Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Lisa Mengubah EP PRESS PLAY Menjadi Pengalaman Sinematik

Lisa Mengubah EP PRESS PLAY Menjadi Pengalaman Sinematik
Minat|Penyanyi/Band Pop

Enam lagu disusun seperti sebuah film

Lisa PRESS PLAY EP adalah proyek enam lagu yang menyatukan musik dan penceritaan sinematik, sehingga urutannya terasa seperti rangkaian adegan film, bukan kumpulan single yang berdiri sendiri. Pada 28 Oktober 2026, Lisa merilis EP ini bersama video musik “Tarantino”, menandai proyek solonya setelah album penuh Alter Ego yang terbit pada Februari 2025. Susunannya bergerak dari “SaWaDiKa” ke “V12” dan “Cobra”, lalu menempatkan “Tarantino” sebagai titik tengah sebelum “Cut U Off” dan “Sweat” menutup perjalanan. Pilihan tersebut memberi PRESS PLAY kerangka yang jelas: pendengar diajak mengikuti alur, bukan sekadar memilih lagu favorit. Strategi visual musik seperti ini terasa lebih meyakinkan karena konsepnya hadir dalam susunan audio sekaligus gambar. Lisa membangun satu dunia yang punya pembuka, klimaks, dan penutup.

Lisa Mengubah EP PRESS PLAY Menjadi Pengalaman Sinematik

“Tarantino” membawa aksi ke lorong hotel

Video musik Tarantino menjadi pernyataan visual paling gamblang dalam proyek ini. Lisa melintasi sebuah hotel untuk mengantarkan pesan kepada sutradara favoritnya, Quentin Tarantino, sambil menghadapi orang-orang yang menghalangi misinya. Adegan pertarungan dan koreografi laga membuat petualangan itu bergerak cepat, selaras dengan inspirasi film yang tersirat pada judul lagu. Hasilnya bukan sekadar video yang menempel pada sebuah single: latar hotel, tujuan yang spesifik, dan rintangan memberi penonton alasan untuk mengikuti aksinya sampai akhir. Di sinilah konsep film laga bekerja paling efektif—musik mendapat konteks, sementara gerak tubuh Lisa menjadi bagian dari penceritaan. Pendekatan tersebut juga menjaga agar gagasan sinematik EP tidak berhenti sebagai kemasan atau slogan, melainkan terasa dalam satu karya yang bisa ditonton secara utuh.

Sambutan besar dan panggung Las Vegas

Sambutan untuk era ini terlihat dari capaian yang menyertai rilisan, meski angka penonton dan penjualan tiket tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa satu strategi menjadi penyebabnya. Video “SaWaDiKa” meraih lebih dari 70,8 juta penayangan YouTube dalam 24 jam pertama. Sementara itu, empat pertunjukan pertama residensi VIVA LA LISA terjual habis dalam waktu kurang dari 10 menit; dua jadwal tambahan kemudian dibuka. Residensi Las Vegas tersebut dijadwalkan berlangsung selama enam malam di The Colosseum, Caesars Palace, pada November, dan menjadikan Lisa artis K-pop pertama yang menjadi penampil utama residensi di sana. Angka-angka ini menunjukkan besarnya perhatian terhadap proyek dan penampilan langsungnya. Hubungannya dengan strategi visual lebih tepat dibaca sebagai keselarasan: Lisa membawa identitas pertunjukan yang sinematik ke panggung besar, tanpa perlu menyederhanakan keberhasilan tiket menjadi efek langsung dari video musik.

Narasi solo yang berlanjut di luar EP

PRESS PLAY terasa sebagai bab lanjutan perjalanan solo Lisa, bukan pengulangan dari album sebelumnya. Ia mengembangkan satu gagasan visual melalui susunan lagu, video aksi, dan promosi yang memakai suasana bioskop klasik; acara mendengarkan EP di Seongsu-dong, Seoul, pada 22 Oktober juga mengikuti tema tersebut. Di luar musik, dokumenter Always Lalisa garapan Sue Kim kini tayang di bioskop seluruh dunia dan menelusuri perjalanan solonya, termasuk perilisan Alter Ego, pembentukan label LLOUD, serta debut di Coachella. Rangkaian itu memberi konteks yang lebih luas pada pilihan artistik di PRESS PLAY: citra Lisa dibangun melalui banyak medium, bukan hanya satu klip. Pendengar dapat menyimak keenam lagu di Spotify dan Apple Music, lalu menonton video “Tarantino”. Kesimpulannya, kekuatan EP ini terletak pada konsistensi narasinya—sebuah pendekatan yang memberi karya solo Lisa identitas visual yang mudah dikenali.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!