Kompetisi daring dengan jangkauan besar
Olimpiade Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) adalah kompetisi daring bagi siswa yang menguji kemampuan berpikir komputasional, literasi digital, serta pemahaman dan penggunaan kecerdasan artifisial. Di Tuban, kompetisi ini berlangsung pada 28–29 Oktober 2026 dan melibatkan ribuan peserta, menjadikannya ujian yang menuntut kesiapan teknis sekaligus ketelitian. Pada hari pertama, 3.879 siswa mengikuti lomba—69,9 persen dari total 5.550 siswa terdaftar—sementara 1.671 peserta dijadwalkan mengikuti sesi hari kedua. Skala ini menunjukkan bahwa olimpiade koding bukan sekadar agenda bagi segelintir peminat teknologi: pelaksanaannya menjangkau banyak siswa dan lembaga pendidikan. Karena lomba digelar serentak secara daring, kelancaran akses dan pemahaman prosedur menjadi bagian penting dari kesiapan peserta.
Simulasi sebagai bekal, bukan formalitas
Panitia menjadwalkan simulasi olimpiade selama dua hari, 26–27 Oktober, agar peserta punya waktu untuk mengenali alur dan menyesuaikan jadwal sebelum kompetisi. Ketua panitia Dwi Setiyawan menjelaskan bahwa rentang simulasi yang lebih panjang memberi keleluasaan kepada siswa untuk memahami teknis pelaksanaan. Persiapan ini penting karena Olimpiade KKA dikerjakan secara daring melalui telepon pintar berbasis Android. Panitia juga menyiapkan aplikasi, membagikan petunjuk melalui video tutorial, serta mengirimkan nama pengguna dan kata sandi melalui perwakilan sekolah. Menjadikan simulasi sebagai bagian serius dari persiapan adalah langkah yang tepat: peserta dapat lebih dahulu memahami cara mengakses lomba, sehingga perhatian saat hari kompetisi bisa tertuju pada soal, bukan kebingungan teknis. Bagi sekolah, kesempatan mencoba lebih awal juga membantu mengatur waktu pelaksanaan.

Materi menuntut pemahaman, bukan hafalan semata
Materi disusun oleh tim Musyawarah Guru Mata Pelajaran Informatika dan mencakup empat kompetensi: literasi dan etika kecerdasan artifisial, berpikir komputasional, literasi digital, serta pemanfaatan dan pengembangan kecerdasan artifisial. Peserta menghadapi 40 soal, terdiri atas 24 pilihan ganda dan 16 pilihan ganda kompleks. Format pilihan ganda kompleks dirancang untuk menguji kecermatan, bukan hanya kecepatan memilih jawaban. Bobot terbesar, 35 persen, diberikan pada literasi dan etika kecerdasan artifisial, termasuk pemahaman prinsip kerja teknologi, keunggulan serta keterbatasannya dibandingkan kemampuan manusia, dan etika penggunaan data pribadi. Pilihan materi ini patut diapresiasi: kompetensi teknologi masa kini tidak cukup diukur dari kemampuan memakai perangkat. Siswa juga perlu menilai informasi, memahami konsekuensi penggunaan data, dan berpikir kritis tentang batas kecerdasan artifisial.
Skala besar perlu diimbangi kesiapan bersama
Pelaksanaan hari pertama dimulai setelah token akses dibagikan kepada operator lembaga pendidikan melalui grup WhatsApp. Sebagian besar sekolah mengerjakan olimpiade di dalam ruangan, dengan banyak sesi dimulai sekitar pukul 08.00. Penyelenggaraan selama dua hari memberi sekolah ruang untuk menyesuaikan waktu pengerjaan dengan agenda belajar masing-masing. Angka kehadiran hari pertama yang mencapai 3.879 siswa memperlihatkan besarnya minat sekaligus pentingnya koordinasi antara peserta, sekolah, dan panitia. Dalam lomba daring berskala seperti ini, simulasi dan petunjuk teknis bukan pelengkap administratif; keduanya membantu membuat pengalaman peserta lebih terarah. Kesimpulannya, kekuatan Olimpiade KKA terletak pada jangkauan luas dan materi yang relevan, sementara latihan sebelum lomba menjadi bekal praktis agar kesempatan berkompetisi dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.






