Operasi keselamatan di tengah kenaikan kecelakaan
Operasi Patuh Semeru adalah operasi kepolisian selama 14 hari di Jawa Timur yang memadukan edukasi, pencegahan, dan penegakan hukum untuk mengurangi pelanggaran serta risiko kecelakaan. Polda Jatim menggelarnya pada 26 Oktober hingga 8 November 2026, dengan pelaksanaan di berbagai kabupaten dan kota. Langkah ini datang setelah kecelakaan Jawa Timur meningkat 23 persen sepanjang Januari hingga September 2026, dengan tambahan 4.760 kasus. Pelanggaran lalu lintas juga naik 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut membuat operasi ini lebih dari sekadar pemeriksaan rutin: taruhannya adalah korban luka berat dan meninggal dunia. Namun, keberhasilan tidak semestinya diukur dari banyaknya pengendara yang ditilang. Ukuran yang lebih penting ialah apakah orang mengubah kebiasaan berbahaya setelah operasi berakhir.

Pelanggaran yang menjadi prioritas
Sasaran pelanggaran lalu lintas dipilih berdasarkan kaitannya dengan risiko kecelakaan. Pengawasan mencakup pengendara di bawah umur, penggunaan telepon seluler saat berkendara, melawan arus, serta kendaraan yang tidak memenuhi spesifikasi teknis. Di Malang, pengawasan juga memasukkan balap liar dan penggunaan atau modifikasi pelat nomor untuk menghindari kamera ETLE. Fokus pada perilaku berisiko ini masuk akal: pelanggaran bukan urusan administrasi semata ketika dapat membahayakan pengendara dan pengguna jalan lain. Karena itu, pengendara sebaiknya memastikan memiliki SIM dan STNK, memakai perlengkapan keselamatan, serta mengendarai kendaraan yang laik jalan. Mematuhi aturan bukan sekadar cara menghindari sanksi, melainkan langkah nyata untuk melindungi diri dan orang lain.
Edukasi lebih dulu, penindakan tetap tersedia
Komposisi operasi menempatkan 20 persen kegiatan untuk edukasi, 50 persen untuk pencegahan, dan 30 persen untuk penegakan hukum. Pola ini patut dipertahankan: sanksi dapat menghentikan pelanggaran sesaat, tetapi pemahaman keselamatan dibutuhkan agar kepatuhan bertahan. Di Surabaya, Polres Pelabuhan Tanjung Perak memulai operasi dengan memasang banner di titik rawan, membagikan materi keselamatan, dan menyosialisasikan aturan kepada pelajar, pengemudi ojek daring, komunitas pengemudi, serta pelaku ekspedisi. Di Jombang, petugas juga melakukan sosialisasi di sekolah sambil menertibkan pelanggaran. Tilang manual tetap disiapkan secara selektif sebagai langkah terakhir, terutama mulai pekan kedua jika edukasi dan pencegahan belum mengubah perilaku. Artinya, pengendara tak perlu menganggap setiap kegiatan sebagai razia, tetapi pelanggaran berbahaya tetap bisa berujung penindakan.
Keselamatan harus bertahan setelah operasi
Operasi ini berlangsung di banyak wilayah, dengan dukungan gabungan di daerah. Di Ponorogo, misalnya, 278 personel dikerahkan untuk mendukung kegiatan hingga 8 November. Kehadiran petugas dapat meningkatkan pengawasan, tetapi tak akan cukup bila kepatuhan hanya muncul saat operasi berlangsung. Pengendara perlu menjaga jarak, menghindari penggunaan ponsel, menaati arus lalu lintas, dan memastikan kendaraan sesuai ketentuan setiap kali bepergian. Kenaikan kecelakaan 23 persen seharusnya menjadi peringatan bahwa risiko di jalan bukan angka abstrak; setiap pelanggaran dapat berdampak pada keselamatan banyak orang. Operasi Patuh Semeru akan berarti jika edukasi mendorong perubahan kebiasaan dan penindakan diarahkan secara konsisten pada perilaku yang membahayakan. Kesimpulannya, keselamatan bukan urusan polisi semata: pilihan pengendara sehari-hari menentukan apakah angka kecelakaan dapat ditekan.






