Kuliner Sebagai Alasan Utama Wisatawan dan Titik Balik Strategi
Wisata kuliner adalah aktivitas perjalanan yang menjadikan makanan, minuman, dan tradisi memasak setempat sebagai alasan utama kunjungan, sekaligus pintu masuk untuk mengenal sejarah, budaya, dan ekosistem pangan di suatu daerah secara lebih mendalam melalui pengalaman mencicipi hidangan khas, mengunjungi pasar, hingga berinteraksi langsung dengan pelaku kuliner lokal. Data resmi menunjukkan gastronomi pariwisata mancanegara bukan sekadar pelengkap, melainkan magnet utama: 58,34 persen wisatawan yang datang melakukan aktivitas wisata kuliner atau gastronomi. Angka ini seharusnya mengubah cara kita memandang pariwisata; bukan lagi berpusat pada atraksi fisik, tetapi pada destinasi kuliner nusantara sebagai wajah pertama yang menyambut wisatawan. Jika mayoritas wisman sudah datang karena makanan, maka segala strategi Kemenpar wisata yang mengabaikan kuliner berarti menutup mata terhadap mesin pertumbuhan paling menjanjikan.
Wonderful Indonesia Gastronomy: Dari Aset Budaya ke Mesin Target Wisman
Kemenpar sadar bahwa target 16–17 juta kunjungan wisman pada 2026 tidak akan tercapai dengan promosi generik tanpa identitas kuat. Di sinilah wisata kuliner Indonesia diangkat sebagai ikon lewat program Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) yang dirancang untuk memperkuat posisi gastronomi sebagai daya tarik utama. Dengan lebih dari 17 ribu pulau dan ragam kuliner yang berakar pada tradisi lokal, hasil pertanian, dan budaya berabad-abad, kuliner adalah cerita paling otentik yang bisa ditawarkan. WIG mengambil tema "From Local Roots to Global Recognition" dan memusatkan rangkaian utama di Solo dan Yogyakarta pada 26 September–4 Oktober, disertai kegiatan pendukung di kota lain seperti Jakarta, Bali, Semarang, dan Surabaya. Pilihan ini jelas: menjadikan destinasi kuliner nusantara sebagai panggung utama, bukan sekadar acara sampingan, untuk mengubah kekayaan rasa menjadi alasan memilih tujuan liburan.
Kuliner Sebagai Gerbang Memahami Budaya dan Menggerakkan UMKM
Menpar menekankan bahwa gastronomi membuka pintu bagi wisatawan untuk mengenal budaya, tradisi, dan cerita suatu tempat, lalu menumbuhkan keinginan datang ke wilayah tersebut. Ini menunjukkan bahwa wisata kuliner Indonesia bukan hanya soal rasa, tetapi cara paling konkret menghubungkan tamu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat—dari petani, nelayan, produsen, juru masak, hingga keluarga yang menjaga resep turun-temurun. WIG dan berbagai festival kuliner di pusat belanja yang digelar bersama asosiasi pengelola mal dipakai Kemenpar sebagai strategi Kemenpar wisata untuk mengajak wisatawan mengeluarkan lebih banyak dana berbelanja sekaligus menyentuh UMKM secara langsung. Deklarasi bahwa "kuliner bukan saja menarik wisatawan mancanegara untuk datang, tetapi juga langsung mengenai UMKM" adalah pengakuan jujur bahwa dapur lokal kini duduk di garis depan ekonomi wisata.
Tantangan Nyata: Lama Tinggal Pendek dan Belanja yang Belum Maksimal
Meski pasar wisman tumbuh—sekitar 15,39 juta kunjungan pada 2025 dengan kenaikan 10,8 persen dari tahun sebelumnya—angka ini menutupi masalah yang lebih halus namun krusial: wisatawan cepat pulang dan belanjanya belum optimal. Wakil Menpar mengingatkan, "Pekerjaan kita tidak berhenti pada bagaimana mendatangkan wisatawan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan lama tinggal wisatawan. Bagaimana juga agar wisatawan ini belanjanya lebih banyak." Data rata-rata lama menginap tamu di satu provinsi besar hanya sekitar 1,59 malam di hotel berbintang dan 1,32 malam di hotel nonbintang, dengan kenaikan tipis secara tahunan. Jika gastronomi pariwisata mancanegara sudah kuat menarik orang datang, fokus berikutnya harus bergeser ke menciptakan rangkaian pengalaman kuliner yang cukup kaya dan terhubung sehingga wisatawan terdorong menambah malam dan memperluas agenda makan, bukan sekadar singgah sekali lalu pindah kota.
Mengubah Daya Tarik Kuliner Jadi Durasi dan Pengeluaran
Pertanyaan kuncinya sekarang: bagaimana mengubah minat besar pada gastronomi menjadi lama tinggal yang lebih panjang dan pengeluaran lebih besar? Dengan 8,98 juta kunjungan wisman periode Januari–Juli 2026 dan target 16–17 juta kunjungan di ujung tahun, strategi kuliner tidak boleh berhenti di festival dan promosi rasa. Yang dibutuhkan adalah kurasi destinasi kuliner nusantara yang saling terhubung, paket gastronomi lintas kota, dan pengalaman berlapis—belajar memasak, tur pasar, cerita budaya, hingga jejaring UMKM—yang membuat satu kunjungan tidak cukup. Perhelatan seperti JITEX sudah mencoba mempertemukan investor, pelaku wisata, UMKM, dan pasar dalam satu ekosistem. Namun tanpa keberanian menempatkan gastronomi sebagai poros perencanaan, bukan tambahan dekoratif, wisata kuliner berisiko hanya menjadi tren sementara, bukan mesin utama yang menjaga pariwisata tumbuh di tengah tekanan global.






