Pembangunan daerah membutuhkan peran santri
Kewirausahaan santri adalah upaya membangun usaha yang berangkat dari lingkungan pesantren untuk memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus membuka kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengajak sekitar 555 ribu santri di wilayahnya mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah, terutama melalui kewirausahaan dan pengentasan kemiskinan. Ajakan itu disampaikan saat ia memimpin upacara Hari Santri Nasional tingkat provinsi di Kota Tegal pada 22 Oktober 2026. Pesan utamanya tepat: ilmu dan jaringan pesantren dapat menjadi modal pembangunan, bukan hanya kekuatan sosial-keagamaan. Namun, mengajak santri berkontribusi tidak cukup dengan seruan. Agar berdampak, peluang usaha harus terhubung dengan keterampilan, pendampingan, dan kebutuhan pasar setempat.
Desakan itu berangkat dari persoalan yang besar. Luthfi menyebut kemiskinan di Jawa Tengah mencapai 9,21 persen atau sekitar 3,6 juta jiwa. Angka tersebut menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Santri Jawa Tengah tersebar di berbagai kabupaten dan kota, sehingga berpotensi membantu menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar pesantren. Tetapi jumlah besar bukan hasil dengan sendirinya: ukuran keberhasilan semestinya terlihat dari usaha yang bertahan, pendapatan yang meningkat, dan manfaat yang menjangkau warga sekitar.
Kewirausahaan pesantren perlu dukungan nyata
Dorongan kewirausahaan pesantren memberi arah yang lebih konkret daripada sekadar meminta santri menjadi mandiri. Santri diharapkan mengembangkan usaha dan memiliki kemandirian ekonomi, sembari tetap membawa kepedulian sosial. Potensi itu dapat tumbuh melalui usaha yang sesuai dengan kemampuan komunitas dan kebutuhan lokal. Akan tetapi, program kewirausahaan yang hanya berhenti pada pelatihan atau bantuan awal berisiko menghasilkan kegiatan sesaat. Santri membutuhkan akses pada pendampingan berkelanjutan, jejaring pemasaran, serta pengetahuan mengelola usaha. Dengan dukungan tersebut, kegiatan ekonomi pesantren berpeluang menciptakan penghasilan sekaligus membuka kesempatan bagi warga sekitar.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebut Pesantren Obah sebagai bagian dari upaya mendorong kontribusi pesantren. Program yang dikoordinasikan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen itu melibatkan Kementerian Agama dan pihak terkait, dengan cakupan beasiswa, bantuan pesantren, pengembangan usaha santri, serta insentif guru madrasah diniyah. Susunan tersebut penting karena kewirausahaan sulit tumbuh jika ekosistem pendidikan dan kelembagaan pesantren diabaikan. Tantangan berikutnya adalah memastikan tiap bantuan saling terhubung: pendidikan memperkuat kapasitas, dukungan usaha membantu praktik, dan pendampingan menjaga agar kegiatan ekonomi tidak berhenti setelah program selesai.
Bantuan harus berujung pada dampak terukur
Sejumlah dukungan yang disampaikan menunjukkan bahwa ajakan itu disertai langkah konkret. Pemerintah provinsi menyatakan telah memberi beasiswa kepada 488 santri, termasuk santri penggerak, serta beasiswa pendidikan ke luar negeri kepada 58 santri. Pada 2025, insentif guru agama menjangkau 230.830 penerima dengan anggaran sekitar Rp277 miliar. Dalam rangkaian peringatan di Tegal, empat pesantren menerima bantuan renovasi masing-masing Rp25 juta, sementara 1.390 pengajar keagamaan menerima insentif senilai Rp834 juta dan 300 paket sembako disalurkan. Angka-angka ini memperlihatkan skala dukungan, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan bahwa kemiskinan berkurang.
Karena itu, Pesantren Obah perlu dinilai bukan hanya dari jumlah penerima bantuan, melainkan juga dari hasil yang dirasakan santri dan masyarakat. Pemerintah dapat memperjelas tindak lanjut usaha, akses pasar, dan perkembangan pendapatan agar publik memahami apakah dukungan benar-benar memperkuat kemandirian ekonomi. Luthfi juga meminta santri mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan serta meningkatkan kepedulian sosial. Harapan itu masuk akal, terutama ketika stabilitas daerah turut dianggap penting bagi pembangunan di tengah ketidakpastian geopolitik. Santri dapat menjadi penyejuk masyarakat sekaligus penggerak ekonomi, asalkan tanggung jawab itu disertai dukungan yang konsisten.
Dari ajakan menuju perubahan
Ajakan melibatkan 555 ribu santri memberi Jawa Tengah peluang besar untuk menghubungkan pesantren dengan agenda pembangunan daerah. Namun, ukuran keberhasilannya bukan seberapa luas seruan itu terdengar, melainkan apakah kewirausahaan pesantren mampu menciptakan penghidupan yang lebih baik dan membantu pengentasan kemiskinan. Pesantren Obah dapat menjadi jembatan penting jika bantuan pendidikan, penguatan lembaga, dan pengembangan usaha berjalan sebagai rangkaian yang saling menopang. Pemerintah perlu menjaga kesinambungan program, sedangkan pesantren dan santri perlu dilibatkan dalam menentukan usaha yang sesuai dengan potensi daerah. Dengan arah dan dukungan yang jelas, santri bukan sekadar diajak berkontribusi: mereka dapat menjadi bagian nyata dari solusi ekonomi dan sosial.






