Guru Era Digital: Antara Godaan Kecepatan dan Tugas Menjaga Kedalaman Pikir
Guru era digital adalah pendidik yang bukan hanya menggunakan teknologi dan kecerdasan artifisial dalam proses belajar-mengajar, tetapi juga secara sadar mengarahkan siswa untuk tetap mengembangkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan beretika di tengah arus informasi yang serba cepat dan instan. Di sinilah letak pertaruhan kualitas generasi muda. Jika guru menyerah pada logika serba cepat, kelas akan dipenuhi jawaban instan tanpa proses berpikir mendalam. Namun ketika guru berani menempatkan teknologi sekadar sebagai alat, bukan penentu makna, maka AI dalam pendidikan berubah dari ancaman menjadi peluang untuk memperkaya literasi teknologi sekaligus mempertahankan kedalaman nalar dan karakter siswa.
Peringatan itu mengemuka kuat dalam sambutan Rektor Universitas Muslim Indonesia, Prof. Hambali Thalib, pada Peringatan Bulan Bahasa yang mengangkat tema krisis refleksi di tengah percepatan digital. Ia menolak gagasan bahwa kecerdasan buatan boleh mengambil alih proses berpikir manusia. Menurutnya, teknologi memang memudahkan menulis, berbicara, dan menyebar informasi, tetapi tanpa pengawalan guru, generasi muda akan menjadi generasi yang “cepat bereaksi, tetapi kurang berpikir”. Di titik ini, tugas utama guru era digital bukan sekadar mengoperasikan gawai, melainkan mengembalikan martabat berpikir kritis siswa sebagai inti pendidikan.

AI dalam Pendidikan: Memperluas Literasi, Bukan Mengganti Otak Siswa
Sikap terhadap AI dalam pendidikan sering terjebak pada dua ekstrem: ditolak habis-habisan atau dipuja sebagai solusi semua masalah. Keduanya keliru. Prof. Hambali menegaskan bahwa kecerdasan buatan harus dipakai untuk memperluas literasi, bukan menggantikan proses berpikir manusia. Kalimat kuncinya jelas: “Manfaatkan kecerdasan buatan untuk memperluas literasi, tetapi jangan menyerahkan seluruh proses berpikir kita kepada mesin”. Guru yang membiarkan siswa bergantung penuh pada AI untuk menjawab soal, menulis esai, atau menyusun argumen, sesungguhnya sedang mengikis kemampuan berpikir kritis siswa pelan-pelan. AI boleh membantu menyusun kata, tetapi makna, konteks, dan tanggung jawab tetap harus lahir dari kepala dan hati manusia.
Di sisi lain, menutup akses siswa terhadap AI sama saja menyiapkan mereka menjadi buta teknologi di tengah dunia yang ditentukan algoritma. Rektor UMI justru mendorong pemanfaatan teknologi digital dan AI untuk mendokumentasikan bahasa daerah, mengembangkan karya sastra, dan melestarikan budaya. Artinya, literasi teknologi bukan musuh, melainkan bagian dari literasi baru yang wajib dikuasai. Tugas guru adalah merancang tugas yang memaksa siswa berpikir di atas jawaban AI: membandingkan, mengkritik, memverifikasi, dan mengaitkan dengan nilai kemanusiaan. Tanpa desain seperti ini, kelas akan berubah menjadi ruang tempel-tempel jawaban mesin, bukan ruang dialog intelektual.
Profesionalitas Guru: Menguasai Koding dan AI, Bukan Sekadar Ikut Tren
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengingatkan bahwa profesionalitas guru di era digital menuntut kemampuan adaptasi terhadap teknologi, khususnya kecerdasan artifisial. Pesan ini tidak berhenti pada slogan; ia hadir dalam bentuk program konkret: Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial melalui PGRI Power 2026. Menurut Munafri, penguasaan teknologi oleh guru akan membantu menciptakan kesetaraan pemahaman dengan peserta didik yang hidup dalam ekosistem digital. Di sini, literasi teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari profesionalitas guru, bukan bonus tambahan. Guru yang menolak belajar koding dan AI sedang mempertaruhkan relevansinya di mata siswa.
Namun, menguasai koding dan AI bukan tujuan akhir. Munafri menegaskan bahwa proses belajar-mengajar tetap memerlukan empati, hati, dan jiwa dalam hubungan guru–murid. Teknologi hanya alat untuk membuat pembelajaran lebih efektif dan menarik, bukan pengganti kehadiran manusia. Menurutnya, tantangan guru era digital bukan menghindari teknologi, melainkan menaklukkannya dan menjadikannya sarana yang tepat untuk menghasilkan proses belajar yang baik. Di sinilah garis tegas harus ditarik: profesionalitas guru tidak diukur dari seberapa banyak aplikasi yang ia gunakan, tetapi dari seberapa cerdas ia menempatkan teknologi agar berpikir kritis siswa tetap menjadi pusat.
Menjaga Berpikir Kritis Siswa di Tengah Gelombang AI
Perkembangan teknologi telah mengubah pola komunikasi, akses informasi, dan cara generasi muda belajar. Siswa kini terbiasa dengan jawaban instan, notifikasi beruntun, dan konten singkat. Tanpa intervensi sadar dari guru, kebiasaan ini akan melahirkan generasi yang cepat berbicara dan bereaksi, tetapi malas memeriksa kebenaran informasi. Karena itu, keseimbangan antara adopsi teknologi dan pengembangan berpikir kritis siswa bukan pilihan, melainkan keharusan. Guru perlu merancang aktivitas yang memaksa siswa berhenti sejenak: menganalisis teks, memeriksa sumber, berdiskusi, dan menulis refleksi. AI boleh membantu mengumpulkan data, tetapi kesimpulan harus lahir dari proses dialog dan refleksi di kelas.
Munafri mengingatkan bahwa karakter peserta didik sekarang berbeda dengan generasi sebelumnya; mereka lebih terbuka, berani bertanya, dan menyampaikan pandangan langsung kepada guru. Ini peluang emas untuk melatih berpikir kritis, bukan ancaman terhadap wibawa. Guru yang adaptif akan memanfaatkan keterbukaan ini untuk membangun diskusi yang sehat, bukan mematikan pertanyaan dengan dalih disiplin. Di sisi lain, Prof. Hambali menekankan bahwa bahasa, budaya, dan refleksi harus tetap menjadi penopang cara berpikir generasi muda. Jika guru gagal menjaga keseimbangan ini, AI dalam pendidikan hanya akan mempercepat lahirnya generasi yang pandai berbicara, tetapi miskin nalar.
Ekosistem Pendukung: Kampus, Program Pelatihan, dan Masa Depan Guru
Tantangan guru era digital tidak bisa ditanggung sendirian. Dibutuhkan ekosistem yang memberi ruang belajar berkelanjutan. Rektor UMI menceritakan kunjungan guru yang tergabung dalam MGMP Bahasa Indonesia Sulawesi Selatan yang membutuhkan fasilitas untuk pelatihan dan seminar. Menjawab itu, UMI membuka akses fasilitas kampus—dari aula, laboratorium, hingga gelanggang olahraga di 13 fakultas—untuk kegiatan pendidikan dan pengembangan potensi guru maupun siswa tanpa biaya. Ini langkah penting: profesionalitas guru tidak lahir dari ceramah motivasi, tetapi dari kesempatan nyata untuk belajar, berlatih, dan berkolaborasi. Rencana formalisasi kerja sama dengan salah satu SMA melalui nota kesepahaman di rangkaian Bulan Bahasa menunjukkan bahwa dukungan institusional mulai bergerak ke arah yang tepat.
Di sisi lain, program PGRI Power 2026 yang menargetkan 1 juta guru mahir koding dan AI adalah investasi besar pada kompetensi guru. Munafri berharap program ini dimanfaatkan maksimal untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kompetensi peserta. Namun, keberhasilan program semacam ini akan diukur bukan dari jumlah sertifikat, melainkan dari perubahan nyata di kelas: apakah guru lebih percaya diri menggunakan AI dalam pendidikan, apakah literasi teknologi meningkat, dan yang paling penting, apakah berpikir kritis siswa makin terasah. Masa depan pendidikan akan ditentukan oleh keberanian guru untuk melampaui AI: menguasainya, menggunakannya, tetapi tidak pernah menyerahkan akal sehat dan nurani kepada mesin.






