Gangguan Pendengaran V dan Harga Kesehatan di Balik Tur Dunia

Gangguan Pendengaran V dan Harga Kesehatan di Balik Tur Dunia
Minat|Penyanyi/Band Pop

Pengakuan yang Mengubah Cara Kita Memandang Kesehatan Artis

Gangguan pendengaran musisi adalah kondisi ketika kemampuan telinga untuk menerima dan memproses suara menurun, sering kali karena paparan suara keras berkepanjangan, dan pada artis pop hal ini bisa muncul diam-diam di balik jadwal tur dunia yang padat, tekanan performa tinggi, serta penggunaan perangkat audio intensif selama bertahun-tahun.

V mengungkapkan bahwa ia mengalami gangguan pendengaran pada telinga kanan selama lebih dari dua setengah tahun, sementara telinga kiri masih berfungsi sekitar 100 persen dan telinga kanan hanya sekitar 30 persen. Pengakuan itu muncul dalam siaran langsung di Weverse bersama Jungkook pada 12 Agustus, ketika ia berkata tenang: “If I can hear 100% in this ear, I can only hear 30% in this one”. Momen yang awalnya bernuansa santai dan penuh canda berubah menjadi titik balik emosional, memaksa penonton menghadapi kenyataan pahit: bahkan di puncak popularitas, tubuh dan kesehatan tetap punya batas. Ini bukan sekadar kabar kesehatan; ini alarm keras tentang bagaimana industri memperlakukan telinga sebagai alat kerja yang dianggap tak akan pernah rusak.

Dua Setengah Tahun Sunyi: Dampak pada Identitas Musisi

Selama sekitar dua setengah tahun, V hidup dengan kenyataan bahwa salah satu telinganya bekerja jauh di bawah kapasitas, hanya sekitar 30 persen fungsi normal. Bagi orang biasa ini sudah menakutkan, tapi bagi seorang performer yang hidup dari suara, ini hantaman langsung ke inti identitas dirinya. Bayangkan menyanyi di panggung, mendengar ribuan suara penonton, namun salah satu telinga tidak pernah menangkap dunia dengan utuh lagi.

V menjelaskan bahwa kondisinya memburuk ketika menjalani wajib militer, di lingkungan yang bising dan fisik yang berat. Yang lebih menyakitkan, ia sempat diberi tahu bahwa masalah ini hanya ‘mental’, hingga ia sendiri mulai mempertanyakan apakah semua ada di kepalanya. Ini menunjukkan bagaimana gangguan pendengaran musisi sering disalahpahami, seolah problem psikosomatis, padahal indikator medisnya jelas. Di sini, pengakuan V menjadi kritik halus pada sistem yang lebih cepat melabeli seseorang ‘bermasalah secara mental’ daripada serius memeriksa kesehatan fisiknya. Identitas seorang artis pop bukan hanya tentang suara indah dan koreografi, tapi juga tentang hak untuk diakui rasa sakitnya sebagai sesuatu yang nyata.

Tur Dunia, Telinga yang Lelah, dan Logika Industri yang Cacat

Pengakuan V menyingkap sisi gelap tur dunia dan kesehatan. BTS sedang melanjutkan world tour ARIRANG dengan jadwal konser besar di stadion-stadion utama, sementara V tetap tampil di panggung dengan telinga kanan yang hanya berfungsi sekitar 30 persen dan menjalani perawatan medis performer secara rutin. Dalam industri yang memuja ketepatan suara dan sinkronisasi koreografi, fakta bahwa ia tetap harus berdiri di atas panggung justru menelanjangi logika produksi yang mengutamakan jadwal, bukan telinga.

Konser dengan puluhan ribu penonton yang berteriak, in-ear monitor dengan volume tinggi berjam-jam setiap hari, ditambah syuting, rekaman, dan penerbangan tanpa henti, adalah kombinasi yang nyaris mustahil bersahabat dengan kesehatan pendengaran. Ini harga mahal yang dibayar setelah lebih dari sepuluh tahun berada di industri dengan intensitas suara paling ekstrem di dunia. Kalau telinga adalah alat kerja utama seorang musisi, maka sistem kerja sekarang setara dengan menyuruh atlet sprint berlari maraton setiap hari tanpa hari pemulihan. Tur dunia dan kesehatan sedang berada di dua kutub yang bertabrakan, dan V adalah wajah paling jelas dari benturan itu.

Perawatan, Persahabatan, dan Batas Empati Penggemar

Di tengah semua tekanan, V menegaskan bahwa ia tidak tinggal diam. Ia rutin minum obat, bolak-balik ke rumah sakit, dan terus menjalani pengobatan sesuai kebutuhan untuk menangani gangguan pendengaran ini. Sikapnya bukan dramatis, melainkan tenang dan dewasa; ia seolah berkata, “Saya tidak sempurna, tapi saya bertanggung jawab atas tubuh saya.” Di sampingnya, Jungkook bereaksi dengan kalimat singkat namun tajam, “That shouldn’t happen”, menandai bahwa bahkan rekan satu grupnya pun melihat ada sesuatu yang keliru dalam perjalanan diagnosis dan respons yang ia terima.

Pengakuan ini memicu diskusi lebih luas di kalangan penggemar tentang kesehatan artis pop—baik fisik maupun mental—yang selama ini kerap diremehkan. Kita juga melihat bagaimana perawatan medis performer tidak cukup hanya berupa resep obat; butuh sistem yang memberi ruang untuk istirahat dan keputusan berani membatalkan jadwal ketika tubuh berkata berhenti. Penggemar mendapat ajakan jelas: alih-alih menuntut penampilan sempurna, berikan ruang, dukungan, dan jangan berspekulasi liar soal diagnosis, karena ini ranah pribadi yang sudah cukup berat untuk ditanggung sendiri.

Saatnya Industri Memilih: Panggung atau Pendengaran

Kisah V adalah peringatan keras bahwa glamor panggung bisa menelan kesehatan artis jika industri menolak berubah. Ketika seorang penyanyi mengaku hanya bisa mendengar 30 persen di satu telinga namun tetap berkeliling dunia untuk tur, itu sinyal bahwa standar keamanan kerja di dunia hiburan tidak lagi realistis bagi tubuh manusia.

Gangguan pendengaran musisi bukan anomali eksotis, melainkan konsekuensi struktur kerja yang dibangun di atas jadwal padat, paparan suara ekstrem, dan budaya ‘tak boleh berhenti’ yang diagungkan. Tur dunia dan kesehatan tidak harus selalu berlawanan, tetapi itu hanya mungkin jika perusahaan, manajer, dan penggemar rela menerima bahwa pembatalan konser atau jadwal yang dipangkas adalah bagian dari perawatan medis performer, bukan bentuk kemalasan. Kesimpulannya sederhana namun tidak nyaman: jika kita mencintai musik, kita harus rela musik itu kadang berhenti sejenak agar telinga para penciptanya tidak berhenti selamanya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!