Wisata Berkelanjutan Bukan Pilihan Tambahan, Melainkan Syarat Investasi
Investasi infrastruktur wisata berkelanjutan adalah pendekatan pembangunan destinasi yang sejak awal menyatukan tiga tujuan: menarik wisatawan, menjaga kelestarian lingkungan, dan mengalirkan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat lokal dan UMKM di sekitarnya. Dalam kerangka ini, setiap proyek wisata dinilai bukan hanya dari besarnya nilai investasi atau jumlah kunjungan, tetapi dari seberapa jauh ia menyerap tenaga kerja lokal, memulihkan ekosistem, serta memperkuat usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Konsep ini semakin relevan ketika tekanan terhadap alam meningkat, namun harapan terhadap pertumbuhan pariwisata juga terus menguat, sehingga keseimbangan antara pertumbuhan dan pelestarian menjadi inti kebijakan wisata berkelanjutan Indonesia.
Dua proyek terbaru menegaskan arah baru ini: rencana kereta gantung Prambanan bernilai Rp200 miliar yang didorong untuk memberi dampak ekonomi luas bagi warga Sleman, serta program ekowisata Puncak di Megamendung yang mengawalinya dengan penanaman 120.000 pohon sebagai pijakan wisata alam yang lebih bertanggung jawab. Keduanya bukan sekadar atraksi, melainkan eksperimen tentang bagaimana investasi infrastruktur wisata dapat menjadi kendaraan pemerataan manfaat.

Kereta Gantung Prambanan: Ikon Baru Atau Sekadar Proyek Mahal?
Kereta gantung Prambanan dengan investasi Rp200 miliar diposisikan sebagai instrumen pendorong ekonomi, bukan sekadar wahana yang menggoda wisatawan dengan panorama candi dari ketinggian. Ketua DPRD Sleman, Gustan Ganda, menekankan bahwa investasi ini harus mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah, dengan kajian matang yang tidak hanya berhenti pada aspek lingkungan, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi masyarakat. Ini adalah sinyal bahwa proyek besar pariwisata tidak lagi bisa dilegitimasi hanya dengan argumen “menarik wisatawan.”
Inti perdebatan sejatinya adalah penyerapan tenaga kerja lokal. Gustan secara terang meminta kajian yang mengukur kebutuhan tenaga kerja sejak pembangunan hingga operasi, untuk memastikan potensi tenaga kerja Sleman terserap maksimal. Di sisi lain, proyek ini direncanakan memanfaatkan Tanah Kas Desa Bokoharjo sekitar 7,9 hektare dan Sambirejo sekitar 1 hektare. Artinya, ruang hidup desa terlibat langsung. Tanpa desain manfaat yang jelas bagi warga, kereta gantung Prambanan berisiko menjadi atraksi mewah di atas tanah desa yang tidak mengubah keseharian ekonomi warganya.
Pemberdayaan UMKM: Ujian Sejati Wisata Berkelanjutan di Prambanan
Kekuatan wisata berkelanjutan Indonesia akan sangat ditentukan oleh sejauh mana investasi besar menghidupkan warung kecil, los kuliner, penginapan rakyat, dan usaha kreatif di sekitarnya. DPRD Sleman secara eksplisit berharap kereta gantung tidak berhenti sebagai infrastruktur baru, tetapi menciptakan efek berganda melalui penyerapan tenaga kerja dan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. Harapan yang diutarakan lugas: wisatawan yang menaiki kereta gantung juga menginap, makan, dan berbelanja di UMK Sleman, bukan hanya menuntaskan pengalaman di dalam area proyek.
Kunci keberhasilan akan terletak pada desain rantai nilai: siapa yang mendapatkan konsesi kios, siapa yang mengelola parkir, siapa yang memasok makanan dan suvenir. Lurah Bokoharjo bahkan meminta warga sekitar menjadi prioritas rekrutmen agar dampak ekonomi langsung dirasakan. Jika permintaan ini diabaikan, narasi pemberdayaan UMKM pariwisata akan kosong. Sebaliknya, bila warga desa menjadi pelaku utama, kereta gantung Prambanan berpeluang menjadi model investasi infrastruktur wisata yang menumbuhkan UMKM sambil menjaga legitimasi sosial proyek di mata masyarakat.
Ekowisata Puncak Bogor: Menanam 120.000 Pohon, Menanam Model Bisnis Baru
Di Puncak, Megamendung memilih jalan berbeda: sebelum mengejar angka kunjungan, pengembang Eiger Nature memulai dengan memulihkan ekosistem. Sebanyak 120.000 pohon ditanam untuk memulihkan kawasan sekaligus memperkuat konsep ekowisata yang akan dikembangkan di sana. Di luar itu, sekitar 8 juta semak dan tanaman penutup tanah juga ditanam untuk memperkuat kembali ekosistem dan menjaga kualitas lingkungan di tengah tekanan wisata di kawasan tersebut. Ini bukan gestur kosmetik; jumlah ini menunjukkan skala keseriusan pemulihan.
Konsep ekowisata Puncak Bogor yang diusung Eiger Nature bertumpu pada tiga unsur: ekologi, etnologi, dan ekonomi. Pendekatan ini menempatkan konservasi alam, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat lokal sebagai tiga kaki meja yang sama penting. Seperti dinyatakan Direktur Eiger Nature, ekowisata harus membangun hubungan yang lebih baik antara manusia, alam, budaya, dan masyarakat, sambil memberi manfaat berkelanjutan. Target beroperasi pada September 2026 setelah pengembangan lebih dari empat tahun memberi sinyal bahwa mereka memandang wisata berkelanjutan sebagai proses jangka panjang, bukan proyek instan yang selesai ketika atraksi fisik berdiri.
Dari Lapangan Kerja Hingga Pengalaman Wisata: Strategi Manfaat Ganda
Baik kereta gantung Prambanan maupun Eiger Nature di Puncak sama‑sama memadukan ambisi wisata dengan agenda sosial ekonomi. Di Sleman, proyek kereta gantung diharapkan menyerap tenaga kerja lokal sejak pembangunan hingga operasi, sekaligus menggerakkan pelaku UMK di sekitar kawasan wisata Prambanan. Sementara di Megamendung, sekitar 500 pekerja sudah terlibat dalam pengembangan, dengan sekitar 300 di antaranya merupakan masyarakat lokal, dan jumlah tersebut diproyeksikan meningkat hingga sekitar 1.200 lapangan kerja saat destinasi beroperasi penuh.
Namun strategi manfaat ganda tidak berhenti pada lapangan kerja. Eiger Nature menyiapkan aktivitas berbasis alam seperti suspension bridge, tree house and net adventure, cultural walk, nature walk hingga forest adventure, serta pilihan forest camp berupa camping ground, glamping, dan kabin. Dengan pendekatan ini, pengalaman wisata berbayar dibangun di atas komitmen konservasi dan pemberdayaan, bukan sebaliknya. Jika Prambanan mampu meniru logika tersebut—menjadikan UMKM dan warga sebagai aktor utama, bukan pelengkap—maka investasi infrastruktur wisata berpotensi menjadi mesin wisata berkelanjutan Indonesia yang menguntungkan alam dan ekonomi lokal sekaligus.






