perhatikan apakah batuk mereda atau justru bertambah, dan jangan memaksakan aktivitas di udara yang buruk. Langkah ini masuk akal selama gejala tetap ringan; panduan tersebut bukan alasan untuk bertahan di rumah jika tubuh menunjukkan tanda yang lebih serius. Penanganan kabut asap perlu disesuaikan dengan kondisi, bukan sekadar mengikuti warna secara kaku. Jika gejala berkembang atau terasa mengkhawatirkan, cari penilaian tenaga kesehatan alih-alih menunggu sampai napas semakin terganggu.
Kuning dan Merah: jangan menunda pertolongan
Panduan tiga warna menekankan bahwa penanganan harus mengikuti tingkat keparahan, tetapi bahan yang tersedia tidak merinci gejala khusus untuk kategori Kuning dan Merah. Karena itu, jangan mengarang batas gejala atau menunggu sampai kondisi mencapai tahap berat. Budi mengingatkan agar masyarakat tidak menanti sesak napas berat sebelum mencari pertolongan; warga yang terganggu oleh kualitas udara sebaiknya segera memanfaatkan fasilitas kesehatan agar kondisinya diperiksa dan ditangani dengan tepat. Puskesmas atau IGD rumah sakit dapat menjadi tempat untuk meminta penilaian saat keluhan meningkat. Paparan asap karhutla dapat mengganggu sistem pernapasan, sehingga batuk yang memburuk atau kesulitan bernapas patut ditanggapi serius. Risiko kesehatan asap tidak selalu tampak seketika, dan menunda pemeriksaan bukan strategi yang aman.
Oksigen menjadi pengingat, bukan alasan panik
Foto Budi menggunakan bantuan oksigen setelah meninjau lokasi karhutla di Kalimantan menjadi sorotan. Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, ia mengklarifikasi bahwa penggunaan oksigen itu bukan karena sesak napas seperti yang ramai dinarasikan, melainkan untuk memperkenalkan fasilitas bantuan pernapasan. Rumah Oksigen yang dikelola Muhammadiyah Disaster Management Center dan Bus Oksigen milik pemerintah provinsi setempat disiapkan untuk membantu warga serta relawan terdampak polusi udara. Fasilitas tersebut menyediakan ruang beristirahat dengan udara tersaring dan oksigen bagi orang yang membutuhkan. Klarifikasi ini bukan tanda bahwa setiap orang terpapar asap memerlukan oksigen. Namun, sorotan tersebut mengingatkan bahwa paparan asap bukan gangguan ringan yang patut disepelekan. Kurangi paparan, kenali perubahan gejala, dan cari pertolongan sebelum sesak menjadi berat.






