Dari semangat perjuangan menuju kesejahteraan
Kewirausahaan santri adalah upaya membangun kemandirian ekonomi melalui usaha yang tumbuh dari lingkungan pesantren, sekaligus membuka peluang agar para santri berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Gagasan ini menjadi inti ajakan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi kepada 555 ribu santri untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah dan pengentasan kemiskinan. Ia menyampaikan dorongan itu saat memimpin upacara Hari Santri Nasional ke-11 di Jalan Pancasila, Kota Tegal, pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Luthfi menghubungkan tuntutan masa kini dengan semangat Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Jika perjuangan terdahulu berhadapan dengan penjajahan, menurutnya, perjuangan hari ini perlu hadir dalam bentuk peningkatan kesejahteraan. Arah ini tepat: peran santri tidak semestinya berhenti pada ruang pendidikan dan ibadah, tetapi dapat menjangkau persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Potensi besar, pekerjaan yang belum selesai
Ajakan tersebut berangkat dari tantangan yang nyata. Tingkat kemiskinan di Jawa Tengah tercatat 9,21 persen atau sekitar 3,6 juta jiwa, sementara pemerintah provinsi mengakui bahwa upaya pengentasan kemiskinan membutuhkan kolaborasi. Dengan sekitar 555 ribu santri yang tersebar di ribuan pesantren, lingkungan pendidikan ini punya jangkauan sosial yang luas dan potensi untuk ikut menggerakkan ekonomi daerah.
Namun jumlah besar tidak otomatis menghasilkan perubahan. Kewirausahaan santri perlu bertumpu pada keterampilan yang bisa diterapkan, kesempatan mengembangkan usaha, dan dukungan yang berkelanjutan. Jika unsur-unsur itu hadir, unit usaha pesantren dapat menjadi ruang belajar sekaligus sumber kegiatan ekonomi. Jika tidak, seruan agar santri mengurangi kemiskinan berisiko menjadi beban moral yang tidak disertai jalan praktis.
Karena itu, pesan Luthfi layak dibaca sebagai ajakan untuk menggabungkan ilmu agama dengan pengetahuan dan keterampilan lain, bukan mengganti satu dengan yang lain. Santri didorong menjadi mandiri secara ekonomi dan tetap membawa kepedulian sosial ke dalam perannya di masyarakat.
Pesantren Obah perlu menghubungkan dukungan dengan peluang usaha
Pemprov Jawa Tengah menjalankan Pesantren Obah, yang dikoordinasikan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen bersama Kementerian Agama dan pihak terkait. Program ini mencakup beasiswa pendidikan, bantuan pesantren, pengembangan usaha santri, serta insentif bagi guru madrasah diniyah. Rancangannya juga memasukkan bantuan operasional pesantren, insentif tenaga pendidik, dan pengembangan unit usaha.
Dukungan pendidikan dapat memperkuat kapasitas santri, sedangkan pengembangan unit usaha memberi ruang untuk menguji keterampilan dalam kegiatan ekonomi. Agar Pesantren Obah berdampak pada pengentasan kemiskinan, keduanya perlu saling terhubung: pelatihan sebaiknya mengarah pada peluang usaha yang dapat dijalankan, sementara bantuan kelembagaan perlu membantu usaha bertahan dan berkembang. Kolaborasi dengan Kementerian Agama dan pemangku kepentingan lain menjadi penting untuk menjaga kesinambungan, bukan sekadar menambah daftar program.
Sejumlah bantuan sudah disalurkan. Pemprov mencatat beasiswa bagi 488 santri, termasuk santri penggerak, serta dukungan studi luar negeri bagi 58 santri. Angka-angka ini menunjukkan bahwa dukungan pendidikan menjadi bagian program, tetapi keberhasilan agenda ekonomi pada akhirnya perlu dinilai dari kemampuan santri dan pesantren membangun kegiatan usaha yang berkelanjutan.
Ukuran keberhasilan harus terasa di masyarakat
Manfaat program juga menyentuh pendidik dan lingkungan pesantren. Pada 2025, insentif guru agama menjangkau 230.830 penerima dengan anggaran sekitar Rp277 miliar. Dalam rangkaian peringatan di Tegal, pemerintah provinsi menyerahkan insentif kepada 1.390 pengajar keagamaan senilai Rp834 juta dan 300 paket sembako. Bantuan renovasi pesantren serta insentif pengajar berjumlah Rp934 juta, di luar nilai paket sembako.
Bantuan tersebut memberi dukungan langsung, tetapi ukuran keberhasilan yang lebih luas adalah apakah pesantren mampu membuka ruang usaha, memperkuat kemandirian santri, dan menjangkau warga yang menghadapi kesulitan ekonomi. Luthfi juga mengajak santri menjaga keamanan dan ketertiban, sebab stabilitas daerah mendukung kelancaran pembangunan. Dengan begitu, kontribusi santri mencakup kegiatan ekonomi sekaligus kepedulian terhadap kehidupan bersama.
Ajakan di Tegal akan berarti jika kewirausahaan tidak berhenti sebagai slogan dan Pesantren Obah memberi jalur nyata dari pendidikan menuju usaha produktif. Santri Jawa Tengah memiliki potensi untuk ikut menggerakkan ekonomi; tugas pemerintah dan mitra program adalah memastikan dukungan yang tersedia dapat mengubah potensi itu menjadi peluang dan manfaat bagi masyarakat. Inilah bentuk perjuangan masa kini yang paling meyakinkan: kemandirian yang ikut mengurangi kemiskinan.






