Persiapan akademik perlu dimulai jauh sebelum ujian
Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah evaluasi untuk mengukur kemampuan akademik siswa sekaligus membantu mereka mengenali potensi sebagai bekal melanjutkan pendidikan. Karena itu, persiapan TKA siswa seharusnya tidak berhenti pada latihan menjelang hari ujian, tetapi dibangun melalui pembelajaran terarah dan pendampingan yang konsisten.
SMAN 13 Palembang memulai persiapan TKA kelas XII sejak Agustus 2026 dengan materi terarah, latihan soal, dan uji coba pada September. Sebanyak 270 dari total 435 peserta mengikuti sesi pertama gelombang pertama. Sekolah menargetkan 85 persen siswanya melanjutkan ke perguruan tinggi, naik dari capaian 56 persen pada tahun sebelumnya. Target itu membuat persiapan akademik memiliki tujuan yang lebih konkret daripada sekadar menuntaskan ujian.
Langkah tersebut juga tampak di SMAN 16 Palembang, yang menyiapkan 315 siswa melalui tryout mingguan dan bimbingan khusus sesuai mata pelajaran pilihan. Sementara itu, SMA Batik 1 Surakarta memadatkan pembelajaran agar siswa punya ruang lebih untuk memperdalam materi dan berlatih. Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bahwa pengulangan dan kecocokan materi dengan kebutuhan siswa lebih berarti daripada persiapan kilat.
Pembagian gelombang membantu ujian lebih tertata
Persiapan yang kuat akan kehilangan manfaat jika pelaksanaan TKA sekolah tidak tertata. Pembagian peserta ke dalam gelombang dapat mengatur beban ruang dan perangkat, sekaligus memberi sekolah jadwal yang lebih mudah dikelola. Namun, pengaturan sesi sebaiknya tetap dipandang sebagai cara mendukung peserta, bukan semata urusan administrasi.
SMAN 15 Palembang membagi ujian menjadi dua gelombang: 26–29 Oktober dan 2–5 November 2026. Sekolah menjelaskan bahwa TKA digunakan untuk mengukur kemampuan sekaligus memetakan potensi akademik siswa sebagai bekal menuju perguruan tinggi. SMA Batik 1 Surakarta juga memakai pembagian dua gelombang dengan jadwal yang sama, serta menempatkan peserta di dua laboratorium komputer. Di SMAN 13 Palembang, ujian dimulai pukul 07.00 WIB dengan tiga laboratorium dan enam ruang; umumnya sesi berlangsung dua jam, sedangkan Matematika mendapat waktu 90 menit.
Jadwal bertahap memberi sekolah ruang mengatur fasilitas dan membantu peserta mengetahui kapan mereka harus hadir. Pada pelaksanaan SMAN 15, ujian dibagi dalam dua gelombang dan tiga sesi agar semua siswa dapat mengikuti tes sesuai jadwal. Ketepatan informasi sesi penting agar pengaturan teknis tidak menambah kecemasan siswa.

Keandalan dan pengawasan sama pentingnya dengan materi
Ujian berbasis komputer bergantung pada hal-hal yang tidak bisa diperbaiki dengan belajar lebih lama: listrik, jaringan, perangkat, dan tata kelola yang dipercaya. Karena itu, sekolah perlu memperlakukan kesiapan teknis dan integritas sebagai bagian inti dari persiapan siswa, bukan pekerjaan tambahan setelah materi selesai.
SMAN 16 Palembang berkoordinasi dengan PLN untuk menjaga keandalan pasokan listrik selama ujian. Sekolah juga menerapkan pengawasan silang TKA dengan SMAN 14 Palembang: guru SMAN 16 mengawasi di SMAN 14 dan sebaliknya, demi menjaga objektivitas serta integritas. Pendekatan ini lebih meyakinkan daripada hanya mengandalkan pengawas dari sekolah sendiri, sekaligus menunjukkan bahwa kelancaran ujian perlu disiapkan lewat kerja sama.
Risiko gangguan tetap ada. Di SMAN 13 Palembang, kendala dari pusat pada sesi pertama hari kedua membuat peserta terdampak dijadwalkan mengikuti ujian susulan pada 30 Oktober 2026. Pengalaman tersebut menegaskan pentingnya rencana tindak lanjut yang jelas ketika masalah muncul, agar siswa tidak menanggung ketidakpastian sendirian.

Dukungan siswa harus mencakup kesiapan mental
Kesiapan akademik saja tidak cukup untuk membuat siswa menghadapi ujian dengan tenang. SMA Batik 1 Surakarta melengkapi pendalaman materi dengan doa bersama, salat malam, penguatan psikologis, serta pemeriksaan laboratorium, komputer, perangkat ujian, dan jaringan. Dukungan menyeluruh ini mengakui bahwa rasa percaya diri dan ketenangan ikut memengaruhi pengalaman siswa saat mengerjakan tes.
SMAN 15 Palembang juga menempatkan TKA sebagai kesempatan bagi siswa mengenali kemampuan diri dan menyiapkan langkah pendidikan berikutnya, bukan semata rutinitas ujian. Ketika siswa memahami tujuan tes dan mendapat dukungan yang sesuai, hasilnya dapat menjadi bahan pertimbangan yang lebih berguna bagi pilihan studi mereka.
Keempat pendekatan tersebut saling melengkapi: SMAN 13 menata pembelajaran sejak dini dan memasang sasaran kelanjutan studi, SMAN 15 mengatur gelombang untuk pemetaan potensi, SMAN 16 memperkuat keandalan dan pengawasan, sementara SMA Batik 1 merawat kesiapan akademik sekaligus mental. Sekolah yang paling siap bukan yang hanya mengejar nilai, melainkan yang memastikan siswa memperoleh latihan, jadwal yang jelas, fasilitas andal, dan dukungan manusiawi sampai ujian selesai.







