Operasi untuk mengurangi risiko cuaca
Operasi Modifikasi Cuaca adalah upaya pemerintah untuk memengaruhi hujan melalui penyemaian awan, dengan tujuan mengelola kondisi cuaca di wilayah tertentu, bukan menjamin langit cerah. Menjelang Jakarta Running Festival pada 24–25 Oktober 2026, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memerintahkan BPBD DKI menggelar operasi pada 22–23 Oktober, dengan kemungkinan dimulai lebih awal bila memungkinkan. Bagi lomba lari massal, langkah ini masuk akal sebagai bagian dari mitigasi: hujan lebat dapat mengganggu lintasan dan mobilitas, sementara panas menyengat juga mengurangi kenyamanan. Namun operasi tidak bisa diperlakukan sebagai kendali cuaca yang pasti. Nilainya lebih tepat diukur dari kesiapan pemerintah menghadapi risiko, bukan dari janji bahwa cuaca akan sesuai keinginan penyelenggara maupun peserta.
Dilanjutkan demi kenyamanan, dengan batas yang jelas
Pemprov DKI kemudian memperpanjang OMC hingga Sabtu, 24 Oktober, untuk mendukung kelancaran serta kenyamanan peserta. Penyemaian awan dilakukan di wilayah perbatasan Bogor dan Tangerang Selatan; Pramono menyebut hujan terjadi di kawasan perbatasan, sementara potensi hujan diperkirakan bergeser ke Jakarta Selatan dan Jakarta Barat. Operasi juga berjalan selama dua hari penyelenggaraan JRF. Rangkaian itu menunjukkan respons pemerintah terhadap prakiraan dan kondisi awan, bukan bukti bahwa OMC sendirian menentukan hasil cuaca. Pramono sendiri tidak mengklaim cuaca cerah pada hari lomba sebagai keberhasilan operasi. Seusai mengikuti kategori 10 kilometer, ia mengatakan, “Enggak tahu lah, Gusti Allah, Gusti Allah”. Sikap tersebut penting: komunikasi publik sebaiknya membedakan upaya mitigasi dari kepastian sebab-akibat.

Cuaca dan kualitas udara sama-sama penting
Perhatian pada cuaca lomba lari tidak berhenti pada hujan. Panas, kelembapan, dan kualitas udara juga menentukan seberapa nyaman peserta berlari, terutama dalam ajang yang mengumpulkan puluhan ribu orang. Pramono menyebut kondisi cuaca dan polusi udara Jakarta sebagai perhatian karena dapat memengaruhi kenyamanan peserta. Pada pelepasan maraton, indeks kualitas udara tercatat 65–66, lalu sekitar pukul 05.15 ketika kategori 10 kilometer dimulai, angkanya mencapai 81. Dalam keterangan lain, Pramono menyebut indeks berada di angka 61 saat flag-off pukul 04.00, naik menjadi 68, lalu 80 pada siang hari. Perbedaan waktu pengukuran itu mengingatkan bahwa satu angka tidak merangkum seluruh pengalaman peserta. Polusi udara Jakarta perlu dipantau bersama kondisi cuaca, bukan dianggap selesai hanya karena hujan turun di sebagian wilayah.
Ukuran keberhasilan bukan langit yang cerah
OMC dapat menjadi satu bagian dari persiapan, tetapi bukan pengganti pemantauan cuaca, informasi kualitas udara, pengaturan lintasan, dan layanan transportasi. Pramono membuka peluang melanjutkan operasi setelah JRF bila kondisi awan mencukupi. Sementara itu, MRT Jakarta menambah jam layanan pada 24–25 Oktober agar peserta dan warga lebih mudah menuju acara; pada penyelenggaraan sebelumnya, sekitar 24.060 pelanggan memakai layanan saat jam operasional tambahan dari total sekitar 27.300 peserta, sedangkan untuk tahun ini MRT memproyeksikan sekitar 32.608 peserta akan menggunakan layanannya. Ini menunjukkan bahwa kenyamanan acara bergantung pada lebih dari rekayasa cuaca. Kesimpulannya, modifikasi cuaca Jakarta layak dipandang sebagai langkah pendukung yang bersyarat dan terbatas. Ukuran keberhasilannya adalah pengelolaan risiko yang transparan dan kesiapan layanan, bukan klaim bahwa operasi membuat cuaca cerah.






