Jarak pandang rendah, jadwal ikut berantakan
Gangguan penerbangan akibat kabut asap terjadi ketika jarak pandang di sekitar bandara turun hingga membatasi kemampuan pesawat untuk mendarat dan lepas landas dengan aman. Di Bangka Belitung, kabut asap tebal mengganggu penerbangan menuju Bandara Depati Amir dan Bandara HAS Hanandjoeddin pada Senin sore, 26 Oktober 2026. Dampaknya bukan sekadar keterlambatan sesaat: setidaknya empat layanan mengalami gangguan dan penyesuaian jadwal, sementara penumpang tertahan di Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng dan Bandara HAS Hanandjoeddin di Tanjungpandan. Situasi ini menunjukkan betapa cepat gangguan jarak pandang bisa merambat ke perjalanan lanjutan dan mengacaukan rencana penumpang, bahkan di bandara yang tidak menjadi titik awal kabut. Ketika jadwal bergantung pada pesawat yang harus melanjutkan perjalanan ke kota lain, satu penundaan dapat membuat banyak penumpang menunggu tanpa kepastian waktu tiba.
Kabut asap telah menyelimuti Bangka Belitung selama beberapa hari, dan jarak pandang di sekitar Bandara Depati Amir turun menjadi 1.000–2.000 meter. Empat penerbangan yang terdampak mencakup layanan NAM Air dan Super Air Jet dengan rute lanjutan melalui Pangkalpinang. Sebuah pesawat NAM Air dari Jakarta bahkan terpantau berputar di wilayah udara Bangka sebelum mendarat, sedangkan pesawat Super Air Jet dari Tanjungpandan yang hendak meneruskan perjalanan ke Palembang tertahan di Belitung. Bagi penumpang, ketidakpastian semacam ini sama beratnya dengan keterlambatan itu sendiri: mereka perlu menata ulang sambungan perjalanan, menunggu kabar maskapai, dan menghadapi kemungkinan jadwal berubah lagi.
Palangka Raya menunggu kondisi aman
Di Kalimantan Tengah, kabut asap karhutla juga memaksa penghentian sementara layanan dari dan menuju Palangka Raya. Jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut sempat turun di bawah ambang batas keselamatan, sehingga pada Rabu, 28 Oktober, tidak ada penerbangan yang beroperasi. Ini bukan sekadar soal jadwal yang bergeser: penutupan sementara mencabut pilihan perjalanan udara bagi penumpang sampai kondisi memungkinkan operasi kembali. Pihak bandara menyatakan belum menerima informasi terbaru mengenai operasional maskapai selain Garuda Indonesia, sehingga pemulihan tidak otomatis berarti semua layanan kembali serentak. Sikap menunggu kondisi aman lebih tepat daripada memaksakan penerbangan, tetapi penumpang tetap menanggung konsekuensi berupa ketidakpastian dan kebutuhan untuk mengecek rencana perjalanan berkali-kali.
Garuda menjadwalkan penerbangan GA550 dari Jakarta ke Palangka Raya pada 29–31 Oktober 2026, lalu GA551 dari Palangka Raya ke Jakarta pada 30–31 Oktober. Pembukaan kembali rute Palangka Raya ini memberi jalur pemulihan yang terbatas dan bertahap, bukan jaminan bahwa seluruh penerbangan telah kembali normal. Karena jadwal yang diumumkan hanya mencakup beberapa hari dan satu maskapai, calon penumpang sebaiknya memastikan status penerbangan langsung kepada maskapai sebelum berangkat. Imbauan ini penting: kabut bisa berubah, dan jadwal yang telah dipasang tetap dapat terdampak kondisi operasional.

Penumpang perlu bersiap menghadapi perubahan
Dua kejadian ini memperlihatkan bahwa kabut asap bukan gangguan lokal semata. Ketika jarak pandang menurun, penundaan di satu titik dapat memengaruhi rute lanjutan dan membuat penumpang tertahan jauh dari tujuan akhirnya. Karena itu, mengandalkan jadwal awal tanpa memeriksa pembaruan berisiko menambah waktu tunggu dan menyulitkan penyusunan perjalanan sambungan. Penumpang perlu memantau informasi penerbangan secara berkala, menghubungi layanan maskapai, dan menyiapkan kelonggaran waktu untuk perjalanan lanjutan. Langkah tersebut tidak menghilangkan dampak kabut, tetapi membantu mengurangi kejutan saat jadwal berubah.
Pembukaan jadwal Garuda pada rute Palangka Raya–Jakarta menjadi tanda pemulihan, namun belum cukup untuk menyimpulkan operasional telah normal. Selama kabut asap masih mengganggu jarak pandang, keselamatan harus tetap menjadi batas utama dan informasi terbaru menjadi pegangan penumpang. Kesimpulannya, penerbangan terganggu di Belitung, Jakarta, dan Palangka Raya memperlihatkan dampak nyata kabut terhadap mobilitas: empat layanan terdampak, penumpang menunggu, dan sebagian rute baru dibuka kembali secara bertahap. Kepastian perjalanan bergantung pada kondisi udara dan konfirmasi maskapai, bukan semata-mata jadwal yang tercetak.






