Keselamatan mengalahkan rutinitas kelas
PJJ anak usia dini adalah pengalihan kegiatan belajar prasekolah dari ruang kelas ke rumah untuk melindungi anak ketika kondisi lingkungan membuat kehadiran di sekolah berisiko. Di Pekanbaru, kebijakan ini masih berlaku bagi peserta PAUD dan TK hingga Jumat, 23 Oktober 2026, saat kualitas udara belum membaik selama hampir sepekan. Wakil Wali Kota Markarius Anwar menyatakan bahwa anak-anak masih belajar dari rumah karena kondisi udara kota belum pulih. Keputusan itu masuk akal: anak usia dini termasuk kelompok rentan terhadap dampak pencemaran, sehingga kehadiran di kelas tidak seharusnya dipaksakan demi menjaga jadwal normal. Namun, kabut asap sekolah juga memindahkan beban pengaturan belajar ke rumah. Orang tua dan pendidik perlu menjaga rutinitas tetap terarah, sementara anak kehilangan sebagian pengalaman belajar bersama yang biasanya diperoleh di lingkungan prasekolah.

Perbedaan kebijakan antartingkat sekolah
Kebijakan tidak berlaku sama bagi semua jenjang. Sejak awal pekan itu, siswa SD dan SMP telah kembali mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas, sementara PAUD Pekanbaru dan TK tetap menjalankan PJJ. Perbedaan ini mencerminkan pertimbangan perlindungan kesehatan bagi anak prasekolah, bukan sekadar perbedaan jadwal. Bagi siswa SD dan SMP yang kembali ke sekolah, kegiatan hanya boleh berlangsung di dalam kelas dan aktivitas luar ruangan ditiadakan. Mereka juga harus memakai masker ketika berada di luar kelas, meski masker boleh dilepas saat berada di dalam ruang kelas. Pemerintah kota menyiapkan masker serta vitamin C dan vitamin D untuk membantu menjaga daya tahan tubuh anak. Langkah perlindungan itu penting, tetapi tidak menghapus gangguan pada pendidikan prasekolah: anak-anak tetap harus menyesuaikan diri dengan belajar dari rumah ketika teman sebaya di jenjang lain mulai kembali ke sekolah.
Belajar dari rumah bukan pengganti tanpa konsekuensi
Bagi anak usia dini, belajar bukan hanya menerima materi; rutinitas, interaksi, bermain, dan bimbingan langsung ikut membentuk pengalaman prasekolah. Karena itu, perubahan mendadak menjadi TK belajar dari rumah berpotensi mengganggu pola harian anak dan menambah tugas keluarga dalam mendampingi kegiatan. Kebijakan PJJ tetap lebih bijak daripada mengekspos kelompok rentan pada udara yang belum membaik, tetapi pelaksanaannya perlu mempertimbangkan kemampuan anak untuk mengikuti aktivitas jarak jauh. Kegiatan sebaiknya dibuat singkat, sesuai usia, dan disertai arahan yang jelas bagi orang tua, agar layar dan tugas tidak menjadi pengganti penuh bagi belajar melalui permainan. Situasi ini juga menunjukkan bahwa kabut asap bukan hanya masalah kesehatan dan lingkungan. Dampaknya masuk ke ruang keluarga dan mengubah cara anak memulai pendidikan, sehingga perlindungan kesehatan perlu berjalan bersama dukungan nyata bagi pembelajaran di rumah.
Kembali ke kelas menunggu udara membaik
Belum ada alasan untuk menetapkan kepulangan PAUD dan TK ke kelas sebelum kualitas udara memenuhi ambang yang ditentukan. Pemerintah Kota Pekanbaru menyatakan pembelajaran tatap muka bagi kelompok ini akan kembali setelah kualitas udara berada pada kategori sedang. Syarat itu memberi patokan yang lebih jelas daripada sekadar menunggu beberapa hari, meski keluarga tetap membutuhkan pembaruan kebijakan yang mudah dipahami. Selama kondisi belum memenuhi kriteria, orang tua dan sekolah perlu menjaga komunikasi tentang jadwal, kegiatan, serta langkah perlindungan anak. Pelajaran dari masa ini seharusnya tidak berhenti pada pengalihan kelas ke rumah: sekolah juga perlu siap menghadapi gangguan udara yang dapat berulang. Pada akhirnya, PJJ bagi PAUD dan TK adalah langkah perlindungan yang tepat untuk sementara, tetapi keberlanjutan belajar anak menuntut dukungan yang terencana sampai mereka aman kembali ke ruang kelas.






