TKDN 60 persen: capaian produksi, bukan ukuran mutu
Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) adalah ukuran porsi komponen dan proses produksi suatu produk yang berasal dari dalam negeri, sehingga angka 60 persen menggambarkan kandungan lokal, bukan skor kualitas atau nilai bagi konsumen. Pada 5 November 2026, Wuling menyatakan lima model mobil listrik yang dipasarkan di Indonesia telah mencapai TKDN 60 persen, naik dari kisaran 40 persen sebelumnya. Daftarnya mencakup New BinguoEV, New Cloud EV, Darion EV, Eksion EV, dan Aira EV. Capaian ini layak diperhatikan karena memperlihatkan produksi yang semakin berakar secara lokal. Namun, pembeli sebaiknya tidak membaca persentase itu sebagai bukti bahwa mobil pasti lebih murah, lebih andal, atau lebih sesuai kebutuhan. TKDN memberi konteks tentang asal proses dan komponen; keputusan memilih kendaraan tetap perlu bertumpu pada spesifikasi, penggunaan, dan layanan yang tersedia.
Lima model yang masuk daftar
Kelima mobil listrik Wuling yang disebut mencapai TKDN 60 persen ialah New BinguoEV, New Cloud EV, Darion EV, Eksion EV, dan Aira EV. Penamaan dalam daftar sumber berita lain menggunakan Binguo EV dan Cloud EV, sementara sumber yang merinci lini produk mencantumkan awalan “New” pada dua model tersebut. Perbedaan penulisan itu tidak mengubah pokok pengumuman: kelima model tersebut berada dalam klaim pencapaian kandungan lokal yang sama. Bagi konsumen, daftar ini berguna sebagai penanda bahwa lokalisasi tidak hanya diterapkan pada satu jenis mobil listrik. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci persentase tiap model atau membandingkan isi lokal di antara kelimanya. Karena itu, angka 60 persen sebaiknya dipahami sebagai capaian yang dinyatakan untuk jajaran tersebut, bukan dasar untuk menyimpulkan model mana yang paling baik.

Perakitan baterai dan pemasok lokal mendorong kenaikan
Kenaikan TKDN Wuling dari kisaran 40 persen menjadi 60 persen ditopang kegiatan manufaktur di Cikarang. Fasilitas itu mencakup proses pengelasan, pengecatan, perakitan, dan pemeriksaan kualitas dengan keterlibatan tenaga kerja lokal. Perakitan baterai di dalam negeri juga berkontribusi, termasuk penggunaan komponen lokal untuk pengemasan baterai, pelindung baterai, serta rangkaian kabel. Di luar pabrik, perusahaan bekerja sama dengan puluhan pemasok lokal; nama yang disebut dalam sumber antara lain PT Asahimas Flat Glass, PT Gajah Tunggal Tbk, dan PT GS Battery. Kombinasi proses produksi, perakitan baterai, dan rantai pasok domestik memberi isi konkret pada angka TKDN. Ini lebih bermakna daripada sekadar label, tetapi tetap menjelaskan struktur produksi, bukan hasil pengujian kendaraan atau pengalaman pemilik.
Apa yang patut dipertimbangkan pembeli
Bagi calon pembeli, TKDN Wuling 60 persen memberi alasan untuk mencermati kontribusi produksi lokal, tetapi tidak cukup untuk menentukan pilihan mobil. Angka itu tidak otomatis menetapkan harga jual, biaya kepemilikan, performa, daya tahan, atau keunggulan suatu model atas pesaing. Sumber yang tersedia juga tidak memberikan rincian dampak praktis bagi pengguna, sehingga manfaat langsungnya tidak patut diasumsikan. Wuling menyebut pencapaian tersebut sebagai dorongan untuk meningkatkan kontribusi industri otomotif nasional, termasuk melanjutkan pengembangan produksi dan perakitan baterai secara lokal. Bagi pembeli, sikap paling masuk akal ialah menganggap lokalisasi sebagai konteks tambahan, lalu membandingkan kebutuhan dan informasi kendaraan secara terpisah. Kesimpulannya, capaian lima model ini menunjukkan kemajuan kandungan lokal, tetapi keputusan membeli tetap harus ditentukan oleh kecocokan mobil, bukan persentase TKDN semata.






