Kedekatan polisi harus terasa sebelum ada masalah
Program SAS Sidoarjo adalah delapan inisiatif Polresta Sidoarjo yang mengusung nilai Solutif, Amanah, dan Sigap untuk menghadirkan polisi sebagai mitra warga melalui layanan, dialog, dan perlindungan sehari-hari. Gagasan ini penting karena hubungan masyarakat dengan polisi tidak seharusnya hanya terbentuk saat terjadi kejahatan atau gangguan keamanan. Kapolresta Sidoarjo AKBP Bobby Adimas Condroputra menyebut program tersebut sebagai penerjemahan arahan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto ke dalam pelayanan yang lebih nyata dan sesuai kebutuhan masyarakat. Ukuran keberhasilannya pun semestinya bukan semata jumlah perkara yang ditangani, melainkan apakah warga merasa aman untuk meminta bantuan, menyampaikan keluhan, dan memperoleh respons. Bobby mengatakan warga tidak seharusnya takut atau sungkan datang kepada polisi. Itu bukan sekadar ajakan: kepercayaan hanya tumbuh bila komunikasi terbuka dibarengi tindak lanjut yang jelas.
Delapan program ini ditujukan kepada beragam kelompok—pengguna jalan, pelajar, lingkungan permukiman, pemuka agama, dan komunitas—dengan cara yang berbeda, tetapi mengarah pada tujuan yang sama: polisi bersama masyarakat melindungi, mengayomi, dan melayani. Pendekatan tersebut patut dinilai dari kemudahan warga menjangkau petugas dan konsistensi respons, bukan dari nama program atau banyaknya kegiatan semata. Keamanan, sebagaimana ditekankan Bobby, juga merupakan tanggung jawab bersama keluarga, sekolah, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga. Peran polisi adalah membuka jalur komunikasi dan bekerja bersama mereka agar persoalan dikenali sebelum membesar.
Dari jalan raya hingga ruang aspirasi pelajar
Dua program menyasar kebutuhan yang mudah terlihat dalam keseharian. Sidoarjo Amankan Sepanjang Jalan berfokus pada keselamatan dan ketertiban lalu lintas: titik rawan kemacetan, kecelakaan, serta pelanggaran dipetakan, lalu patroli dan pengaturan diperkuat pada jam sibuk. Manfaatnya langsung bagi pengguna jalan, yang diharapkan dapat berkendara lebih aman dan tertib. Sementara itu, Sidoarjo Aspirasi Siswa membuka komunikasi polisi dengan pelajar. Kegiatannya meliputi pencegahan perundungan, penyalahgunaan narkoba, dan kenakalan remaja, juga edukasi tertib berlalu lintas serta pendampingan bagi siswa yang menghadapi persoalan sosial. Nilai tambah program pelajar terletak pada kesediaan mendengar: anak muda bukan hanya sasaran penyuluhan, tetapi pihak yang perlu diberi ruang menyampaikan masalah.
Sidoarjo Ada Solusi membawa perhatian ke lingkungan permukiman melalui penguatan keamanan berbasis warga. Revitalisasi pos kamling, ronda, dan pemetaan persoalan bersama Bhabinkamtibmas dirancang agar masalah setempat dikenali lebih awal dan mendapat tindak lanjut. Ketiganya menunjukkan bahwa pelayanan Polresta Sidoarjo tidak cukup mengandalkan patroli atau penindakan. Warga perlu tahu siapa yang dapat dihubungi, sementara polisi perlu memberi respons yang dapat dipahami dan ditelusuri. Tanpa itu, ajakan berkolaborasi berisiko berhenti sebagai slogan; dengan komunikasi rutin, warga dapat ikut mencegah persoalan berkembang menjadi gangguan yang lebih besar.
Silaturahmi sebagai jalur layanan dan pencegahan
Sidoarjo Ajak Silaturahmi menyediakan ruang temu melalui Jumat Curhat, kunjungan kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat, serta dialog dengan pemuda dan perangkat desa. Warga dapat menyampaikan keluhan, masukan, dan persoalan keamanan secara langsung; dari situ polisi diharapkan memahami kebutuhan setempat dengan lebih tepat. Bentuk komunikasi semacam ini penting karena layanan yang mudah dijangkau tidak selalu berarti menunggu warga datang ke kantor. Polisi juga harus hadir di ruang sosial warga dan bersedia mendengar tanpa membuat mereka merasa berjarak.
Dua program lain memperluas makna keamanan. Sidoarjo Asri Sejuk mengusung Green Policing melalui penanaman pohon, gerakan bersih lingkungan dan sungai, edukasi pencegahan pembakaran lahan serta pencemaran, dan pengembangan kampung hijau bersama warga. Sidoarjo Ayo Sholat mempererat hubungan dengan jamaah, pengurus masjid, dan tokoh agama melalui Jumat Keliling, sekaligus membuka dialog tentang keamanan serta edukasi pencegahan penipuan dan kriminalitas. Keduanya menunjukkan bahwa kepedulian polisi dapat hadir dalam urusan lingkungan dan kehidupan sosial, bukan hanya penanganan pelanggaran.

Menjangkau warga pada waktu dan ruang yang berbeda
Sidoarjo Ayo Subuhan memakai kegiatan Subuh Keliling untuk membangun komunikasi dan kepedulian sosial. Program ini juga mencakup patroli dialogis menjelang pagi serta edukasi keamanan berkendara. Sidoarjo Akrab Seiman, program kedelapan, menguatkan toleransi dan kerukunan antarumat beragama melalui Minggu Kasih, kunjungan ke gereja, serta dialog dengan pendeta, pengurus gereja, dan tokoh lintas agama. Perbedaan tempat dan waktu kegiatan memperluas kesempatan bertemu, tetapi ukuran pentingnya tetap sama: apakah percakapan itu membuat warga lebih nyaman menyampaikan kebutuhan dan apakah petugas menanggapinya.
Arah SAS juga sejalan dengan contoh kegiatan kepolisian yang menghubungkan pendidikan dan kepedulian lingkungan. Pada 26 Oktober 2026, Korps Sabhara Baharkam Polri menggelar kegiatan di SD Negeri Cilangkap 8, Depok, dengan membagikan 550 paket makanan bergizi kepada siswa dan menanam pohon. Siswa menerima bubur kacang hijau dan telur rebus, mengikuti edukasi tugas kepolisian, serta terlibat dalam penanaman bibit pohon mangga bersama personel, guru, dan pengurus RW. Kegiatan tersebut merupakan pelaksanaan arahan Kapolri melalui semangat Polisi Bersama Masyarakat dan Green Policing; pendekatan pelayanan dan pengabdian seperti ini diharapkan berlangsung berkelanjutan di berbagai daerah. Bagi Sidoarjo, tantangannya ialah menjaga agar delapan program bukan acara sesaat, melainkan jalur komunikasi yang punya respons dan tindak lanjut.

Kepercayaan ditentukan oleh tindak lanjut
Delapan program SAS menawarkan kerangka yang luas: keselamatan jalan, perlindungan pelajar, keamanan lingkungan, dialog warga, kepedulian ekologis, serta kerukunan sosial dan keagamaan. Cakupan itu memberi peluang bagi polisi untuk lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Namun, kedekatan tidak lahir dari daftar kegiatan saja. Warga perlu melihat bahwa keluhan didengar, bantuan mudah diminta, dan persoalan yang disampaikan memperoleh respons yang jelas. Polisi pun memerlukan partisipasi masyarakat karena keamanan tidak dapat dijaga sendirian.
Karena itu, keberhasilan program SAS Sidoarjo sebaiknya diukur dari pengalaman warga: apakah mereka berani menghubungi polisi, merasa terlindungi, dan mengetahui langkah berikutnya setelah menyampaikan masalah. Dialog harus menjadi pintu masuk, bukan akhir layanan. Jika pelaksanaan konsisten dan tindak lanjutnya terasa, cita-cita polisi dekat warga dapat berubah dari pesan menjadi kebiasaan pelayanan. Kesimpulannya, delapan program ini menjanjikan pendekatan yang lebih manusiawi, tetapi kepercayaan hanya akan tumbuh ketika sikap solutif, amanah, dan sigap benar-benar dirasakan.






