Ketika udara berbahaya melumpuhkan penerbangan
Kabut asap adalah campuran partikel dari kebakaran dan uap air di atmosfer yang mengurangi jarak pandang serta membuat udara berisiko bagi kesehatan. Di Palembang, krisis ini pada Kamis, 22 Oktober 2026, sudah melampaui gangguan pemandangan: jarak pandang di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II hanya 350 meter, sehingga dua penerbangan rute Palembang–Singapura dibatalkan. Scoot TR255 dari Palembang dan TR254 dari Singapura sama-sama berstatus batal. Pembatalan itu memperlihatkan betapa cepat kualitas udara berbahaya berubah menjadi persoalan operasional yang nyata bagi penumpang dan bandara. Pada saat yang sama, pemantauan di kawasan Musi 2 mencatat PM2.5 mencapai 1.036,4 mikrogram per meter kubik pada dini hari dan masih 784,3 mikrogram per meter kubik pukul 08.00 WIB; keduanya berada dalam kategori berbahaya. Istilah penerbangan batal asap bukan lagi kemungkinan abstrak, melainkan dampak langsung dari krisis yang berkepanjangan.
Dampak meluas dari bandara ke kehidupan sehari-hari
Gangguan penerbangan mudah terlihat, tetapi beban kabut asap Palembang juga menumpuk pada aktivitas harian yang lebih sulit dipulihkan. Selama hampir tiga bulan berturut-turut, asap karhutla menyelimuti kota dan mengganggu pendidikan, kegiatan ekonomi, serta kesehatan masyarakat. Di kampus, proses belajar-mengajar dialihkan ke Pembelajaran Jarak Jauh karena jarak pandang terhalang dan paparan udara dianggap membahayakan. Peralihan ini menjaga kegiatan tetap berjalan, tetapi bukan pengganti ideal interaksi di ruang kelas; agenda akademik pun tertunda. Warga yang biasanya berolahraga di pagi hari juga kehilangan ruang aman untuk beraktivitas di luar. Seorang warga, Rasya, melaporkan mata perih, napas sesak, dan tenggorokan kering saat mencoba berolahraga. Keluhan tersebut menunjukkan bahwa krisis ini bukan sekadar soal kenyamanan. Ketika paparan berlangsung berminggu-minggu, pembatasan aktivitas menjadi konsekuensi sehari-hari, sementara kelompok yang harus bepergian atau bekerja di luar menghadapi pilihan yang semakin sulit.
Mengatasi asap berarti menekan sumbernya
Kabut yang menyelimuti kota bukan semata-mata terbentuk di atas Palembang. Berdasarkan titik panas dan arah angin, asap diperkirakan berasal dari wilayah timur Sumatera Selatan, terutama kawasan Muara Padang; angin kemudian membawanya menuju kota. Kelembapan udara yang mencapai 95 persen pada pukul 07.00 WIB turut membentuk kabut air yang bercampur dengan asap dan mempersempit jarak pandang. Karena itu, upaya sementara untuk memperbaiki visibilitas tidak boleh disamakan dengan penyelesaian krisis. Operasi es kering dapat dilakukan setelah pukul 10.00 WIB, dengan dampak pada jarak pandang yang mungkin terlihat sekitar satu jam kemudian, bergantung pada keadaan atmosfer. Namun, manfaatnya terbatas bila titik api tetap memasok asap. Prioritas harus bergeser dari sekadar merespons kabut di kota ke pencegahan dan pemadaman di sumber kebakaran, disertai pengelolaan lahan gambut, edukasi, dan penegakan hukum. Tanpa pengendalian sumber yang konsisten, penerbangan dan kehidupan warga akan terus rentan terganggu.







