Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Sungai Tersumbat, Nelayan Kehilangan Akses ke Laut

Sungai Tersumbat, Nelayan Kehilangan Akses ke Laut
Minat|Asia Tenggara

Akses sungai adalah bagian dari mata pencaharian

Hambatan akses sungai bagi nelayan adalah kondisi alur yang membuat perahu sulit berangkat menuju laut atau kembali ke pangkalan, sehingga kegiatan mencari ikan dan mengangkut hasil tangkapan terganggu. Di Cilacap, nelayan mengeluhkan pendangkalan Sungai Kaliyasa yang menyulitkan mereka melaut. Di Pati, hamparan eceng gondok bercampur sampah menutup aliran Sungai Juwana dan turut menghentikan kegiatan nelayan tradisional. Dua masalah berbeda ini memperlihatkan kegagalan yang sama: jalur air yang menjadi penghubung ke laut tidak terpelihara sebagaimana mestinya. Bagi nelayan, sungai bukan pemandangan atau saluran semata, melainkan bagian dari alat kerja. Ketika perahu tak dapat melintas, kesempatan melaut hilang, sementara perjalanan pulang dan bongkar muat hasil tangkapan ikut terancam. Karena itu, pemeliharaan alur sungai semestinya diperlakukan sebagai kebutuhan ekonomi masyarakat, bukan pekerjaan yang bisa terus ditunda.

Sungai Tersumbat, Nelayan Kehilangan Akses ke Laut

Di Cilacap, pendangkalan menuntut pengerukan

Sungai Kaliyasa dangkal dan membuat perahu nelayan kesulitan melintas saat hendak menuju laut. Nelayan Cilacap meminta pemerintah segera mengeruk alur tersebut; menurut Temu, pengerukan terakhir dilakukan pada 1995 dan sejak itu belum ada pengerukan kembali. Jarak puluhan tahun tanpa pengerukan menunjukkan bahwa pemeliharaan berkala tak bisa digantikan oleh penanganan setelah keluhan menumpuk. Sungai ini juga digunakan untuk hilir mudik kapal dan bongkar muat hasil tangkapan, sehingga gangguan akses berimbas pada lebih dari sekadar waktu keberangkatan. Temu juga meminta tebing sungai diperkuat dengan batu untuk mengurangi risiko longsor yang dapat mengancam tanah warga di sekitarnya. Pemerintah perlu menilai kedalaman alur dan kondisi tebing secara bersamaan, lalu menjelaskan tindak lanjutnya kepada masyarakat. Pengerukan tanpa perhatian pada kestabilan tebing berisiko menyisakan persoalan lain; sebaliknya, penguatan tebing saja tidak mengembalikan jalur perahu.

Eceng gondok Juwana menahan ratusan perahu

Di Juwana, hambatannya berupa gulma air yang bercampur sampah dan menutup aliran. Sekitar 400 perahu nelayan Pati diperkirakan tidak dapat beroperasi dan melaut selama beberapa hari terakhir. Nelayan kesulitan menggerakkan perahu untuk berangkat maupun kembali; sebagian yang telah melaut bahkan terpaksa meninggalkan perahunya jauh dari rumah karena akses pulang tertutup eceng gondok. Aktivis lingkungan Ari Subekti memperkirakan potensi kerugian mencapai Rp480 juta, dengan asumsi pendapatan bersih Rp300 ribu per perahu per hari selama empat hari gangguan. Angka itu merupakan perkiraan berdasarkan asumsi tersebut, tetapi sudah cukup menunjukkan bahwa sumbatan sungai bukan gangguan kecil. Eceng gondok Juwana dan sampah yang menumpuk memutus rutinitas kerja sekaligus menyulitkan nelayan mengatur keberangkatan berikutnya. Pembersihan yang cepat penting, tetapi langkah darurat saja tidak memadai jika sumber sampah dan pertumbuhan gulma dibiarkan berulang.

Perawatan harus mendahului krisis

Cilacap dan Juwana membutuhkan penanganan sesuai persoalan masing-masing: pengerukan serta penguatan tebing di Kaliyasa, dan pembersihan alur dari eceng gondok serta sampah di Juwana. Pemerintah perlu bergerak dengan jadwal yang jelas, melibatkan nelayan yang memahami titik sulit dilalui, dan memeriksa kembali kondisi sungai setelah pekerjaan selesai. Tanpa pemantauan, pengerukan dapat kembali tertunda hingga puluhan tahun, sementara gulma dan sampah berpotensi menutup jalur lagi. Bagi nelayan, ukuran keberhasilan bukan sekadar pekerjaan selesai, melainkan perahu bisa keluar menuju laut dan pulang dengan aman. Keterlambatan pemeliharaan membuat masyarakat menanggung akibat langsung dari jalur yang seharusnya mendukung mata pencaharian mereka. Kesimpulannya, sungai yang dapat dilalui adalah infrastruktur ekonomi. Menjaga aksesnya tetap terbuka harus menjadi pekerjaan rutin, bukan respons sementara setelah nelayan kehilangan hari melaut.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!