Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Heatstroke Masih Mengancam Pelari Meski Cuaca Terasa Sejuk

Heatstroke Masih Mengancam Pelari Meski Cuaca Terasa Sejuk
Minat|Lari Jalanan

Heatstroke pada Pelari: Ancaman yang Datang dari Dalam Tubuh

Heatstroke pada pelari marathon adalah kondisi darurat ketika suhu inti tubuh naik drastis akibat kombinasi produksi panas internal saat berlari intensif dan kegagalan tubuh melepaskan panas, sehingga sistem organ tidak mampu lagi bekerja normal dan pelari dapat mengalami gangguan kesadaran, kerusakan organ, bahkan kematian bila tidak segera ditangani.

Kasus MS, peserta Jakarta Running Festival (JRF) 2026 yang tumbang akibat heatstroke hanya sekitar 100 meter sebelum garis finis di kilometer 20–21, adalah peringatan keras bagi semua pelari. Banyak orang merasa aman karena cuaca disebut lebih adem, tetapi itu ilusi yang berbahaya. Panas yang menjatuhkan MS bukan semata dari matahari, melainkan dari tubuhnya sendiri yang dipaksa berlari terlalu cepat sejak awal lomba, hingga kelelahan menumpuk di kilometer terakhir.

Dokter kedokteran olahraga menegaskan bahwa panas tubuh saat olahraga terutama datang dari gerakan: "Heatstroke kan nggak memang hanya dari cuaca ya. Namanya panas tubuh itu kan dari dalam. Dari diri sendiri, bukan dari luar". Artinya, keputusan pacing dan cara kita memperlakukan tubuh jauh lebih menentukan daripada seberapa mendung langit di hari lomba.

Mengapa Cuaca Adem Tetap Berbahaya: Peran Panas Internal dan Kelembapan

Banyak pelari merasa tenang ketika panitia dan peserta lain menyebut cuaca lomba “lebih adem”. Namun keamanan event marathon tidak boleh diukur hanya dari suhu udara. Saat berlari, otot menghasilkan panas dalam jumlah besar. Tubuh bergantung pada keringat dan aliran darah ke kulit untuk membuang panas itu. Begitu mekanisme ini terganggu, suhu inti bisa meroket meski langit mendung.

Dokter menjelaskan, ketika seseorang berolahraga, produksi panas meningkat karena tubuh bergerak; jika cuaca panas, panas tubuh sulit keluar sehingga temperatur naik. Bahkan saat mendung, kelembapan tinggi bisa menghambat penguapan keringat, membuat panas terperangkap. Inilah alasan mengapa heatstroke pelari marathon tetap mungkin terjadi walau tanpa terik matahari menyengat.

Masalahnya, banyak pelari menganggap kondisi “adem” sebagai lampu hijau untuk memacu kecepatan. Mereka lupa bahwa kombinasi pacing agresif, kelembapan tinggi, dan pencegahan dehidrasi lari yang buruk adalah resep bencana. Cuaca sejuk memberi rasa aman palsu; tubuh tetap bekerja keras dan memanas dari dalam, pelan tapi pasti.

Ambisi vs Keselamatan: Saat Target Waktu Menjadi Bumerang

Kisah MS sangat khas: di awal lomba ia mengaku terlalu nge-push, sehingga kelelahan berat muncul di akhir, ditambah matahari yang mulai terasa panas. Hanya sekitar 100 meter sebelum garis finis, ia sudah tidak mengingat apa pun yang terjadi karena heatstroke. Ini bukti bahwa obsesi mengejar personal best bisa berubah menjadi bumerang ketika tubuh dipaksa melampaui batas.

Setelah dirawat dengan ice bath dan dibawa ke rumah sakit, MS memang sudah diperbolehkan pulang, tetapi ia masih merasakan lemas dan mual selama masa pemulihan. Ia bahkan menyebut pemulihan heatstroke bisa memakan waktu sebulan. Pengalaman pahit ini mengubah cara pandangnya: ia menegaskan bahwa target finish strong lebih penting daripada sekadar mengejar PB, dan mengingatkan pelari lain untuk tidak memaksakan diri ketika tubuh mulai terasa sakit atau sangat lelah.

Di sinilah letak masalah budaya dalam dunia lari: glorifikasi “nggak boleh menyerah” sering menutupi fakta bahwa berhenti bisa menjadi keputusan paling berani. Keamanan event marathon bukan hanya soal rute dan logistik panitia, tetapi juga kedewasaan pelari dalam mengendalikan ego.

Sinyal Tubuh Saat Berlari dan Pentingnya Berhenti Sebelum Terlambat

MS mengakui bahwa pengalaman heatstroke menjadi pelajaran untuk tidak memaksakan target pribadi ketika tubuh mulai menunjukkan tanda kelelahan. Ia menekankan pesan sederhana namun sering diabaikan: listen to your body. Sinyal tubuh saat berlari—apa pun bentuknya—harus diperlakukan sebagai alarm, bukan gangguan kecil yang boleh diabaikan demi catatan waktu.

Masalahnya, banyak pelari menunda keputusan berhenti, apalagi ketika garis finis sudah di depan mata. Kasus MS yang tumbang di kilometer 20–21, hanya sekitar 100 meter sebelum garis finis, menunjukkan betapa mahalnya harga menunda satu keputusan sederhana untuk melambat atau berhenti. Mendengarkan tubuh berarti berani mengurangi pace, berjalan, atau keluar dari lomba ketika kondisi memburuk, bahkan jika itu meruntuhkan target waktu.

Kita perlu mengubah cara menilai keberhasilan: menyelesaikan lomba dalam keadaan sadar, stabil, dan tanpa harus masuk tenda medis adalah kemenangan yang lebih bermakna daripada angka di jam tangan. Sehat itu mahal, dan tidak ada medali yang layak dibayar dengan kerusakan tubuh jangka panjang.

Strategi Praktis: Pacing, Hidrasi, dan Pemulihan Setelah Heatstroke

Untuk mencegah heatstroke pelari marathon, tiga pilar utama harus dijaga: pacing, hidrasi, dan pemulihan. Pertama, pacing: jangan mengulang kesalahan MS yang memacu kecepatan terlalu tinggi di awal hingga kelelahan menumpuk di akhir lomba. Strategi yang lebih bijak adalah memulai konservatif, menjaga ritme stabil, dan menyisakan tenaga untuk beberapa kilometer terakhir.

Kedua, pencegahan dehidrasi lari. Setelah mengalami heatstroke, dokter menyarankan MS untuk mencukupi kebutuhan cairan dan mengonsumsi makanan utuh atau real food selama pemulihan di rumah. Ia juga diingatkan bahwa pemulihan heatstroke bisa berlangsung hingga sebulan. Ini menegaskan bahwa hidrasi bukan hanya urusan saat lomba, tetapi juga sebelum dan sesudahnya.

Ketiga, hormati fase pemulihan. Meski sudah diperbolehkan pulang, MS masih merasa lemas dan mual. Memaksa kembali latihan berat terlalu cepat hanya akan memperpanjang risiko. Keamanan event marathon dimulai dari keputusan pribadi setiap pelari: mengatur pace, minum cukup, makan layak, dan memberi tubuh waktu pulih sepenuhnya sebelum kembali ke garis start berikutnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!