Musim hujan yang tidak merata memperpanjang risiko
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah kebakaran vegetasi dan lahan yang dapat menyebar, merusak wilayah, serta menghasilkan asap yang mengganggu kehidupan warga. Di Kalimantan Timur, hujan mulai meredakan api di beberapa daerah, tetapi keterlambatan musim hujan di Paser membuat ancaman jauh dari selesai. Hujan membantu menekan kejadian karhutla di Berau dan Kutai Barat, namun tidak turun merata. Berdasarkan informasi BMKG yang diterima BPBD Kaltim, Paser diperkirakan menjadi wilayah terakhir di provinsi itu yang menerima hujan. Karena itu, musim hujan Paser bukan sekadar soal perubahan cuaca: keterlambatan hujan memperpanjang masa lahan kering mudah terbakar dan membuat upaya pemadaman lebih berat. Menganggap penurunan api di daerah lain sebagai tanda situasi terkendali akan mengabaikan ketimpangan risiko antardaerah.
Paser mencatat beban kebakaran terbesar
Skala karhutla Paser menunjukkan mengapa perhatian tidak boleh mengendur. Hingga 26 Oktober 2026, kabupaten ini mencatat 633 kejadian—tertinggi di Kaltim—dengan sekitar 1.821 hektare terdampak. Secara keseluruhan, provinsi mencatat 2.408 kejadian yang berdampak pada sekitar 10.027 hektare. Angka kejadian dan luas terbakar tidak selalu berjalan seiring: Kutai Kartanegara memiliki area terdampak terbesar, sekitar 2.960 hektare, dari 433 kejadian. Pada 30 Oktober hingga pukul 11.05 Wita, BMKG mendeteksi 433 titik panas Kaltim: 430 berkategori kepercayaan sedang, dua tinggi, dan satu rendah. Paser menyumbang 117 titik—terbanyak—disusul PPU dengan 91. Titik panas merupakan hasil pemantauan satelit, bukan jumlah kebakaran yang telah dipastikan di lapangan; tetap saja, konsentrasinya menjadi alasan kuat untuk menjaga kewaspadaan.
Penurunan titik panas belum menghapus bahaya asap dan kekeringan
Titik panas di Kaltim menurun dibandingkan puncak musim kemarau pada Agustus, antara lain karena hujan mulai membasahi sejumlah wilayah. Namun Paser dan Penajam Paser Utara masih berjibaku dengan kebakaran lahan, sementara kekeringan juga berdampak signifikan di Paser dan Samarinda. Penurunan angka pantauan bukan jaminan api padam. Pemadaman dari jalur darat dapat menghentikan api di permukaan, tetapi petugas belum tentu mengetahui apakah bara di dalam gambut benar-benar mati. Asap pun dapat melampaui lokasi kebakaran; Kutai Barat, misalnya, menerima asap yang terbawa angin dari Kalimantan Tengah. Sumber yang tersedia tidak merinci krisis air di PPU, sehingga dampak itu tidak dapat dipastikan. Yang jelas, kebakaran dan kekeringan masih membebani warga di sejumlah daerah dan memerlukan respons yang bertahan, bukan sekadar reaksi saat api terlihat.
Siaga darurat harus diikuti perlindungan warga
BPBD Kaltim memperketat pengawasan dan penanganan karhutla serta kekeringan, dan menetapkan siaga tanggap darurat berlanjut hingga 30 November 2026, dengan evaluasi efektivitas selama masa itu. Pemerintah provinsi juga menerima bantuan pusat sebesar Rp20 miliar: Rp10 miliar untuk BPBD, Rp7 miliar untuk kehutanan, dan Rp3 miliar untuk sektor kesehatan. Porsi BPBD mencakup kebutuhan peralatan, logistik, dan insentif relawan. Langkah berikutnya perlu terasa langsung bagi warga. BPBD berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan mengenai pembagian masker dan dukungan layanan oksigen, meski kepastian pelaksanaannya perlu dikonfirmasi kepada dinas tersebut. Dalam kondisi asap dan kekeringan, informasi yang jelas tentang layanan, distribusi perlindungan, dan wilayah terdampak sama pentingnya dengan pengerahan pemadam.
Kesimpulannya, turunnya titik panas belum cukup untuk menyebut ancaman karhutla selesai. Selama Paser berpotensi menjadi wilayah terakhir yang menerima hujan dan kebakaran masih muncul di PPU, siaga harus dipertahankan, pemadaman perlu memeriksa kemungkinan bara di gambut, dan perlindungan kesehatan warga harus berjalan. Angka yang menurun memberi ruang untuk memperkuat pencegahan—bukan alasan untuk mengendurkan pengawasan.






