Anggaran harus mengikuti kebutuhan desa
Dana desa untuk stunting adalah anggaran pembangunan desa yang diarahkan sesuai tingkat masalah gizi dan kebutuhan warga, agar intervensi pencegahan menjangkau ibu hamil serta anak yang paling memerlukannya. Kemendes PDT mengarahkan desa dengan angka stunting tinggi untuk memprioritaskan penanganan, sementara desa yang telah menekan kasus dapat mengalihkan fokus anggaran ke kebutuhan lain yang mendesak. Pendekatan ini lebih masuk akal daripada membagi perhatian secara seragam: kondisi tiap desa berbeda, sehingga prioritas belanja pun semestinya berbeda. Dana desa dapat mendukung pemenuhan gizi ibu hamil dan anak yang baru lahir. Bagi keluarga, keputusan anggaran semacam ini berpotensi membuat dukungan lebih dekat dengan masa ketika pencegahan paling dibutuhkan. Namun, ketepatan sasaran harus dibuktikan melalui pemetaan kondisi dan pemantauan hasil, bukan sekadar dicantumkan dalam rencana.
Alasan untuk bertindak jelas. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyebut angka stunting nasional masih mendekati 20 persen, sementara di daerah tertinggal dan sangat tertinggal angkanya di atas 27 persen. Kesenjangan itu menegaskan bahwa kebijakan satu ukuran untuk semua tidak cukup. Penggunaan dana desa stunting perlu mengikuti data setempat, lalu diarahkan ke kebutuhan nyata seperti pemenuhan gizi. Tanpa pemetaan yang baik, anggaran dapat terserap tanpa menyentuh keluarga yang paling berisiko.
Penghargaan perlu mendorong kerja yang terukur
Pada 29 Oktober 2026, Kemendes PDT memberikan penghargaan kepada sembilan desa berkinerja baik dalam konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting (P3S), dalam Rapat Koordinasi Nasional P3S di Bogor. Apresiasi itu patut dibaca sebagai dorongan agar praktik yang berhasil ditiru, bukan sebagai akhir dari pekerjaan. Pencegahan stunting desa menuntut kerja bersama pemerintah desa dan berbagai pihak, serta kesinambungan dari masa kehamilan hingga anak tumbuh. Penghargaan akan lebih berarti bila menguatkan komitmen untuk merawat layanan, mengenali keluarga yang membutuhkan dukungan, dan menilai apakah intervensi benar-benar membantu.
Sembilan penerima penghargaan Desa Berkinerja Baik 2026 meliputi Desa Tirtohargo di Kabupaten Bantul, Desa Kesambi di Kabupaten Kudus, Desa Sodong di Kabupaten Tangerang, dan Desa Kahala di Kabupaten Kutai Kartanegara. Daftar tersebut menunjukkan cakupan penghargaan lintas wilayah, tetapi ukuran keberhasilan seharusnya tetap bertumpu pada dampak bagi warga, bukan seremoni. Kemendes PDT berharap penghargaan memotivasi desa lain memperkuat komitmen dan kinerja untuk mencegah serta menurunkan stunting. Agar harapan itu menjadi nyata, pengalaman desa penerima perlu diterjemahkan menjadi pembelajaran praktis yang dapat disesuaikan dengan kondisi desa lain.

Pembangunan desa dan gizi tidak bisa dipisahkan
Stunting bukan hanya persoalan layanan kesehatan; kemiskinan dan keterbatasan pemenuhan kebutuhan dasar juga perlu ditangani bersamaan. Karena itu, pencegahan seharusnya menjadi bagian dari strategi pembangunan desa, bukan program yang berdiri sendiri. Pemenuhan gizi memberi intervensi langsung kepada ibu dan anak, sementara penguatan ekonomi dapat memperbaiki kemampuan keluarga memperoleh pangan dan kebutuhan hidup. Yandri menyebut kemiskinan di desa sangat tertinggal mencapai 33 persen, sedangkan rata-rata kemiskinan perdesaan sekitar 11 persen. Angka ini memperlihatkan mengapa pembangunan ekonomi dan penurunan stunting perlu bergerak beriringan.
Kemendes PDT menyebut koordinasi dengan kementerian terkait dan pemerintah daerah sebagai bagian dari penguatan penanganan terpadu. Di tingkat desa, program ekonomi seperti BUM Desa, koperasi, desa wisata, desa tematik, dan desa ekspor diharapkan ikut menggerakkan kesejahteraan masyarakat. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis memperbaiki gizi; hubungan itu perlu dijembatani dengan layanan yang tepat dan akses keluarga terhadap pangan bergizi. Kesimpulannya, dana desa yang mengikuti tingkat masalah dan penghargaan bagi desa berkinerja baik dapat saling menguatkan. Ukuran keberhasilan akhirnya bukan besarnya perhatian, melainkan apakah dukungan sampai kepada keluarga dan membuat penurunan stunting bertahan.







