Rekaman yang belum menjawab pertanyaan
Rekaman CCTV penembakan adalah bukti visual yang dapat membantu menyusun urutan kejadian, tetapi nilainya bergantung pada kelengkapan dan keaslian berkas yang diperiksa. Dalam kematian Valdo Fernandez Lawai, keluarga mempertanyakan rekaman yang diduga tidak menampilkan momen penembakan selama 15 menit. Mereka juga menyebut sepuluh kamera belum merekam kedatangan atau pergerakan korban. Dua celah ini bukan bukti bahwa rekaman dimanipulasi atau bahwa pihak tertentu terlibat; namun, keduanya menuntut penjelasan teknis yang terbuka. Tanpa klarifikasi tentang cakupan kamera dan rentang waktu yang hilang, rekaman yang semestinya membantu pengusutan justru berisiko memperbesar keraguan.
Penembakan yang menewaskan anggota Direktorat Kepolisian Udara berinisial Bharatu LVVL terjadi pada Jumat, 16 Oktober 2026, sekitar pukul 05.30 WIB di Mako Polairud Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan. Polda Metro Jaya menyatakan proses hukum terus berjalan. Dalam kasus polisi tembak polisi ini, pernyataan bahwa penyidikan berlanjut perlu diikuti jawaban yang dapat diuji, terutama mengenai apa yang terekam dan apa yang tidak.
Sepuluh kamera dan dugaan keterlibatan pihak lain
Pertanyaan kedua menyangkut cakupan CCTV Pondok Cabe: keluarga menyebut sepuluh kamera tidak merekam kedatangan atau pergerakan Valdo. Ini membuat penyidik perlu menjelaskan posisi kamera, jangkauan pandang, dan rekaman yang tersedia, tanpa menganggap ketiadaan gambar sebagai bukti tunggal tentang apa yang terjadi. Keluarga juga menduga Bharada Andika Rahmadani tidak bertindak sendiri karena pergerakannya dinilai berlangsung mulus tanpa penjagaan berarti. Dugaan tersebut belum merupakan kesimpulan penyidikan. Namun, perilaku yang dipertanyakan keluarga—termasuk klaim bahwa seseorang masuk memakai helm tanpa ditegur—layak diperiksa dengan standar yang sama seperti bukti lain, bukan dibiarkan sebagai spekulasi.
Dalam perkara yang berlangsung di lingkungan markas kepolisian, penjelasan tentang akses dan pengawasan sama pentingnya dengan rekonstruksi peristiwa penembakan. Jika kamera tidak menangkap bagian tertentu, penyidik perlu menerangkan batas teknisnya dan apakah sumber bukti lain dapat mengisi urutan kejadian. Keterbukaan semacam itu akan membantu membedakan kekosongan rekaman yang wajar dari persoalan yang memang membutuhkan penyelidikan lebih lanjut.
Rekaman asli harus bisa ditelaah
Permintaan keluarga agar rekaman asli diberikan untuk ditelaah patut dipandang sebagai tuntutan akuntabilitas, bukan pengganti penyidikan. Berkas asli memungkinkan pemeriksaan terhadap kesinambungan waktu dan kelengkapan gambar, sementara salinan yang dipilih atau dipotong dapat menyulitkan penilaian. Karena itu, akses sebaiknya diatur dengan prosedur yang menjaga barang bukti sekaligus memungkinkan penelaahan yang kredibel. Keluarga telah menyoroti rekaman yang tidak memperlihatkan momen penembakan dan dugaan adanya pihak lain; hal-hal tersebut, menurut mereka, perlu dijelaskan.
Pertemuan keluarga dengan Kapolri yang semula diharapkan untuk meminta perlindungan dan perhatian terhadap penanganan perkara batal karena agenda lain, dan akan dijadwalkan ulang. Penjadwalan ulang itu seharusnya menjadi kesempatan untuk menjelaskan langkah pemeriksaan rekaman, bukan sekadar menyampaikan bahwa proses hukum berjalan. Kepastian mengenai siapa yang menelaah berkas dan bagaimana temuannya diuji akan lebih bermakna daripada janji umum.
Keterbukaan menentukan kepercayaan
Keluarga belum tentu benar dalam setiap dugaan, tetapi pertanyaan mereka tentang dua kekosongan rekaman tidak dapat dijawab dengan imbauan agar percaya. Penyelidik perlu menjabarkan mengapa momen penembakan diduga tidak terlihat selama 15 menit, mengapa sepuluh kamera disebut tidak menangkap pergerakan korban, serta bagaimana rekaman asli akan diamankan dan ditelaah. Jawaban berbasis pemeriksaan, bukan dugaan tandingan, dapat menegaskan mana yang merupakan keterbatasan CCTV dan mana yang masih harus diusut.
Kesimpulannya, penyelesaian kasus ini bergantung bukan hanya pada kelanjutan proses hukum, tetapi juga pada keterbukaan terhadap bukti yang dipersoalkan. Rekaman asli perlu diperiksa secara cermat dan hasilnya dijelaskan kepada keluarga dengan dasar yang dapat diverifikasi. Itulah jalan paling masuk akal untuk menjawab keraguan dan menjaga agar pengusutan kematian Valdo tidak berhenti pada klaim yang saling berhadapan.






