Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Guru Dibekali Literasi Media dan AI di Era Misinformasi

Guru Dibekali Literasi Media dan AI di Era Misinformasi
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Literasi media guru: dari konsumen informasi menjadi penjaga kebenaran

Literasi media guru adalah kemampuan pendidik untuk memahami cara kerja media, memilah, dan memverifikasi informasi digital, membedakan produk jurnalistik dari konten media sosial, lalu mengajarkannya kepada siswa agar mereka tidak mudah terpengaruh misinformasi di lingkungan sekolah maupun di ruang digital yang mereka hadapi setiap hari. Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Sumenep menggelar Sekolah Melek Media di SDN Kalimook II, Kecamatan Kalianget, pada Sabtu 26 September 2026, diikuti dua perwakilan dari setiap SDN dalam Gugus 02 Kalianget. Ini bukan sekadar pelatihan teknis; ini adalah pernyataan bahwa guru harus naik kelas: dari sekadar pengguna media menjadi penjaga kebenaran di kelas. Di tengah derasnya arus informasi digital, membekali guru dengan literasi media bukan lagi pilihan, melainkan syarat dasar pendidikan yang bertanggung jawab.

Derasnya arus informasi digital dan ancaman misinformasi di sekolah

Arus informasi di ruang digital kini menembus pagar sekolah lebih cepat daripada buku pelajaran masuk kelas. Informasi tanpa sumber jelas, judul bombastis, hingga unggahan yang menyesatkan, dengan mudah mampir ke gawai guru dan siswa. Menurut Ketua SMSI Sumenep, sekolah harus melek informasi dan mampu membedakan informasi dari media arus utama dengan konten yang hanya beredar di media sosial. Tanpa kemampuan verifikasi informasi digital, guru berisiko ikut menyebarkan kabar yang belum tentu benar, sehingga misinformasi sekolah bisa lahir dari orang yang mestinya menjadi rujukan kebenaran. Pelatihan ini secara tegas menempatkan kemampuan memeriksa sumber, memahami konteks, dan memilah jenis informasi sebagai kecakapan utama pendidik di era digital. Guru didorong untuk memeriksa sebelum percaya dan berpikir sebelum menyebarkan, agar ruang belajar tidak berubah menjadi ruang gema hoaks.

Pelatihan literasi AI: AI sebagai alat ajar, bukan pengganti guru

Tema pelatihan “Menggali Lokalitas dan Pemanfaatan AI bagi Guru se-Kecamatan Kalianget” menegaskan satu hal: kecerdasan buatan harus hadir di sekolah sebagai alat ajar, bukan pengganti guru. Dalam Sekolah Melek Media, para jurnalis yang menjadi pemateri mengajak guru memahami proses kerja jurnalistik sekaligus pemanfaatan teknologi AI untuk mendukung pembelajaran. Pelatihan literasi AI ini penting karena banyak guru merasa gagap dihadapkan pada aplikasi dan platform pintar, sementara siswanya sudah akrab dengan berbagai fitur digital. AI dapat membantu guru menyusun bahan ajar, merangkum informasi, hingga mengembangkan tugas menulis siswa, tetapi tanpa literasi media guru yang kuat, AI berpotensi sekadar mempercepat penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Di titik inilah pelatihan di Kalianget mengambil sikap: guru perlu menguasai AI, bukan diatur oleh algoritma yang tidak mereka pahami.

Menguatkan peran guru sebagai penghasil informasi yang bertanggung jawab

Pelatihan ini tidak berhenti pada kemampuan memilah berita; guru didorong menjadi produsen informasi yang bertanggung jawab. Pengawas sekolah wilayah Kalianget, H. Abd. Aziz, menegaskan bahwa guru sebaiknya belajar menulis dan membuat informasi yang baik dari para jurnalis. Keterampilan ini membuka peluang baru: sekolah tidak hanya menunggu diliput, tetapi aktif menulis aktivitas dan prestasi sendiri dengan standar verifikasi informasi digital yang jelas. Di lingkungan misinformasi sekolah, berita resmi dari guru yang terlatih menjadi rujukan saat berbagai versi cerita berseliweran di media sosial. Melalui Sekolah Melek Media, guru ditantang keluar dari pola pasif dan mengelola narasi tentang sekolahnya sendiri, dengan bahasa yang jujur, data yang dapat dipertanggungjawabkan, dan sikap kritis terhadap sumber. Inilah langkah penting menuju ekosistem pendidikan yang komunikatif, transparan, dan lebih tahan terhadap kabar menyesatkan.

Dari kelas di Kalimook II ke budaya literasi informasi di sekolah dasar

Ruang kelas SDN Kalimook II yang menjadi lokasi pelatihan sebenarnya sedang menguji satu gagasan besar: bisakah sekolah dasar menjadi benteng utama literasi informasi di tengah banjir konten digital? SMSI Sumenep berharap budaya literasi informasi berkembang sehingga guru dan siswa tidak hanya menjadi konsumen, tapi pengguna informasi yang kritis, cerdas, dan bertanggung jawab. Jawabannya bergantung pada apakah guru peserta membawa pulang praktik literasi media guru ini ke kelas masing-masing: mulai dari mengajak siswa membedakan berita dan opini, menguji sumber sebelum membagikan, hingga menggunakan AI secara bijak untuk belajar. Di tingkat kebijakan, inisiatif seperti ini patut diperluas, bukan dianggap tambahan. Misinformasi sekolah tidak bisa diatasi dengan imbauan sesaat; ia perlu dihadapi dengan pelatihan berkelanjutan dan komitmen guru untuk menjadikan verifikasi informasi digital sebagai bagian rutin dari proses belajar-mengajar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!