Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Lokakarya hingga KKL, Warga dan Mahasiswa Hadapi Dampak Iklim

Dari Lokakarya hingga KKL, Warga dan Mahasiswa Hadapi Dampak Iklim
Minat|Solusi Pintar

Kesiapsiagaan dimulai dari pengetahuan setempat

Resiliensi iklim warga adalah kemampuan masyarakat memahami risiko perubahan iklim, menyesuaikan tindakan dengan keadaan setempat, dan menjaga penghidupan saat dampak cuaca ekstrem muncul. Kemampuan ini tidak tumbuh dari imbauan saja: warga perlu ruang untuk menyampaikan masalah yang mereka hadapi dan ikut menentukan langkah yang sesuai.

Pada 27 Oktober 2026, Pemerintah Desa Suak Nibong di Kecamatan Tangan-Tangan, Aceh Barat Daya, bersama GeRAK Aceh menggelar lokakarya iklim desa berbasis komoditas yang menggabungkan mitigasi dengan pengetahuan lokal. Kegiatan di Gampong Pangan Mandiri Suak Nibong ditujukan untuk menambah pengetahuan dan kapasitas masyarakat, sekaligus menghimpun pengalaman serta rekomendasi untuk pemangku kebijakan daerah.

Pendekatan ini tepat karena risiko iklim memiliki wajah yang berbeda di tiap tempat. Di Suak Nibong, petani mengeluhkan ketersediaan pupuk, debit air persawahan yang terbatas, dan penyakit tanaman padi. Bencana di sejumlah wilayah Aceh pada akhir 2025 juga menjadi pengingat bahwa perubahan pola cuaca dapat mengganggu kehidupan dan sumber penghidupan. Lokakarya bernilai jika aspirasi itu berlanjut menjadi rekomendasi dan tindakan, bukan berhenti sebagai forum.

Dari Lokakarya hingga KKL, Warga dan Mahasiswa Hadapi Dampak Iklim

Mahasiswa membawa gagasan ke pekerjaan sehari-hari

Pendidikan komunitas membantu warga mengenali masalah; pengabdian mahasiswa dapat menambah tenaga untuk mencoba solusi. Universitas Yuppentek Indonesia melepas mahasiswa KKL 2026 untuk membantu masyarakat merespons krisis iklim dan cuaca ekstrem di Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Sebanyak 26 mahasiswa ditempatkan di Kelurahan Panunggangan dan Panunggangan Utara selama satu bulan, dari 27 Oktober hingga 26 November 2026.

Rencana mahasiswa KKL iklim mencakup edukasi pemilahan sampah rumah tangga, pembuatan komposter, dan penguatan bank sampah; ada pula pendampingan usaha mikro, kampanye digital, gotong royong, serta ketahanan pangan lokal. Kegiatan seperti ini membuat pengetahuan lebih dekat dengan rutinitas warga. Namun, keberhasilan tidak semestinya diukur dari banyaknya program yang terlaksana saja: penting pula apakah kebiasaan dan sarana yang diperkenalkan dapat bertahan setelah masa pengabdian berakhir.

Tangerang menghadapi risiko banjir dan cuaca ekstrem, sehingga respons kampus yang menghubungkan edukasi dengan praktik lapangan relevan bagi kebutuhan perkotaan. Setelah masa KKL, kegiatan direncanakan berlanjut melalui lokakarya hasil di kampus, dengan materi terbaik tiap kelompok akan diterbitkan dalam jurnal pengabdian masyarakat.

Pengalaman langsung dapat menyalakan aksi anak muda

Pada Minggu, 25 Oktober, peserta Wirasena Youth Camp mengunjungi Kampung Pramuka Program Kampung Iklim RW 01 di Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja. Kunjungan itu memberi ruang bagi mereka untuk melihat pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat, adaptasi iklim, dan kegiatan kepramukaan yang menumbuhkan kemandirian serta kepedulian sosial.

Pengalaman langsung punya kekuatan yang berbeda dari lokakarya maupun KKL: peserta dapat menyaksikan bahwa tindakan lingkungan berangkat dari kebiasaan sehari-hari. Menjaga kebersihan, mengelola sampah dengan bertanggung jawab, memanfaatkan potensi sekitar, dan bergotong royong menjadi contoh praktik yang ditunjukkan di Kampung Iklim Tugu Utara. Harapannya, generasi muda lingkungan membawa pulang pengetahuan itu dan menerapkannya di tempat masing-masing.

Ketiga pendekatan ini saling melengkapi, tetapi tidak dapat saling menggantikan. Lokakarya memberi warga ruang untuk menetapkan prioritas; mahasiswa menambah kapasitas untuk menjalankan kegiatan; pengalaman lapangan menumbuhkan kepedulian dan dorongan bertindak. Kesiapsiagaan akan lebih kuat bila warga tetap menjadi pengarah, sementara mahasiswa dan anak muda menjadi mitra yang membantu aksi berlanjut.

Dari Lokakarya hingga KKL, Warga dan Mahasiswa Hadapi Dampak Iklim

Dari belajar menuju tindak lanjut

Ukuran keberhasilan edukasi iklim bukan semata jumlah peserta atau banyaknya kegiatan, melainkan apakah pengetahuan berubah menjadi keputusan dan kebiasaan yang bertahan. Suak Nibong perlu membawa kebutuhan pertanian warga ke rekomendasi kebijakan; di Pinang, program KKL perlu meninggalkan praktik pengelolaan lingkungan yang dapat diteruskan warga; di Tugu Utara, peserta muda diharapkan menerapkan pengalaman mereka di lingkungan masing-masing.

Kesimpulannya, kesiapsiagaan menghadapi dampak iklim lebih mungkin tumbuh ketika edukasi berangkat dari persoalan nyata dan diikuti keterlibatan langsung. Warga menyediakan pengetahuan tentang kebutuhan lokal, mahasiswa membantu menerjemahkan gagasan menjadi kegiatan, dan generasi muda membawa energi aksi ke lingkungan mereka. Ketiganya paling berguna ketika kolaborasi tidak berhenti pada acara, melainkan membangun kebiasaan dan tindak lanjut yang dipimpin bersama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!