Target investasi perlu diukur dari hasil industri
Danantara adalah badan pengelola investasi yang diarahkan untuk membiayai proyek strategis dan memperkuat kapasitas industri, bukan sekadar menempatkan modal pada aset yang sudah ada. Pada 26 Oktober 2026, CTO Danantara Sigit Puji Santosa memaparkan sasaran investasi strategis dalam dua hingga tiga tahun ke depan, dengan cita-cita melampaui target tersebut hingga 2029. Ambisi ini baru berarti jika proyeknya menciptakan kemampuan produksi dan teknologi yang bertahan lama. Danantara menyebut lebih dari 40 proyek industri dalam jalur pengembangan, sementara Sigit juga mengatakan lebih dari 140 inisiatif sedang dikaji untuk kelayakan dan alokasi pendanaan. Kedua angka itu menunjukkan besarnya antrean proyek, bukan jaminan bahwa semuanya akan dibangun. Karena itu, ukuran keberhasilan semestinya bukan banyaknya proposal, melainkan proyek yang lolos kajian, memperoleh mitra, dan benar-benar menambah nilai ekonomi di dalam negeri.

Enam sektor, satu tantangan: naik kelas
Enam sektor prioritas Danantara mencakup energi; pertanian, pangan, dan kesehatan; material maju dan semikonduktor; transportasi dan infrastruktur; keuangan dan perbankan; serta kecerdasan buatan, infrastruktur digital, dan telekomunikasi. Cakupan ini masuk akal karena transformasi industri tidak ditopang pabrik saja: energi, konektivitas, pembiayaan, dan tenaga produksi harus berkembang beriringan. Namun, fokus paling menentukan adalah mineral dan semikonduktor. Kekayaan mineral hanya memberi keunggulan awal; manfaat yang lebih besar datang saat bahan tersebut diolah menjadi material, komponen, subsistem, hingga produk akhir. Pergeseran dari ekstraksi menuju manufaktur maju dapat membuat industri nasional lebih kompleks dan memperluas keterampilan yang dibutuhkan. Itu sebabnya proyek hilirisasi harus dinilai dari teknologi dan kapasitas produksi yang ditinggalkan, bukan hanya volume bahan yang diproses. Tanpa syarat itu, investasi berisiko memperbesar kegiatan industri tanpa mengubah posisi Indonesia dalam rantai nilai.
Modal negara harus membuka ruang bagi swasta
Danantara akan gagal menjadi lokomotif jika hanya menggantikan investor lain; peran yang lebih penting adalah membuka proyek dan memberi sektor swasta alasan untuk ikut menanamkan modal. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menilai Danantara dapat mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi, sekaligus memberi kesempatan serta keyakinan kepada perusahaan swasta untuk berinvestasi bersama. Dampak yang terasa bagi masyarakat bisa muncul ketika investasi menjawab kebutuhan sehari-hari. Bahan baku farmasi impor disebut memenuhi hampir 94 persen pasokan, sehingga penguatan produksi obat dan vaksin dalam negeri berpotensi mengurangi ketergantungan itu. Rencana jangka panjang Danantara juga mencakup pengembangan sepuluh kota cerdas dan koridor teknologi yang menghubungkan industri semikonduktor, kendaraan listrik, pertahanan, dan elektronik. Pada akhirnya, ukuran investasi strategis Indonesia bukan sekadar besarnya rencana, melainkan berapa banyak kemampuan produksi, peluang usaha, dan manfaat publik yang tercipta.







