Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ketangguhan V BTS di Panggung: Dari Gangguan Pendengaran ke Bahasa Isyarat

Ketangguhan V BTS di Panggung: Dari Gangguan Pendengaran ke Bahasa Isyarat
Minat|Penyanyi/Band Pop

Ketangguhan Musisi yang Pendengarannya Tak Lagi Sempurna

Ketangguhan panggung artis adalah kemampuan seorang musisi untuk tetap memberikan penampilan yang kuat, penuh kontrol dan menyentuh emosi, meskipun menghadapi keterbatasan fisik seperti gangguan pendengaran musisi yang menurunkan kepekaan terhadap nada, harmoni, dan tempo sekaligus menguji hubungan emosional dengan para penggemar. Dalam konteks ini, V BTS menjelma sebagai contoh nyata bagaimana seorang bintang pop dunia menolak tunduk pada keterbatasan. Kim Tae-hyung mengungkap bahwa telinga kanannya hanya berfungsi sekitar 30 persen dan kondisi itu telah ia tanggung lebih dari dua setengah tahun. Fakta ini mengguncang publik bukan karena dramanya, melainkan karena selama periode itu, penampilan V BTS konser Arlington dan berbagai panggung besar lain tetap terlihat nyaris sempurna. Ketika banyak orang mengasosiasikan musikalitas dengan keutuhan indera, V membalik narasi: yang menentukan bukan hanya apa yang ia dengar, tetapi bagaimana ia memilih untuk tetap hadir.

Konser Arlington: Satu Papan, Satu Gerakan, Satu Koneksi Emosional

Momen paling kuat dari V BTS konser Arlington terjadi bukan pada puncak koreografi, melainkan pada detik ketika ia membaca sebuah papan sederhana: “I'M DEAF but I can FEEL the MUSIC.” Di tengah skala tur BTS WORLD TOUR ‘ARIRANG’, V memilih berhenti sejenak dari alur pertunjukan yang teratur dan merespons pesan itu dengan bahasa isyarat lirik lagu “Please”, menggunakan gerakan tangan ekspresif agar fan tuli itu tetap bisa menikmati penampilannya. Ini bukan gestur manis yang sekadar instagramable; ini adalah pernyataan artistik bahwa musik tidak terbatas pada suara. Koneksi emosional fans lahir ketika idola mau menyesuaikan cara berkomunikasi, bukan memaksa audiens mengikuti caranya. Rekaman momen tersebut kemudian dibagikan sang fan dan disertai pesan penuh kasih, menguatkan bahwa beberapa detik perhatian di tengah hiruk-pikuk konser dapat mengubah pengalaman menjadi sangat personal.

Bahasa Isyarat sebagai Bahasa Kedua di Panggung Pop

Apa yang dilakukan V di Arlington bukan insiden satu kali yang kebetulan tersorot kamera, tetapi bagian dari pola lebih besar: menjadikan bahasa isyarat lirik sebagai bahasa kedua di panggung pop. Ia telah beberapa kali menggunakan bahasa isyarat dalam berbagai kesempatan, termasuk saat berpartisipasi dalam Dear Class of 2020 dan ketika mempromosikan lagu “Butter” pada 2021. Dalam rangkaian tur ARIRANG, ia juga terlihat memakai gerakan intuitif untuk menggambarkan bagian lirik “Into the Sun”. Sikap ini menunjukkan bahwa inklusivitas bukan proyek satu kampanye; ia tertanam dalam cara V memaknai performa. Ketika banyak musisi berbicara tentang kedekatan dengan fans, V memilih cara konkret: mempelajari dan memakai medium komunikasi audiens yang sering diabaikan. Menariknya, pilihan ini menjadi semakin sarat makna karena ia sendiri tengah bergulat dengan gangguan pendengaran musisi. Ia tidak sekadar "berempati dari luar", tetapi merasakan kedekatan nyata dengan spektrum pengalaman berbeda di antara penonton.

Menghadapi Gangguan Pendengaran: Antara Profesionalisme dan Kejujuran

Dalam siaran langsung bersama Jungkook, V membuka fakta bahwa gangguan pendengaran telinga kanan yang tersisa 30 persen telah menemaninya selama lebih dari dua setengah tahun. Ia menjelaskan perbedaan fungsi antara telinga kiri yang normal dengan telinga kanan yang menurun, dan bagaimana hal itu memaksa penyesuaian besar dalam keseharian serta di panggung. Bagi seorang musisi, pendengaran adalah "instrumen paling vital" untuk mengontrol nada, harmoni, dan tempo; memilih tetap tampil di tengah keterbatasan ini adalah bentuk ketangguhan panggung artis, tetapi juga risiko yang tidak kecil. Keputusannya untuk tidak mengeluh dan tetap tampil memukau dalam konser besar selama dua setengah tahun menjadi bukti profesionalisme yang keras kepala. Pada Agustus, ia menyebut bahwa telinga yang terdampak hanya sekitar 30 persen dari telinga lainnya dan ia rutin menjalani pengobatan serta mengunjungi rumah sakit. Pengakuan ini memicu gelombang dukungan lewat tagar, menandakan fans menghargai kejujuran sama besar dengan penampilan sempurna.

Pelajaran dari V: Seni Pertunjukan yang Mengutamakan Manusia

Kisah V menggarisbawahi bahwa ketangguhan panggung artis bukan soal menutupi kelemahan, melainkan bagaimana kelemahan itu diakui dan diolah menjadi jembatan dengan audiens. Kejujuran V tidak ditujukan untuk memancing iba, melainkan sebagai bentuk dedikasi kepada pendengar yang selama ini melihatnya sebagai sosok tak bercela. Di Arlington, respons terhadap fan yang menulis bahwa ia tak dapat mendengar musik tetapi tetap bisa merasakannya menunjukkan bahwa V memahami inti dari pertunjukan: memberi rasa, bukan hanya suara. Komunikasi di atas panggung bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk bahasa isyarat, gerak tubuh, dan tatapan. Ketika artis mengakui batasan diri dan tetap berupaya terhubung, koneksi emosional fans menjadi lebih dalam daripada slogan "we love our fans" yang sering terdengar. Pelajaran akhirnya jelas: seni pertunjukan yang sehat harus melihat manusia—baik di atas maupun di depan panggung—sebagai pusat, bukan sekadar penonton dan produk.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!