Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Perenungan hingga Video Call: Keputusan Ruben Onsu Mengadopsi Thayaka

Dari Perenungan hingga Video Call: Keputusan Ruben Onsu Mengadopsi Thayaka
Minat|Pengetahuan Parenting

Perenungan yang membuka ruang bagi keputusan

Adopsi Thayaka adalah keputusan Ruben Onsu untuk mengangkat seorang bayi laki-laki yang dikenalnya setelah umrah dan merawatnya sebagai anak melalui proses formal dari yayasan. Langkah ini bukan keputusan mendadak: perenungan tentang keluarga dan tanggung jawab spiritual menjadi awal perjalanan tersebut. Ruben mengisahkan bahwa saat berada di Madinah, ia mengikuti kajian di Masjid Nabawi mengenai doa anak untuk orang tua setelah meninggal dunia.

Kajian itu membuat Ruben memikirkan hubungan spiritualnya dengan anak-anaknya. Ia menyadari bahwa dirinya dan ketiga anaknya memiliki keyakinan berbeda, sebuah keadaan yang memunculkan pertanyaan pribadi tentang keluarga dan doa. Perenungan itu tidak otomatis menentukan pilihan, tetapi tampaknya membuatnya lebih terbuka untuk memikirkan kehadiran anak lain dalam hidupnya. Setelah kembali ke Indonesia, ia berkenalan dengan Thayaka, bayi yang berada dalam perawatan yayasan milik Melanie Subono.

Nilai penting kisah ini terletak pada jeda antara dorongan batin dan tindakan. Ruben mengatakan ia berdoa dan memantapkan hati sebelum melangkah lebih jauh. Dengan begitu, cerita Ruben Onsu adopsi Thayaka bukan hanya tentang momen emosional, melainkan juga keputusan yang ia pertimbangkan sebagai komitmen keluarga.

Panggilan video menjadi titik kedekatan

Sebelum bertemu langsung, Ruben sempat berbicara dengan Thayaka melalui panggilan video. Ia menyapa bayi itu dengan panggilan sederhana, “Baby,” lalu melihat matanya merespons. Bagi Ruben, respons tersebut meninggalkan kesan yang kuat dan ikut menguatkan niatnya untuk mengadopsi Thayaka.

Satu reaksi bayi tentu tidak cukup untuk menjelaskan seluruh keputusan pengasuhan. Namun, dalam kisah yang Ruben sampaikan, momen itu menjadi jembatan emosional setelah perenungan selama umrah: gagasan tentang keluarga bertemu dengan sosok nyata yang membutuhkan perawatan. Kesan kedekatan dapat menjadi awal, tetapi tanggung jawab jangka panjang menuntut lebih dari perasaan sesaat.

Di sinilah kisah anak angkat Ruben memperoleh konteks lebih luas. Niat pribadi bertemu dengan kebutuhan Thayaka akan pengasuhan, sementara keputusan akhirnya perlu ditopang langkah resmi. Ruben tidak langsung bertindak hanya karena tersentuh; ia menyebut doa dan pemantapan hati sebagai bagian dari proses sebelum mengambil keputusan.

Kepedulian dan proses formal

Kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, menjelaskan bahwa keputusan itu juga berangkat dari kepedulian setelah Ruben mengetahui Thayaka membutuhkan penanganan medis dan pengasuhan. Menurut Minola, bayi tersebut tidak memiliki orang yang bersedia merawatnya dan berada dalam pengurusan panti asuhan. Ia menyebut Ruben merasakan kecocokan saat melihat anak itu, lalu memutuskan mengasuhnya secara formal melalui yayasan.

Minola menyatakan pengasuhan telah memperoleh izin resmi dari yayasan dan panti asuhan yang menaungi Thayaka. Penjelasan itu penting karena memisahkan kedekatan emosional dari tanggung jawab hukum: kasih sayang dapat mendorong langkah awal, tetapi proses formal memberi dasar bagi pengasuhan.

Thayaka, anak laki-laki yang kini dirawat Ruben, diberi nama Thayaka Putra Onsu. Minola juga menjelaskan bahwa dokumen pengadilan untuk penetapan hak asuh akan ditindaklanjuti secara bertahap, dengan mempertimbangkan usia Thayaka yang masih balita. Karena itu, kisah adopsi ini belum berhenti pada pengumuman nama: kelanjutan administrasi menjadi bagian dari tanggung jawab yang menyertai keputusan tersebut.

Keputusan yang harus dibuktikan lewat pengasuhan

Rangkaian pengalaman Ruben menunjukkan bagaimana keputusan mengadopsi bisa bermula dari refleksi pribadi, diperkuat oleh perjumpaan, lalu diuji melalui komitmen nyata. Kajian di Masjid Nabawi memberinya bahan renungan; panggilan video menghadirkan kedekatan; penjelasan kuasa hukum menegaskan adanya jalur formal. Ketiganya memberi gambaran lebih utuh daripada sekadar menyebut adopsi sebagai kabar selebritas.

Namun, momen yang mengharukan bukanlah ukuran akhir keberhasilan sebuah pengasuhan. Yang lebih menentukan adalah konsistensi merawat anak dan menuntaskan tahapan administrasi sesuai ketentuan. Dalam hal ini, keterangan bahwa dokumen pengadilan akan diproses bertahap menempatkan tindak lanjut sebagai bagian penting dari cerita, bukan catatan kecil.

Pada akhirnya, keputusan Ruben mengangkat Thayaka memadukan alasan batin dan kepedulian terhadap bayi yang membutuhkan pengasuhan. Perenungan dan video call menjelaskan bagaimana niat itu tumbuh, sementara proses formal menunjukkan bahwa niat tersebut perlu disertai tanggung jawab. Itulah inti perjalanan adopsi Thayaka: rasa terpanggil membuka pintu, tetapi komitmen dan prosedur yang akan menentukan kelanjutannya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!