Kepergian yang mengundang kenangan
Soraya Togas adalah penyanyi pop asal Manado yang dikenal lewat lagu-lagu populer dan ikut mewarnai musik Indonesia pada era 1980-an. Kabar Soraya Togas meninggal dunia pada Sabtu, 24 Oktober 2026, menutup perjalanan hidupnya pada usia 61 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir pukul 21.20 WIB di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Bagi pendengar yang mengenal suaranya sejak masa kejayaan musik pop lawas, kabar ini bukan sekadar berita duka: ia juga menjadi pemantik untuk kembali membuka ingatan musikal yang tersimpan selama puluhan tahun. Tidak mengherankan jika perhatian publik segera tertuju pada lagu-lagu yang pernah mengiringi kariernya. Jejak seorang penyanyi tidak hanya tinggal dalam catatan masa lalu, tetapi juga dalam karya yang masih dicari dan dibagikan ketika namanya kembali disebut.

Lagu lama, ingatan yang tetap hidup
Netizen mengenang almarhumah dengan membagikan lagu-lagu lawas yang pernah dinyanyikannya. Respons itu memperlihatkan bagaimana musik dapat menjadi cara paling dekat untuk merawat ingatan: pendengar tidak hanya menyampaikan belasungkawa, tetapi juga menghidupkan kembali suara yang mereka kenal. Di antara lagu hits Soraya, “Hanya PadaMu” paling lekat dengan namanya. Ia juga pernah membawakan “Oh Melati”, “Ayah”, “Benci Tapi Rindu”, “Hidupku Selalu Berseri”, “Rindu”, dan “Sayang Oh Sayang”. Daftar tersebut menunjukkan bahwa kenangan publik tidak bertumpu pada satu lagu saja. Lagu-lagu itu membentuk potret karier seorang penyanyi era 1980-an yang karyanya masih mampu menghubungkan pendengar dengan masa lalu. Saat dibagikan kembali, lagu-lagu tersebut menjadi penghormatan yang terasa personal sekaligus dapat dinikmati lintas generasi.
Doa keluarga dan warisan Soraya
Di tengah duka, adiknya, Lana Togas Koentjoro, mengenang Soraya sebagai kakak melalui unggahan doa di media sosial. Lana mengutip Filipi 1:21: “Bagiku, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Kalimat itu menyampaikan pengharapan iman keluarga saat melepas kepergian Soraya, sekaligus memperlihatkan sisi kehilangan yang tak dapat diringkas oleh daftar lagu atau pencapaian. Namun, warisan Soraya juga melampaui dunia tarik suara. Ia dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan organisasi, serta pernah terlibat dalam kehidupan politik. Kehadiran lagu-lagunya di ruang publik setelah kabar duka menjadi pengingat bahwa karya seni dapat terus menemani orang, bahkan setelah penciptanya berpulang. Soraya meninggalkan kenangan yang dirawat lewat musik dan doa—dua cara berbeda, tetapi sama-sama kuat, untuk menyatakan bahwa seseorang pernah berarti.






