Resolusi Jihad untuk tantangan masa kini
Gerak Jalan Hari Santri adalah kegiatan peringatan yang mempertemukan santri, pelajar, dan organisasi masyarakat dalam perjalanan bersama sekaligus menghidupkan kembali nilai perjuangan para ulama. Di Pasuruan, Wakil Bupati KH Shobih Asrori melepas peserta di depan SMPN 1 Kraton pada Minggu (1/11/2026), seraya mengajak santri dan generasi muda meneruskan semangat Resolusi Jihad. Pesannya tepat: perjuangan masa kini tidak ditempuh dengan senjata, melainkan dengan menghadapi kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan melalui pendidikan. Makna Hari Santri akan lebih kuat jika peringatan tidak berhenti pada seremoni, tetapi mendorong anak muda memperluas wawasan dan berperan dalam membangun masyarakat. Karena itu, ajakan Gus Shobih layak dibaca sebagai tuntutan nyata: pendidikan harus menjadi jalan pemberdayaan, bukan sekadar slogan peringatan.

Dua kilometer dengan pesan yang lebih panjang
Gerak jalan santri dimulai sekitar pukul 08.30 WIB. Peserta berjalan sejauh dua kilometer dari depan SMPN 1 Kraton menuju garis finis di Lapangan Sidogiri. Lebih dari 40 tim dari berbagai wilayah Kabupaten Pasuruan ikut serta, mewakili Pimpinan Anak Cabang, Majelis Wakil Cabang, Fatayat NU, Lembaga Pendidikan Ma’arif, pondok pesantren, serta para siswa. Skala dan keragaman peserta membuat kegiatan ini lebih dari tontonan seremonial: ia memperlihatkan jejaring pendidikan dan organisasi yang dapat menggerakkan pemberdayaan pemuda. Namun, panitia juga mempertimbangkan cuaca yang sedang terik-teriknya dengan memilih waktu pagi agar kegiatan selesai sebelum siang. Detail itu mengingatkan bahwa acara publik yang baik perlu memperhatikan kenyamanan peserta, sementara nilai utamanya tetap terletak pada pesan yang dibawa sepanjang rute.
Pendidikan sebagai bentuk perjuangan
Gus Shobih menekankan bahwa semangat Resolusi Jihad perlu diteruskan dengan meningkatkan pendidikan, memperluas wawasan, dan mengambil peran dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. Inilah inti pendidikan santri yang patut diperkuat: ilmu tidak hanya menjadi bekal pribadi, tetapi juga sarana mengurangi kemiskinan dan keterbelakangan. Ajakan tersebut relevan bagi generasi muda di dalam maupun di luar pesantren. Namun, seruan untuk belajar akan berarti jika dibarengi kesempatan dan dukungan agar pemuda dapat mengembangkan kemampuan serta berkontribusi. Gerak jalan ini belum dengan sendirinya menyelesaikan persoalan pendidikan, tetapi dapat menjadi pengingat publik bahwa perjuangan sosial membutuhkan pengetahuan dan keterlibatan bersama. Pemberdayaan pemuda seharusnya menjadi kelanjutan pesan acara, bukan berhenti setelah peserta tiba di garis finis.






