Literasi keluarga tumbuh dari kebiasaan kecil
Literasi keluarga adalah kebiasaan bersama orang tua dan anak untuk berinteraksi dengan buku, cerita, dan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun melalui dukungan sekolah. Karena itu, membangun kebiasaan membaca anak bukan semata soal mengajarkan huruf: pengalaman yang hangat dan berulang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, imajinasi, serta percaya diri. TK Raudatus Syabian Al-Amin Pejeruk menjalankan program Cinta Cipta Berbasis Keluarga (CCBK) dan literasi berbasis Enikki secara konsisten selama empat tahun. Langkah ini patut dicontoh karena memperlakukan literasi sebagai proses yang perlu dirawat bersama, bukan tugas kelas yang selesai ketika anak pulang. Sekolah dan keluarga memiliki peran berbeda, tetapi tujuan yang sama: membuat buku terasa akrab dan menyenangkan bagi anak sejak usia dini.
Buku tidak menuntut anak sudah lancar membaca
Salah satu kekuatan program di TK Raudatus Syabian adalah memberi anak ruang untuk mengenal buku sesuai tahap perkembangannya. Sekolah menyediakan beragam buku cerita setiap pagi dan membiarkan murid mengeksplorasi pilihan mereka. Anak yang belum lancar membaca teks tetap dapat memahami alur melalui ilustrasi, mengenali gambar, dan membangun imajinasi. Pendekatan ini lebih masuk akal daripada menjadikan kemampuan membaca dini sebagai ukuran utama: rasa nyaman terhadap buku perlu hadir sebelum tuntutan untuk membaca sendiri. Kegiatan menggambar dan mewarnai turut membuka ruang bagi anak untuk menceritakan karyanya. Saat diminta menjelaskan gagasan di balik gambar, mereka berlatih berbahasa dan menyampaikan pendapat. Bagi anak yang pemalu, kesempatan bercerita dan menunjukkan karya dapat menjadi jembatan menuju rasa percaya diri.
Membacakan buku sebelum tidur menghubungkan sekolah dan rumah
CCBK menghubungkan pembelajaran di sekolah dengan keterlibatan orang tua di rumah. Salah satu kebiasaan yang dianjurkan adalah membacakan buku cerita kepada anak sebelum tidur. Rutinitas ini tidak harus berubah menjadi pelajaran formal. Orang tua dapat mengikuti gambar, mengajak anak menebak kelanjutan cerita, atau memberi waktu untuk bertanya. Yang penting, pengalaman membaca terasa sebagai momen berbagi, bukan ujian. Pengulangan dalam suasana akrab membantu anak makin dekat dengan buku, sekaligus memberi ruang untuk perkembangan bahasa dan imajinasi. Sumber yang tersedia menyebut kebiasaan membacakan cerita sebelum tidur sebagai bagian dari program, tetapi tidak memastikan bahwa keluarga melakukannya setiap hari. Karena itu, pesan yang layak diambil bukan kewajiban mengejar frekuensi tertentu, melainkan pentingnya keterlibatan orang tua yang konsisten dan menyenangkan.
Dongeng menawarkan alternatif di tengah penggunaan gawai
Keterlibatan keluarga dalam literasi juga relevan ketika penggunaan gawai yang tinggi dikhawatirkan mengurangi interaksi langsung antara orang tua dan anak. Pada 25 Oktober 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga mengadakan pelatihan mendongeng bagi ibu-ibu di Desa Cerme Lor, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, sebagai strategi mencegah kecanduan gawai. Cerita dapat menjadi alternatif yang menghadirkan komunikasi, kosakata baru, dan stimulasi imajinasi tanpa bergantung pada layar. Mendongeng bukan pengganti semua bentuk kegiatan, tetapi memberi orang tua cara sederhana untuk berbagi perhatian dan mempererat hubungan dengan anak. Tim pelaksana berharap praktik ini berlanjut di keluarga dan meluas ke desa lain. Harapan tersebut sejalan dengan pelajaran dari TK Raudatus Syabian: literasi lebih mungkin bertahan ketika rumah dan sekolah saling menguatkan.

Kedekatan dengan buku lebih penting daripada mengejar target
Program CCBK dan Enikki menunjukkan bahwa kebiasaan literasi dapat dibangun melalui kesempatan membaca, aktivitas kreatif, dan dukungan orang tua. Setelah empat tahun berjalan, sekolah menempatkan pembiasaan ini sebagai bagian dari persiapan anak memasuki pendidikan dasar, termasuk melatih keberanian berkomunikasi dan mengikuti kegiatan belajar. Bagi keluarga, langkah awal tidak harus rumit: sediakan waktu untuk melihat buku bersama, bacakan cerita, lalu dengarkan tanggapan anak. Tak perlu menunggu anak lancar membaca untuk memulai, sebab hubungan positif dengan buku adalah bekal yang layak ditumbuhkan sejak dini. Kesimpulannya, cinta buku tidak terbentuk lewat instruksi semata. Ia tumbuh ketika orang dewasa hadir, cerita dibagikan, dan anak merasa bebas bertanya, berimajinasi, serta bercerita.






