Warisan yang perlu terus dirancang ulang
Ukiran Jepara adalah seni kriya dengan nilai estetika dan identitas budaya yang diwariskan, sekaligus sumber inspirasi untuk menciptakan produk furnitur yang menjawab kebutuhan konsumen masa kini. Karena itu, menjaga warisan ini tidak cukup dengan mempertahankan teknik lama; desainnya juga harus berkembang. Persaingan industri furnitur internasional menuntut perajin Jepara beradaptasi, sementara konsumen di berbagai negara memiliki selera yang terus berubah. Tantangannya bukan memilih antara tradisi dan pasar, melainkan merancang pertemuan keduanya. Seminar Nasional REKANUSA 2026 membahas arah tersebut di Auditorium Perpustakaan Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara pada 29 Oktober 2026. Lebih dari 150 peserta dari kalangan akademisi, pemerintah, pelaku industri, mahasiswa, dan generasi muda hadir. Besarnya keterlibatan itu menunjukkan bahwa pembaruan ukiran perlu menjadi agenda bersama, bukan beban perajin seorang diri.
Andang Wahyu Triyanto, Ketua KADIN Kabupaten Jepara, menegaskan bahwa industri mebel ukir perlu bergerak melampaui kekuatan produksi dan memberi perhatian pada inovasi serta nilai tambah produk. Pesan ini tepat: keahlian mengukir tetap menjadi pembeda, tetapi desain furnitur menentukan bagaimana keahlian itu diterjemahkan menjadi produk yang punya tempat di pasar furnitur global. Dukungan kebijakan dan pemberdayaan usaha juga penting agar perajin dapat mengembangkan gagasan menjadi karya yang kompetitif.

Desain menghubungkan keterampilan dengan selera pasar
Ukiran yang rumit bukan otomatis cocok untuk setiap produk atau pasar. Desain perlu mengatur bagaimana motif, bentuk, fungsi, dan karakter lokal hadir bersama, tanpa membuat hasilnya terasa seperti salinan tren luar. Eddy Supriyatna Marizar, akademisi desain dan pembina Yayasan REKANUSA, memandang desain sebagai penghubung antara nilai artistik seni ukir dan kebutuhan industri furnitur. Pandangan ini penting karena produk tidak hanya perlu menarik secara visual: ia juga harus memiliki identitas dan menjawab preferensi konsumen internasional. Dengan pendekatan desain yang matang, motif Jepara dapat diterapkan secara terarah, bukan sekadar ditempelkan sebagai ornamen. Inovasi semacam itu memberi perajin ruang untuk memperbarui bentuk produk tanpa menghapus karakter yang membuat ukirannya dikenali.
Menurut Eddy, pengembangan desain furnitur ukir untuk pasar global perlu ditopang kajian sosiologi seni, semiotika desain, serta pola pikir terbalik—dimulai dengan menetapkan wujud produk yang hendak dibuat. Artinya, rancangan sebaiknya berangkat dari tujuan dan fungsi yang jelas, lalu menempatkan ukiran sebagai bagian bermakna dari keseluruhan produk. Pendekatan ini lebih menjanjikan daripada mengandalkan kerumitan motif semata. Keterampilan tradisional tetap menjadi fondasi, tetapi harus dipadukan dengan pemahaman terhadap kebutuhan pemakai dan bahasa desain yang dapat diterima lintas pasar.
Material baru, identitas tetap berakar
Pembaruan juga dapat datang dari bahan yang digunakan. Muhammad Jamhari, CEO Agra Guratama Raya Group, mengajak pelaku seni dan industri agar tidak membatasi ukiran pada kayu. Batu dan logam, misalnya, dapat membuka penerapan baru bagi seni ukir dan memperluas ruang pengembangannya. Eksplorasi material furnitur memberi perajin kesempatan menawarkan bentuk dan fungsi berbeda, sambil membawa keterampilan ukir ke ranah yang lebih luas. Namun, mengganti atau menambah bahan bukan inovasi dengan sendirinya. Nilainya bergantung pada cara material itu dipadukan dengan motif, teknik, dan karakter Jepara. Bila identitas lokal hanya menjadi tempelan, perubahan bahan kehilangan maknanya; bila dirancang dengan cermat, ia dapat memperbarui produk sekaligus menjaga kesinambungan tradisi.
Karena itu, eksperimen bahan perlu melibatkan perajin yang memahami teknik dan makna motif, bukan hanya mengikuti kemungkinan produksi. Pendekatan seperti ini menjaga agar eksplorasi batu atau logam tidak mengaburkan akar budaya ukiran. Ia juga mendorong inovasi yang punya alasan desain dan kegunaan, bukan sekadar kebaruan untuk menarik perhatian. Ukiran Jepara akan lebih kuat di pasar global ketika perubahan bentuk maupun material tetap membawa jejak pengetahuan lokal.
Kolaborasi menentukan langkah berikutnya
Seminar REKANUSA 2026 seharusnya menjadi titik awal kerja bersama, bukan berhenti sebagai ruang bertukar gagasan. Pemerintah daerah dapat memperkuat pemberdayaan pelaku usaha; akademisi membantu mengembangkan riset dan pendekatan desain; sementara perajin dan industri menguji gagasan melalui karya nyata. Generasi muda juga perlu dilibatkan agar pengetahuan ukir terus diteruskan sekaligus dipertemukan dengan cara pandang baru. Pertemuan lebih dari 150 peserta menyediakan ruang lintas bidang untuk membangun kolaborasi, tetapi hasilnya akan ditentukan oleh tindak lanjut yang konsisten. Harapan penyelenggara agar seminar menjadi awal kolaborasi nyata dan berkelanjutan menempatkan kerja bersama sebagai langkah penting setelah diskusi.
Kesimpulannya, daya saing ukiran Jepara tidak akan tumbuh dari nostalgia saja, juga bukan dari mengejar tren tanpa arah. Desain yang peka terhadap kebutuhan pasar dan eksplorasi material yang terhubung dengan identitas lokal dapat memperluas peluang produk, asalkan nilai budaya seni ukir tetap dijaga. Perajin, pemerintah, akademisi, dan pelaku industri perlu mengubah semangat inovasi menjadi rancangan dan karya yang nyata. Dengan cara itu, tradisi bukan sekadar dikenang: ia terus berkembang dan memiliki tempat di pasar furnitur global.






