Masjid menjadi ruang perjumpaan, bukan sekadar tempat menyampaikan pesan
Jumat Keliling polisi adalah kegiatan ketika petugas mendatangi masjid, mengikuti salat berjamaah, lalu berbicara langsung dengan jamaah untuk menyampaikan imbauan keamanan dan mendengar persoalan warga. Nilai pentingnya terletak pada perjumpaan: keamanan tidak cukup dibicarakan dari kantor, tetapi perlu dirawat lewat hubungan yang dekat dan terbuka.
Pada 23 Oktober 2026, Kapolres Mesuji AKBP Muhammad Firdaus bersama jajaran menggelar kegiatan di Masjid Nurul Ikhlas, Desa Wira Bangun. Ia menjelaskan bahwa program Polisi Bersama Masyarakat dimaksudkan untuk menyerap keluhan dan mencari solusi bersama. Di hari yang sama, Kapolsek Gedangan AKP Sumantri Wibisono mengikuti Jumat Keliling di Masjid Al Mubarok, Desa Segaran, sekaligus bersilaturahmi dengan warga, tokoh agama, dan perangkat desa.
Pola ini lebih bermakna daripada penyuluhan satu arah jika percakapan benar-benar memberi ruang bagi jamaah untuk menyampaikan masalah. Kedekatan bukan hiasan program; ia menjadi cara untuk mengenali keresahan dan membangun kepercayaan sebelum gangguan keamanan membesar.

Imbauan yang menyentuh risiko sehari-hari
Isi imbauan kamtibmas polisi menunjukkan bahwa keamanan lingkungan warga mencakup ancaman yang beragam. Di Segaran, jamaah diajak menjaga kerukunan dan meningkatkan kepedulian terhadap keadaan sekitar. Di Karangkates, Kapolsek Sumberpucung Iptu Choirul Mustofa memperingatkan bahaya balap liar serta meminta orang tua mengawasi pergaulan anak. Ia juga mengingatkan warga agar tidak membakar sampah atau sisa tanaman sembarangan, terutama saat musim kemarau, karena api dapat meluas.
Pesan keselamatan lalu lintas juga punya dampak praktis: pengendara diminta memakai helm dan memastikan kendaraan lengkap sebelum bepergian. Operasi Patuh Semeru 2026 dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober hingga 8 November, tetapi kepatuhan semestinya tumbuh dari kesadaran melindungi diri dan pengguna jalan lain, bukan semata takut ditilang.
Di Benoa, Kuta Selatan, petugas mengajak sekitar 200 jamaah menyaring informasi dan memeriksa kebenaran kabar sebelum menyebarkannya. Imbauan soal hoaks penting karena kabar palsu dapat memicu keresahan dan merusak kerukunan. Penyuluhan semacam ini akan lebih berguna bila warga juga tahu ke mana harus bertanya atau melapor.

Kemitraan harus berlanjut setelah salat Jumat
Jumat Keliling tidak akan banyak berarti jika berhenti sebagai kunjungan seremonial. Kemitraan polisi warga menuntut tindak lanjut: petugas perlu merespons laporan, sementara masyarakat berani menyampaikan informasi dan menjaga lingkungan bersama. Di Pematangsiantar, kegiatan di Masjid Al-Ikhlas pada 30 Oktober 2026 menegaskan bahwa warga merupakan mitra kepolisian dalam menjaga keamanan, bukan penonton tugas polisi.
Saluran pelaporan membuat ajakan itu lebih konkret. Warga Mesuji yang menemukan hal mencurigakan diminta menghubungi 110 atau Bhabinkamtibmas setempat. Di Kuta Selatan, masyarakat juga diarahkan melapor kepada Bhabinkamtibmas, polsek, atau layanan 110 bila menemukan kejadian mencurigakan maupun informasi yang berpotensi meresahkan. Polres Pematangsiantar menyosialisasikan layanan 110 gratis pulsa yang akan ditindaklanjuti petugas piket.
Kesimpulannya, Jumat Keliling punya nilai ketika dialog berubah menjadi kebiasaan saling menjaga. Polisi membawa informasi dan membuka akses bantuan; warga ikut mencegah balap liar, kebakaran, penyebaran hoaks, serta gangguan lain. Ketertiban lingkungan bukan hasil satu pihak, melainkan kerja bersama yang perlu diteruskan setelah jamaah meninggalkan masjid.







