Universitas Turun ke Komunitas: Parenting Bukan Urusan Privat Lagi
Program tumbuh kembang anak berbasis universitas adalah inisiatif pengabdian masyarakat yang menghubungkan ilmu akademik dengan praktik pengasuhan sehari-hari, melalui edukasi stimulasi anak usia dini, permainan edukatif balita, dan pendekatan ethno parenting yang berakar pada budaya lokal agar keterlibatan orang tua dalam perkembangan anak menjadi lebih terarah, kontekstual, dan mudah dipraktikkan di rumah. Di balik seminar dan workshop yang akrab dengan dunia kampus, ada pergeseran penting: pengasuhan mulai diperlakukan sebagai urusan publik, bukan sekadar ranah privat yang diserahkan sepenuhnya pada intuisi orang tua. Unram dan Fakultas Keperawatan Unhas memilih turun langsung ke desa dan wilayah kerja puskesmas, menjembatani jarak antara teori perkembangan anak dan realitas ruang tamu keluarga. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi mengajak orang tua memegang alat permainan, mendiskusikan nilai budaya, dan memikirkan kembali cara mendampingi balita.
Ethno Parenting Sasak: Ketika Budaya Lokal Menjadi Kurikulum Pengasuhan
Kekuatan utama program ethno parenting Sasak adalah keberanian menegaskan bahwa karakter anak harus tumbuh dari akar budaya sendiri, bukan dari paket nilai global yang seragam. Universitas Mataram memperkuat pendidikan karakter anak usia dini melalui pendekatan ethno parenting berbasis nilai budaya Sasak di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Pendekatan ini memadukan pola pengasuhan dengan nilai, tradisi, kepercayaan, dan adat yang hidup dalam komunitas Sasak, sekaligus menjadi sarana mengenalkan identitas budaya kepada anak. Dalam program bersama PAUD Al-Hidayah, tim tidak berhenti pada sosialisasi konsep, tetapi mengembangkan pelatihan, integrasi nilai budaya ke pembelajaran, hingga penyusunan modul ethno parenting berbasis Lombok. Lima nilai utama—ketuhanan, jati diri budaya, keterhubungan dengan alam, gotong royong, dan peran ayah—menjadikan kearifan lokal bukan dekorasi, melainkan fondasi karakter. Hasilnya, pemahaman orang tua tentang pengasuhan berbasis budaya lokal meningkat dan mereka kian sadar pentingnya keterlibatan kedua orang tua.
Stimulasi dan Permainan Edukatif: Balita Belajar dari Bahan Sederhana
Jika Unram menekankan akar budaya, Fakultas Keperawatan Unhas menunjukkan bahwa stimulasi anak usia dini tidak harus bergantung pada mainan mahal. Melalui kegiatan “Peningkatan Kapasitas Orang Tua dalam Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak melalui Edukasi Stimulasi, Pola Asuh, Anticipatory Guidance, dan Pembuatan Alat Permainan Edukatif Sederhana” di wilayah kerja Puskesmas Antang Perumnas, Makassar, mereka melibatkan 50 ibu yang memiliki balita. Program ini memadukan anticipatory guidance—materi tentang apa yang akan dihadapi anak di tahap berikutnya—dengan praktik langsung permainan menggunakan alat sederhana. Peserta diperkenalkan cara memanfaatkan bahan-bahan sederhana sebagai alat permainan edukatif untuk memberikan stimulasi sesuai tahap perkembangan anak. Dalam simulasi, orang tua bukan hanya mendengar teori, tetapi mempraktikkan penggunaan permainan sebagai media stimulasi, membuktikan bahwa tumbuh kembang optimal bisa didukung melalui aktivitas bermain yang sederhana, kreatif, dan mudah diterapkan di rumah.

Mengapa Pendekatan Berbasis Komunitas dan Budaya Lebih Mengena
Kedua program ini sama-sama mengkritik pendekatan parenting yang terlepas dari konteks hidup keluarga. Unram mengembangkan ethno parenting Sasak sebagai respons terhadap perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang memengaruhi pola pengasuhan keluarga. Dengan menempatkan budaya lokal sebagai sumber pembelajaran yang dekat dengan kehidupan anak, guru dan orang tua dapat mengenalkan nilai budaya lewat aktivitas sederhana yang kontekstual. Di Makassar, kolaborasi antara institusi pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Antang Perumnas memperlihatkan bahwa parenting edukatif lebih mudah diakses bila hadir di titik layanan keluarga sehari-hari, bukan hanya di gedung kampus. Keterlibatan aktif keluarga, PAUD, dan masyarakat dalam program Unram memperkuat kemitraan lintas sektor dan relevansi materi pengasuhan. Sementara program Unhas menegaskan bahwa peningkatan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam stimulasi dan pola asuh adalah bagian dari agenda kesehatan dan pendidikan bermutu.
Pelajaran bagi Kebijakan: Parenting Harus Menjadi Ekosistem
Dari ethno parenting Sasak hingga permainan edukatif balita berbahan sederhana, pesan yang muncul cukup tajam: pengasuhan anak usia dini tidak bisa diserahkan ke sekolah atau keluarga saja, melainkan perlu ekosistem yang saling menguatkan. Melalui ethno parenting Sasak, Unram menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat tumbuh dari lingkungan terdekat anak, ketika keluarga dan sekolah memanfaatkan kearifan lokal sebagai fondasi pembentukan identitas budaya, kepedulian lingkungan, kemampuan bekerja sama, dan penghargaan terhadap kehidupan sosial. Di sisi lain, program Fakultas Keperawatan Unhas membuktikan bahwa keterlibatan orang tua dalam perkembangan bukan jargon; 50 ibu balita yang berlatih membuat dan memakai alat permainan edukatif sederhana adalah bukti bahwa pengetahuan bisa diikat dengan keterampilan nyata. Ke depan, jika pemerintah daerah dan lembaga layanan publik berani menjadikan program tumbuh kembang anak berbasis komunitas sebagai norma, bukan pengecualian, maka generasi yang tumbuh bukan hanya cerdas secara kognitif, tetapi berakar pada budayanya dan didukung oleh orang tua yang terlatih.






