Keselamatan dimulai dari hal yang akrab
Edukasi lalu lintas anak adalah pengenalan bertahap tentang kendaraan, rambu, dan kebiasaan aman di jalan melalui kegiatan yang sesuai dengan usia serta pengalaman sehari-hari mereka. Pendekatan ini penting karena aturan lebih mudah dipahami ketika anak bisa melihat, menirukan, dan mempraktikkannya, bukan hanya mendengar larangan.
Di TK Khasanah, Jambangan, Surabaya, puluhan murid mengikuti Fun Traffic Day pada 16 Oktober 2026. Kegiatan pengabdian masyarakat yang digelar tim dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya itu berangkat dari sesuatu yang dekat dengan anak: kendaraan yang mereka lihat saat berangkat sekolah maupun di langit. Mengenali kendaraan menjadi pintu masuk untuk membahas perilaku aman—misalnya memakai helm saat naik motor dan memberi jalan bagi ambulans.
Pilihan itu lebih masuk akal daripada memulai dengan deretan aturan abstrak. Anak yang mengenal fungsi kendaraan penolong punya konteks untuk memahami mengapa ambulans perlu didahulukan. Dengan begitu, belajar tertib berlalu lintas bukan sekadar hafalan, melainkan kebiasaan yang punya alasan.

Lima pos mengubah aturan menjadi pengalaman
Murid TK Khasanah dibagi ke dalam lima kelompok kecil dan bergiliran mendatangi lima pos permainan edukatif. Di pos pertama mereka melihat gambar serta menirukan bunyi dan gerak kendaraan. Pos kedua mengajak mereka mengelompokkan kendaraan darat, air, dan udara: mobil, bus, dan kereta; kapal dan perahu; lalu pesawat dan helikopter.
Di pos tebak bunyi, anak berkenalan dengan ambulans, mobil pemadam kebakaran, dan mobil polisi. Pos Jalan Raya Mini menjadi latihan paling langsung: berhenti ketika lampu merah, memakai helm dan sabuk pengaman, serta menepi saat ambulans lewat. Pesan warna lampu diringkas agar mudah diingat: merah berhenti, kuning hati-hati, hijau jalan. Pos terakhir memberi ruang untuk mewarnai kendaraan favorit.
Latihan konkret seperti ini membuat aturan lalu lintas TK terasa lebih dekat dengan tindakan sehari-hari. Tim kegiatan melaporkan rata-rata jawaban benar meningkat dari 75 persen sebelum kegiatan menjadi 93 persen sesudahnya. Angka itu memberi indikasi bahwa permainan dapat membantu pemahaman, meski kebiasaan aman tetap perlu dilatih berulang kali di sekolah dan rumah.
Keselamatan juga dipelajari dari orang dewasa
Di Kayuagung, Polres Ogan Komering Ilir mengajak siswa TK Kemala Bhayangkari 23 mengenali bahaya kebakaran hutan dan lahan sekaligus pentingnya tertib berlalu lintas. Anak-anak diingatkan untuk tidak bermain api atau membakar sampah sembarangan, serta memberi tahu orang dewasa jika melihat api atau asap. Mereka menyaksikan simulasi pemadaman dan mencoba menggunakan selang air dengan pendampingan petugas.
Untuk keselamatan perjalanan, Kapolres OKI AKBP Agung Adhitya Prananta berbincang dengan murid tentang kebiasaan berangkat dan pulang sekolah. Anak-anak diajak mengingatkan orang tua agar memakai helm berstandar SNI saat mengendarai sepeda motor. Pesan ini penting: anak dapat belajar aturan, tetapi tanggung jawab keselamatan tetap berada pada orang dewasa yang mengantar.
Di Banda Aceh, Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Latif Usman mengajak siswa Al-Wildan Islamic School 21 membiasakan diri tertib berlalu lintas dalam kegiatan pada 26 Oktober 2026. Pesan untuk mengingatkan ayah atau ibu agar memakai helm menunjukkan bagaimana edukasi di sekolah dapat dibawa pulang. Namun, teladan pengendara dewasa akan jauh lebih kuat daripada pesan yang hanya disampaikan kepada anak.

Kebiasaan aman perlu diteruskan
Ketiga kegiatan ini memperlihatkan bahwa keselamatan jalan anak tidak cukup diajarkan lewat ceramah. Permainan membuat aturan terlihat dan dapat dicoba; simulasi membantu anak memahami risiko; sementara keterlibatan orang tua menghubungkan pelajaran dengan perjalanan yang mereka jalani setiap hari. Ketiganya perlu hadir bersama agar pengetahuan berubah menjadi kebiasaan.
Tim Fun Traffic Day berencana melanjutkan kegiatan serupa dengan tema perilaku pejalan kaki dan cara menyeberang jalan yang aman bagi anak usia dini. Kelanjutan seperti ini patut didukung, sebab mengenal lampu lalu lintas saja belum cukup untuk menghadapi seluruh situasi di jalan.
Kesimpulannya, edukasi lalu lintas paling efektif ketika dimulai dari hal yang anak kenali, disampaikan dengan cara yang menyenangkan, lalu diperkuat oleh perilaku orang dewasa. Anak bisa belajar berhenti saat lampu merah dan meminta orang tua memakai helm; orang dewasa harus memastikan pelajaran itu benar-benar tercermin dalam perjalanan mereka.






