Dari Foto ke Rasa: Wisata yang Dipandu Lidah
Pengalaman kuliner wisata adalah pola bepergian yang menempatkan makanan, minuman, dan aktivitas seputar kuliner sebagai tujuan utama perjalanan, bukan sekadar pelengkap, dengan cara menjadikan eksplorasi rasa sebagai pintu masuk untuk memahami sejarah, kebiasaan, dan kehidupan sosial masyarakat setempat secara lebih dekat dan autentik.
Pergeseran pola liburan anak muda yang kini lebih suka memburu jajanan lokal di pasar tradisional ketimbang sekadar menandai destinasi populer menegaskan satu hal: lidah sedang mengambil alih kompas wisata. Pada saat yang sama, kategori Food & Drink muncul sebagai kategori Airbnb Experiences dengan pertumbuhan pencarian tercepat, sementara Bali menjadi magnet utama untuk pemesanan pengalaman kuliner. Kombinasi tren akar rumput seperti snackpacking dengan food experiences Airbnb menunjukkan bahwa wisata tidak lagi dipahami sebagai daftar tempat yang dikunjungi, melainkan rangkaian rasa yang dialami. Ini bukan perubahan kecil, tapi pergeseran cara kita memaknai perjalanan itu sendiri.
Snackpacking dan Gen Z: Pasar Tradisional Jadi Panggung Utama
Tren snackpacking—berwisata sambil menjelajahi berbagai jajanan lokal dengan pasar tradisional sebagai panggung utama—lahir dari kejenuhan Gen Z pada wisata instagenic yang datar secara pengalaman. Mereka menginginkan interaksi nyata: obrolan singkat dengan pedagang, hiruk pikuk tawar-menawar, serta aroma masakan yang memenuhi lorong sempit. Bagi mereka, pasar bukan hanya lokasi jual-beli, tetapi ruang hidup yang menyimpan cerita, interaksi sosial, dan identitas kuliner suatu daerah.
Alasannya praktis sekaligus emosional. Dengan modal sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000, wisatawan bisa mencicipi bermacam jajanan lokal tanpa khawatir kantong bolong, menjadikan snackpacking bentuk wisata kuliner yang ramah di kantong. Konten warna-warni kue, ekspresi pedagang, hingga detail proses memasak menjelma materi unggahan di TikTok atau Instagram. Yang penting, setiap gigitan berarti uang yang langsung mengalir ke pelaku UMKM dan pedagang kecil, menggerakkan ekonomi lokal melalui tren gastronomi wisata yang lahir dari bawah.
Food Experiences Airbnb: Bali Jadi Episentrum Rasa
Di sisi lain spektrum, data terbaru menunjukkan kategori Food & Drink menjadi kategori dengan pertumbuhan pencarian tercepat di Airbnb Experiences, dan kini sudah menjadi kategori terpopuler ketiga setelah Nature & Outdoors serta History & Culture. Lebih dari 90% seluruh pemesanan Airbnb Experiences bertema kuliner terpusat di Bali, menjadikan Pulau Dewata episentrum wisata kuliner Bali sekaligus laboratorium tren gastronomi wisata berbasis platform digital.
Pola yang muncul konsisten: wisatawan—domestik maupun mancanegara—mencari food experiences Airbnb untuk mengenal budaya lokal secara lebih autentik, mulai dari belanja di pasar sekitar, mempelajari resep keluarga, hingga memasak bersama di penginapan. Pencarian akomodasi dengan fasilitas dapur meningkat lebih dari 20% dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan kebutuhan untuk menghadirkan kembali cita rasa lokal yang mereka temukan selama perjalanan ke ruang privat mereka. Dalam konteks ini, Bali bukan hanya destinasi pantai, tapi meja makan raksasa yang mengundang dunia untuk duduk dan berbagi cerita.

Autentisitas sebagai Mata Uang Baru Wisata
Baik snackpacking di pasar tradisional maupun tur kuliner terkurasi melalui platform berbagi akomodasi memiliki benang merah: pencarian cara autentik untuk menjelajahi budaya lokal melalui kuliner. Wisatawan tidak puas dengan daftar rekomendasi tempat makan; mereka ingin tahu siapa yang memasak, dari mana bahan berasal, dan cerita apa yang menyertai resep tersebut. Karena itu, ulasan pengalaman kuliner dipenuhi kata kunci seperti “autentik”, “tradisional”, “interaktif”, “lokal”, dan “kekeluargaan”.
Menurut pimpinan Airbnb untuk kawasan Asia Tenggara & India, wisatawan saat ini terdorong mencari pengalaman yang membantu mereka terhubung lebih dalam dengan destinasi, dan kuliner menjadi salah satu cara paling bermakna untuk mewujudkannya. Dari jamuan kurasi chef hingga kunjungan ke pasar tradisional yang direkomendasikan figur seperti Reynold Poernomo, pola yang terbentuk jelas: meja makan, dapur, dan bahkan kios kaki lima menjadi ruang dialog lintas budaya yang jauh lebih hidup dibanding lobi hotel atau pusat perbelanjaan.
Peluang Ekonomi: Dari Dapur Rumah ke Peta Dunia
Di balik euforia pengalaman kuliner wisata, tersimpan peluang ekonomi yang strategis bagi komunitas lokal dan pengusaha kuliner kecil. Fenomena snackpacking terbukti memberi angin segar bagi pasar tradisional, memperkuat fungsinya sebagai destinasi wisata budaya sekaligus menggerakkan ekonomi pelaku UMKM dan pedagang kuliner daerah. Setiap piring yang laku bukan hanya transaksi, tetapi juga validasi bahwa resep rumahan dan jajanan pasar punya nilai jual di mata generasi baru wisatawan.
Di ranah digital, food experiences Airbnb menghubungkan host lokal, petani, dan juru masak rumahan dengan pasar wisata yang jauh lebih luas, sambil menjaga struktur ekonomi yang relatif lebih merata karena pengalaman berskala kecil dan personal. Momen memasak bersama, tur kebun organik, atau sesi mencicipi menu berlapis bukan hanya menciptakan kenangan, tetapi juga menyalurkan pendapatan langsung ke masyarakat lokal. Jika dikelola dengan serius—dari standar kebersihan hingga storytelling—dapur rumah, warung, dan kebun bisa naik kelas menjadi etalase kuliner yang masuk peta dunia tanpa harus mengorbankan keaslian.





