Guru Era Digital: AI Boleh Canggih, Nalar Tetap Pemimpin
Guru di era digital adalah pendidik yang mampu mengintegrasikan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, ke dalam proses belajar tanpa mengorbankan kemampuan berpikir kritis siswa, kepekaan etis, dan kedalaman refleksi, sehingga teknologi menjadi alat pendukung pembelajaran kritis di era AI, bukan pengganti proses bernalar dan berkomunikasi secara bertanggung jawab.
Inti persoalan guru era digital bukan apakah mereka menguasai AI, melainkan apakah mereka sanggup menjaga agar kelas tetap menjadi ruang berpikir, bukan sekadar ruang mengklik. Rektor Universitas Muslim Indonesia mengingatkan bahaya generasi yang “cepat berbicara, tetapi kurang berpikir” di tengah percepatan digital dan kecerdasan buatan. Peringatan ini tepat sasaran: literasi AI pendidikan yang tidak dibingkai oleh nalar kritis hanya akan melahirkan siswa yang fasih memproduksi teks, tetapi miskin makna. AI bisa menulis, merangkum, bahkan menjawab soal; namun tanpa guru yang menata arah, siswa akan belajar mengganti usaha intelektual dengan tombol “generate”.

AI untuk Memperluas Literasi, Bukan Mengganti Proses Berpikir
Pada Peringatan Bulan Bahasa 2026 di Makassar, rektor UMI menegaskan bahwa AI harus memperluas literasi, bukan menggantikan proses berpikir. Pesan ini menolak pola pikir instan: teknologi boleh membantu menyusun kata, tetapi manusia yang menentukan makna dan tanggung jawabnya. Di tengah tema krisis refleksi, ia mengingatkan pentingnya berpikir kritis, kesantunan berbahasa, dan identitas budaya saat teknologi digital dan AI kian dominan.
Di sinilah letak pembelajaran kritis di era AI: guru perlu mengajari siswa memeriksa kebenaran, bukan sekadar mempercepat produksi tugas. AI bisa dipakai untuk mendokumentasikan bahasa daerah, mengembangkan karya sastra, dan menyebarkan pengetahuan, tetapi tanpa kemampuan analitis, siswa hanya menjadi operator aplikasi. Komitmen kampus membuka 13 fakultas dan berbagai fasilitas untuk guru dan siswa, bahkan tanpa biaya untuk kegiatan pendidikan, hanya akan bermakna bila ruang-ruang itu diisi latihan bernalar, bukan lomba siapa paling cepat memakai aplikasi terbaru.
PGRI Power 2026: Koding, AI, dan Tugas Berat Profesionalitas Guru
Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial melalui program PGRI Power 2026 mengirim sinyal kuat: guru era digital harus naik kelas dalam literasi teknologi. Wali kota Makassar menilai penguasaan teknologi akan membantu menciptakan kesetaraan pemahaman antara guru dan peserta didik, ketika dunia anak-anak sudah dipenuhi algoritma dan AI.
Namun program ini akan keliru arah bila dipahami sebatas lomba sertifikat. Menurut Munafri, kemampuan beradaptasi adalah bagian penting profesionalitas guru, dan tugas utama mereka adalah menjadi guru yang adaptif, mampu mengikuti perkembangan. Pernyataan ini seharusnya dibaca tegas: adaptasi guru teknologi bukan tujuan akhir, melainkan prasyarat agar guru bisa kembali ke tugas pokok—membimbing berpikir kritis siswa. AI boleh mengurus soal teknis, tetapi empati, hati, dan jiwa dalam relasi guru–murid tidak bisa di-outsource ke mesin.

Pelajaran dari STKIP Tamsis Bima: Calon Guru Harus Kritis Sebelum Pintar AI
Kuliah umum bertajuk “AI Jadi Asisten, Bukan Joki: Belajar Cerdas Tanpa Kehilangan Integritas” di Program Studi PGSD STKIP Taman Siswa Bima menegaskan garis batas penting: mahasiswa calon guru perlu menguasai kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar mahir menggunakan AI. Sekitar 40 mahasiswa semester tiga mengikuti kegiatan daring ini, belajar bahwa AI seharusnya membantu memahami materi dan mengembangkan gagasan, bukan menggantikan proses berpikir mandiri.
Hilhamsyah menunjukkan sisi gelap AI: jawaban yang kadang keliru namun disajikan dengan bahasa meyakinkan, referensi palsu, dan kecenderungan menyetujui pernyataan pengguna. Ia menegaskan mahasiswa harus membaca, memeriksa, dan menulis ulang hasil AI sebelum menjadikannya draf. Ketua prodi PGSD berharap seluruh mata kuliah mengintegrasikan AI, tetapi tetap menempatkannya sebagai asisten belajar. Ini contoh konkret pembelajaran kritis di era AI: kurikulum baru bahkan memasukkan mata kuliah Etika dan Penggunaan AI dalam Pendidikan yang membahas pelanggaran akademik.
Menyeimbangkan Literasi Digital dan Nalar Analitis: Agenda Mendesak Guru
Tiga peristiwa—peringatan Bulan Bahasa, program PGRI Power 2026, dan kuliah umum di STKIP Tamsis Bima—sebenarnya mengirim pesan tunggal: tanpa berpikir kritis siswa, semua investasi AI di kelas akan kehilangan arah. Rektor UMI mengingatkan pentingnya menjaga kemampuan berpikir kritis di tengah perkembangan teknologi digital dan AI, sementara STKIP Tamsis Bima menegaskan calon guru harus terus melatih kemampuan berpikir, bukan hanya mengasah keterampilan teknis.
Ke depan, adaptasi guru teknologi harus dibaca sebagai strategi untuk menguatkan, bukan menyingkirkan, pembelajaran kritis di era AI. Literasi AI pendidikan yang sehat berarti: AI dipakai untuk memperluas literasi dan kreativitas, guru memandu verifikasi dan analisis, dan siswa belajar mempersoalkan, bukan menelan mentah-mentah jawaban mesin. Jika guru berani mengambil posisi ini, kelas akan berubah dari ruang konsumsi teknologi menjadi laboratorium berpikir. Jika tidak, kita akan melahirkan generasi yang sangat digital, tetapi rapuh ketika diminta menjawab pertanyaan paling sederhana: “Mengapa kamu percaya pada jawaban itu?”






