Geguritan dan Aksara Jawa: Bukan Sekadar Lomba, Tapi Investasi Budaya
Lomba geguritan siswa dan kompetisi menulis tradisional aksara Jawa adalah kegiatan terpadu yang mengajak pelajar mengekspresikan diri melalui puisi berbahasa Jawa sekaligus melatih kecakapan menulis aksara Jawa, sehingga pelestarian budaya lokal terjadi bersamaan dengan penguatan literasi bahasa daerah di lingkungan pendidikan formal. Sebanyak 1.588 siswa jenjang SD dan SMP di Kota Madiun mengikuti lomba geguritan dan menulis aksara Jawa sebagai bentuk melestarikan atau nguri-nguri budaya Jawa di tengah arus modernisasi. Kehadiran Gerakan Menulis Aksara Jawa menambah bobot acara: bukan hanya panggung prestasi, tetapi gerakan kolektif. Di sini tampak jelas bahwa pelestarian budaya Jawa tidak ditempatkan sebagai kegiatan tambahan, melainkan bagian dari strategi pendidikan karakter berbasis bahasa dan unggah-ungguh. Ketika anak-anak berani tampil dan menulis dalam bahasa leluhur, mereka sedang meneguhkan identitas yang kerap tergerus ragam bahasa populer.
Pahlawan Street Center: Kelas Terbuka bagi 1.588 Pelajar SD-SMP
Pada Jumat sore, 18 September 2026, kawasan Pahlawan Street Center (PSC) berubah menjadi “kelas terbuka” bagi ribuan pelajar Kota Madiun. Sebanyak 1.588 pelajar SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, ambil bagian dalam Lomba Geguritan, Menulis Aksara Jawa, serta Gerakan Menulis Aksara Jawa yang digelar Dinas Pendidikan Kota Madiun. Ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan strategi sadar: melibatkan sekolah negeri dan swasta untuk memastikan pelestarian budaya Jawa tidak berhenti di segelintir lembaga. Lismawati, Kepala Dinas Pendidikan Kota Madiun, menegaskan tujuan kegiatan ini agar anak-anak tetap nguri-nguri basa Jawa dan merasa bangga dengan kebudayaan leluhur. Pesan tersebut penting: kebanggaan tidak lahir dari slogan, tetapi dari pengalaman langsung berbahasa dan berkesenian. Dengan menempatkan lomba di ruang publik, bahasa dan aksara Jawa dipertontonkan sebagai sesuatu yang hidup, bukan benda museum.

Menguatkan Literasi Bahasa Lokal dan Unggah-ungguh di Era Serba Cepat
Jika selama ini pelestarian bahasa Jawa dianggap cukup lewat jam pelajaran, kegiatan di PSC mematahkan anggapan itu. Dinas Pendidikan menegaskan, pelestarian bahasa Jawa tidak cukup hanya dilakukan melalui pembelajaran di ruang kelas; anak-anak perlu diberi ruang untuk mempraktikkan sekaligus menunjukkan kemampuan mereka secara langsung. Kompetisi geguritan dan aksara Jawa pelajar menjadi sarana mengenalkan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya Jawa sejak dini. Di tengah perkembangan zaman, penggunaan bahasa dan tata krama Jawa menghadapi tantangan tersendiri. Perubahan pola komunikasi dan dominasi bahasa lain membuat unggah-ungguh kian terpinggir. Karena itu, kegiatan ini cerdas: literasi bahasa lokal dibangun bersamaan dengan pendidikan karakter. Lismawati menekankan perlunya membumikan unggah-ungguh agar yang muda tetap menghormati yang lebih tua dan menjaga tata krama dalam kehidupan sehari-hari.
Suara Siswa: Antusiasme, Gugup, dan Rasa Punya terhadap Budaya Jawa
Di balik panggung, ada kisah latihan dan keberanian yang kerap luput dari liputan. Citra Lestari, siswi kelas VI SDN Kelun, mengikuti lomba geguritan untuk kali pertama dan mengaku sempat grogi dan deg-degan ketika tampil, meski akhirnya bisa menyelesaikan penampilannya dengan lancar. Persiapannya dilakukan sekitar satu minggu, berlatih di rumah maupun di sekolah dengan bimbingan guru dan kepala sekolah. Di lomba menulis aksara Jawa, Lea Kharezisma Putri Prayogo dari SMP Al Muttaqin memperbanyak latihan menulis dan menghafalkan materi dan menilai kompetisi itu tidak terlalu sulit. Peserta lain, Naj’wa Tanzila Mirojatul Jannah, mengerjakan kalimat “Sepi ing rame, rame ing gawe” dan “Mikul dhuwur mendhem jero” sambil berlatih agar tulisannya rapi dan lancar. Rasa gugup yang mereka ceritakan justru tanda penting: mereka memperlakukan bahasa dan aksara Jawa sebagai sesuatu yang bernilai, layak diperjuangkan.
Model Kota Madiun: Integrasi Pelestarian Budaya dalam Akademik Terstruktur
Yang paling menarik dari lomba geguritan siswa dan aksara Jawa pelajar di Kota Madiun adalah modelnya: pelestarian budaya lokal diintegrasikan langsung dengan kegiatan akademik terstruktur. Lomba yang digelar oleh Dinas Pendidikan Kota Madiun merupakan salah satu upaya untuk menjaga agar budaya dan bahasa Jawa tetap dikenal dan digunakan oleh generasi muda. Kegiatan ini bukan hanya ajang mencari siswa berprestasi, tetapi ruang bagi generasi muda untuk mengenal kembali bahasa dan budaya Jawa. Pelestarian bahasa Jawa tidak cukup hanya dilakukan melalui pembelajaran di sekolah; bahasa dan unggah-ungguh perlu dibiasakan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan melibatkan ribuan pelajar dari sekolah negeri dan swasta, Kota Madiun menunjukkan bahwa kompetisi menulis tradisional, jika dirancang serius, dapat menjadi motor penguat identitas lokal. Kesimpulannya tegas: bila daerah lain ingin bahasa dan aksaranya bertahan, mereka perlu meniru langkah ini—memindahkan warisan budaya dari buku teks ke pengalaman nyata siswa.






