Dari seremoni menuju kerja sama nyata
Indonesia–India Creative Tech Corridor adalah kemitraan lintas negara yang menghubungkan talenta dan kekayaan intelektual kreatif Indonesia dengan teknologi serta kemampuan produksi audiovisual India untuk mengembangkan karya dan menjangkau pasar internasional. Koridor kreatif ini diresmikan pemerintah pada Sabtu, 24 Oktober, dalam acara di Cinepolis Lippo Mall Nusantara, Jakarta, yang dihadiri Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, dan Wakil Kepala Misi Kedutaan Besar India Bijay Selvaraj. Arah kebijakannya tepat: kerja sama ekonomi kreatif dan teknologi digital perlu diterjemahkan menjadi proyek, bukan berhenti sebagai deklarasi. Nota kesepahaman antara Lokanima di KEK Singhasari dan mitra industri kedua negara menjadi langkah konkret. Namun, ukuran keberhasilannya bukan jumlah seremoni atau dokumen, melainkan karya yang selesai, hak kreator yang terlindungi, dan akses pasar yang benar-benar terbuka.

AI perlu memperkuat kreativitas lokal
Di KEK Singhasari, kolaborasi ini mencakup teknologi kreatif, kecerdasan artifisial (AI), penciptaan kekayaan intelektual, dan distribusi konten audiovisual ke pasar internasional. Fokus tersebut menjadikan AI ekonomi kreatif lebih dari sekadar wacana: teknologi dapat membantu proses produksi, sementara cerita, karakter, dan keputusan kreatif tetap bertumpu pada talenta manusia. Airlangga menilai AI dapat menciptakan pekerjaan dan keterampilan baru, bukan hanya menggantikan pekerjaan yang ada. Pandangan itu masuk akal, tetapi manfaatnya tidak otomatis terbagi merata. Kreator perlu akses pada perangkat, pelatihan, dan perlindungan hak cipta agar efisiensi teknologi tidak mengorbankan kendali atas karya. Bagi pengguna dan penonton, hasil terbaiknya adalah konten yang lebih beragam dan mudah menjangkau audiens baru; bagi pelaku industri, manfaat itu bergantung pada pembagian nilai yang adil.
Jembatan menuju audiens internasional
Kekuatan kemitraan Indonesia India terletak pada pertemuan aset yang saling melengkapi: cerita dan talenta lokal di satu sisi, serta teknologi dan kapasitas produksi audiovisual India di sisi lain. Jika dikelola dengan baik, kombinasi ini dapat membantu IP karakter Indonesia berkembang melampaui pasar domestik dan hadir dalam format yang siap didistribusikan secara internasional. Pemerintah menyebut pengembangan talenta, kemitraan industri, perlindungan kekayaan intelektual, dan perluasan akses pasar sebagai bagian dari dukungan untuk tujuan tersebut. Ini penting karena pasar global tidak cukup ditembus dengan cerita yang menarik; produksi, strategi distribusi, dan hak atas karya juga harus siap. Koridor ini menawarkan jalur untuk membangun kemampuan itu bersama mitra, tetapi Indonesia perlu memastikan IP lokal tetap menjadi pusat kolaborasi, bukan sekadar bahan baku produksi.
Ujian berikutnya adalah hasil yang terukur
Langkah lanjutan yang diumumkan mencakup Creative Tech Sandbox di KEK Singhasari, ruang uji coba bagi kreator dan pelaku industri untuk mengeksplorasi AI serta teknologi baru. Kolaborasi juga menargetkan penayangan perdana karya bersama dalam World Audio Visual and Entertainment Summit (WAVES) 2027 di Mumbai. Tenggat dan ruang eksperimen ini memberi koridor arah yang lebih jelas: menguji gagasan, menghasilkan karya, lalu mempertemukannya dengan audiens internasional. Pemerintah juga berharap pemanfaatan AI dan ekosistem digital mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif hingga dua digit, tetapi sasaran itu harus dibaca sebagai ambisi, bukan hasil yang sudah tercapai. Kesimpulannya, koridor kreatif ini layak didukung karena menghubungkan teknologi dengan kekuatan cerita lokal. Keberhasilannya akan ditentukan oleh mutu karya, peluang nyata bagi talenta, dan perlindungan yang memastikan nilai ekonomi kembali kepada penciptanya.






