Penghijauan Pelabuhan Belawan: Dari Pelatihan ke Gerakan Komunitas
Penghijauan pelabuhan Belawan adalah upaya sistematis menambah dan merawat ruang hijau di kawasan operasional pelabuhan melalui penanaman dan pemeliharaan tanaman yang dirancang sesuai karakter lingkungan pesisir dan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar peserta simbolik program sosial perusahaan. Di Medan Belawan, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 1 menggelar pelatihan penanaman dan pemeliharaan tanaman berbasis masyarakat di Kantor Camat Medan Belawan pada Rabu, 9 September 2026. Kegiatan ini bukan acara tempelan, melainkan bagian dari program TJSL Pelindo yang secara eksplisit diarahkan untuk mendukung kelestarian lingkungan di sekitar wilayah operasional pelabuhan strategis tersebut.
Langkah ini patut dibaca sebagai pergeseran penting: dari pola CSR yang bersifat karitatif menuju tanggung jawab lingkungan pesisir yang lebih terstruktur dan berbasis kapasitas warga. Alih-alih hanya menanam pohon lalu menghilang, Pelindo Regional 1 memilih membekali masyarakat dengan pengetahuan tentang pemilihan jenis tanaman, teknik penanaman, hingga cara pemeliharaan yang sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar. Ini sinyal jelas bahwa perusahaan mulai memahami, tanpa keterlibatan masyarakat lingkungan yang aktif, setiap program penghijauan akan berumur pendek.

Mengapa TJSL Pelindo Harus Berbasis Masyarakat
Pelabuhan adalah ruang ekonomi yang padat aktivitas, namun sekaligus titik rawan kerusakan lingkungan. Di kawasan seperti Medan Belawan, tekanan terhadap pesisir datang dari lalu lintas kapal, pergudangan, dan permukiman padat. Dalam konteks ini, program TJSL Pelindo tidak boleh berhenti pada laporan tahunan yang rapi; ia harus menjawab tanggung jawab lingkungan pesisir secara nyata. Pelindo Regional 1 sendiri menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen mendukung terciptanya lingkungan yang lebih hijau sekaligus meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat untuk menjaga lingkungan.
Pernyataan Regional Division Head Pelayanan SDM dan Umum, Basri Alam, seharusnya menjadi prinsip kerja, bukan sekadar kutipan: “Lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Karena itu, upaya penghijauan harus melibatkan masyarakat agar mereka tidak hanya mengetahui proses penanaman, tetapi juga memahami bagaimana lingkungan di sekitarnya dapat dijaga”. Ketika perusahaan pelabuhan mengakui bahwa kunci ada pada masyarakat yang tinggal tepat di lingkar operasional, itu berarti paradigma program TJSL Pelindo sudah mulai bergeser ke arah kemitraan, bukan patronase.
Dari Penanaman ke Pemeliharaan: Tantangan Keberlanjutan
Kritik terbesar terhadap banyak program penghijauan adalah sifatnya yang seremonial: ramai saat penanaman, sunyi saat pemeliharaan. Di Belawan, Pelindo Regional 1 mencoba memutus pola itu dengan menjadikan pemeliharaan sebagai bagian tak terpisahkan dari pelatihan. Masyarakat diberikan pemahaman mengenai pemilihan tanaman, teknik penanaman hingga pemeliharaan agar tanaman dapat tumbuh sesuai dengan kondisi lingkungan. Pendekatan berbasis masyarakat ini secara tegas dirancang agar penghijauan tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi dilanjutkan dengan perawatan dan pemantauan tanaman.
Di sinilah letak poin krusial: bila warga dilatih membaca jenis tanah, ketersediaan air, cahaya, dan karakter tanaman, maka keberhasilan penghijauan pelabuhan Belawan meningkat signifikan. Praktisi lingkungan dari Universitas Sumatera Utara, Onrizal, Ph.D., menekankan bahwa pemilihan tanaman yang sesuai adalah faktor penentu keberhasilan penanaman. Artinya, program TJSL Pelindo yang mengajarkan kecocokan ekologis ini bukan tambahan, melainkan inti dari tanggung jawab lingkungan pesisir. Namun, keberlanjutan tetap akan diuji pada tahun-tahun berikutnya: apakah pemantauan rutin dan penyulaman tanaman yang mati benar-benar dilakukan, atau kembali berhenti di papan nama dan dokumentasi singkat.
Menguatkan Keterlibatan Masyarakat Lingkungan sebagai Penjaga Pesisir
Satu pelatihan tentu belum cukup mengubah wajah pesisir Belawan, tetapi ia membuka pintu bagi pola baru: keterlibatan masyarakat lingkungan sebagai penjaga pertama ruang hijau. Program TJSL tersebut sejak awal dilaksanakan dengan mengedepankan keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan setempat. Peserta bukan hanya warga, tetapi juga pihak lain yang berkepentingan dengan zona pelabuhan. Ini tepat, karena ruang pesisir adalah mosaik kepentingan yang hanya bisa diatur lewat koordinasi, bukan instruksi satu arah.
Menurut Basri Alam, program ini tidak hanya diarahkan untuk memberikan manfaat langsung, tetapi juga membangun kesadaran dan kemampuan masyarakat agar dapat berperan aktif dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan. Ini harus dimaknai sebagai ajakan menjadikan warga sebagai mitra sejajar: mereka yang memantau tumbuh-kembang pohon, melaporkan kerusakan, dan menjadi rujukan ketika kebijakan lingkungan pelabuhan disusun. Tanpa model seperti ini, tanggung jawab lingkungan pesisir akan tetap didominasi pendekatan proyek jangka pendek, yang selama ini terbukti rapuh.
Kesimpulan: Dari Program ke Gerakan, dari TJSL ke Budaya
Pelindo Regional 1 telah menempatkan batu pertama: program pelatihan penghijauan berbasis masyarakat di Medan Belawan sebagai bagian dari TJSL Pelindo. Ini menunjukkan kesediaan perusahaan pelabuhan untuk mengaitkan aktivitas bisnis dengan tanggung jawab lingkungan pesisir di zona operasionalnya. Namun, batu pertama tidak otomatis menjadi bangunan. Keberhasilan program ini akan diukur dari seberapa luas pengetahuan yang ditransfer benar-benar dipraktikkan warga di sekitar tempat tinggal dan wilayah mereka.
Arah yang perlu ditegaskan ke depan jelas: penghijauan pelabuhan Belawan harus diperluas dari satu sesi pelatihan menjadi gerakan komunitas yang berkelanjutan. Program TJSL Pelindo perlu diikuti mekanisme pendampingan, pemantauan, dan forum warga yang rutin membahas kondisi ruang hijau. Jika langkah-langkah itu ditempuh, penghijauan tidak lagi sekadar program, tetapi budaya bersama antara perusahaan dan masyarakat pesisir. Di titik itu, pelabuhan tidak hanya menjadi pintu keluar-masuk barang, tetapi juga contoh bagaimana keterlibatan masyarakat lingkungan dapat menjaga kelestarian pesisir di tengah tekanan ekonomi yang terus meningkat.






