Prioritas investasi harus berujung pada nilai tambah
Danantara adalah badan pengelola investasi yang diarahkan untuk membiayai industri berbasis teknologi dan inovasi, dengan tujuan memperkuat kemampuan produksi dalam negeri dan mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Pada 26 Oktober 2026, badan ini memaparkan target investasi industri strategis hingga 2029, dengan ambisi melampaui sasaran awalnya. Besarnya target bukan ukuran keberhasilan; yang lebih penting ialah apakah modal itu membangun kemampuan baru, bukan sekadar menambah proyek. Danantara menetapkan enam kelompok fokus: energi; pertanian, pangan, dan kesehatan; material maju dan semikonduktor; transportasi dan infrastruktur; keuangan dan perbankan; serta kecerdasan buatan, infrastruktur digital, dan telekomunikasi. Pilihan mineral dan semikonduktor Indonesia masuk akal karena cadangan mineral dapat menjadi pijakan industri hilir. Namun, prioritas tersebut hanya bernilai jika menghasilkan produk dan komponen yang lebih maju, bukan memperpanjang ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Teknologi mesti tertanam dalam portofolio
Strategi Danantara akan kuat bila teknologi bukan hiasan dalam proposal investasi, melainkan bagian dari seluruh rantai produksi. CTO Danantara Sigit Puji Santosa menekankan perlunya memperkuat desain, riset dan pengembangan, serta produksi massal agar industri domestik mampu menghasilkan barang bernilai tambah dan bersaing di pasar global. Ini menuntut pilihan proyek yang saling mengisi: pengolahan mineral, material maju, komponen elektronik, hingga semikonduktor. Rencana di sektor energi, pusat data, komputasi awan, kecerdasan buatan, dan pengembangan obat serta vaksin juga menunjukkan bahwa portofolio tidak boleh berhenti pada fasilitas fisik. Dampaknya dapat terasa dalam kehidupan sehari-hari. Bahan baku farmasi yang hampir 94 persen pasokannya masih bergantung pada impor menjadi alasan kuat untuk membangun produksi obat dan vaksin di dalam negeri. Tetapi investasi harus disertai riset, tenaga ahli, dan pemasok lokal agar kapasitas itu bertahan setelah proyek dibangun.

Ujian berikutnya adalah menarik modal swasta
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti berharap Danantara menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka proyek yang memberi sektor swasta kesempatan dan keyakinan untuk ikut berinvestasi. Harapan itu tepat, tetapi tidak otomatis terpenuhi hanya karena badan ini memiliki mandat besar. Danantara perlu memilih proyek dengan tata kelola yang jelas, kelayakan yang teruji, serta pembagian risiko yang dapat dipahami investor. Kerja sama dengan perusahaan swasta juga semestinya memperluas kemampuan industri lokal, bukan sekadar mengundang modal untuk membangun aset. Rencana lima tahunnya mencakup pengembangan kota cerdas dan koridor teknologi yang menghubungkan industri semikonduktor, kendaraan listrik, pertahanan, dan elektronik. Perkiraan penciptaan 2,19 juta pekerjaan menunjukkan besarnya kemungkinan dampak, tetapi angka itu perlu diwujudkan melalui pekerjaan produktif dan keterampilan yang relevan. Kesimpulannya, investasi strategis 2029 hanya akan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional jika Danantara mengubah pendanaan menjadi keahlian, rantai pasok, dan industri yang mampu tumbuh tanpa terus bergantung pada negara.







