Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Rupiah Penuh Angka Nol, Apakah Ekonomi Lemah?

Mengapa Rupiah Penuh Angka Nol, Apakah Ekonomi Lemah?
Minat|Asia Tenggara

Banyak Nol di Rupiah: Gejala Visual, Bukan Ukuran Kekuatan Ekonomi

Topik tentang banyaknya angka nol pada rupiah merujuk pada besar kecilnya denominasi mata uang dalam satuan resmi yang dipakai untuk mencatat dan melakukan transaksi, yang terbentuk dari perjalanan inflasi ekonomi Indonesia dan perubahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang lain dalam jangka panjang, bukan ukuran langsung kekuatan ekonomi ataupun daya beli masyarakat. Banyak orang melihat uang bergambar angka besar lalu menyimpulkan ekonominya lemah. Pandangan ini keliru karena mencampuradukkan tiga hal: satuan unit uang, daya beli, dan nilai tukar. Akibatnya, diskusi ekonomi publik sering berhenti di simbol, bukan substansi. Persepsi bahwa banyak nol pasti berarti miskin nyaman diucapkan, tapi malas berpikir. Padahal, sebagaimana dijelaskan Ferry Irwandi, banyaknya nol hanyalah cermin sejarah harga dan administrasi, bukan penentu utama kuat atau lemahnya daya beli di tingkat global.

Mengapa Rupiah Penuh Angka Nol, Apakah Ekonomi Lemah?

Jejak Inflasi: Dari Hiperinflasi 1965 hingga Krisis Nilai Tukar

Jika ingin mengerti kenapa rupiah penuh nol, jawabannya ada pada sejarah inflasi. Banyaknya angka nol adalah hasil akumulasi inflasi ekonomi Indonesia dalam jangka panjang, ketika kenaikan harga yang terus terjadi membuat nominal transaksi harus ikut membesar. Salah satu titik ekstrem adalah hiperinflasi 1965 yang mencapai 650 persen, lonjakan yang meninggalkan bekas permanen pada struktur harga dan pencatatan uang. "Hiperinflasi pada 1965 mencapai 650 persen dan memicu pembesaran nominal harga barang dan transaksi," ujar Ferry Irwandi. Krisis moneter 1997–1998 kemudian memperparah keadaan ketika nilai rupiah mengalami pelemahan tajam terhadap mata uang asing. Harga yang sudah terlanjur naik tidak turun lagi meski inflasi kemudian lebih terkendali, sehingga deretan nol yang kita lihat hari ini pada dasarnya adalah arsip angka dari masa-masa penuh gejolak itu.

Denominasi Mata Uang, Redominasi, dan Mitos Menguatkan Ekonomi dengan Mengedit Nol

Di level teknis, banyak nol pada rupiah berkaitan dengan denominasi mata uang: cara negara menentukan satuan unit resmi untuk mencatat nilai. Di sini muncul wacana redominasi, yaitu penyederhanaan nominal rupiah dengan memotong tiga angka nol. Kebijakan ini dinilai ekonom seperti Ferry Irwandi hanya sebagai penataan administrasi, bukan jurus ajaib. Jika tiga nol dipangkas, harga barang, gaji, tabungan, dan kewajiban keuangan semuanya sekadar disesuaikan ke satuan baru tanpa mengubah daya beli. Menurut Ferry, menghapus nol tidak serta-merta membuat perekonomian seribu kali lebih kuat, karena kalau kekuatan ekonomi bisa ditingkatkan dengan mengedit angka, pekerjaan meningkatkan kesejahteraan tinggal mengubah digit di komputer. Kontras antara harapan instan dan kenyataan ini menunjukkan betapa dangkalnya membaca kekuatan ekonomi hanya dari tampilan nominal rupiah.

Nilai Tukar Rupiah dan Masalah Struktural di Balik Posisi Lemah

Persoalan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing jauh lebih kompleks daripada sekadar banyaknya nol. Ferry Irwandi menyoroti bahwa lemahnya posisi rupiah di tingkat internasional bersumber dari masalah struktural, bukan dari tampilan nominal. Dunia tidak membutuhkan rupiah sebanyak membutuhkan dolar karena belum cukup bergantung pada produk, teknologi, dan jasa yang dihasilkan perekonomian kita. Indonesia masih menghadapi problem produktivitas, penguasaan teknologi, dan rendahnya nilai tambah banyak produk dalam perdagangan global, sementara kebutuhan barang modal, mesin, dan teknologi dari luar negeri tetap tinggi dan dibayar dengan valuta asing. Akibat struktur seperti ini, tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi wajar dan berulang. Menyalahkan deretan nol hanyalah cara menutup mata dari PR besar: memperkuat basis produksi, inovasi, dan daya saing agar rupiah lebih dibutuhkan dunia.

Kesimpulan: Berhenti Menghakimi Nol, Fokus pada Fondasi Kekuatan Ekonomi

Banyaknya nol pada rupiah bukan indikator langsung kekuatan ekonomi suatu negara; ia terutama mencerminkan sejarah inflasi ekonomi Indonesia dan cara denominasi mata uang diatur dari masa ke masa. Redominasi bisa membuat tampilan angka lebih rapi, tetapi tidak akan otomatis mengubah daya beli, meningkatkan kesejahteraan, maupun memperkuat ekonomi secara mendadak. Kekuatan ekonomi ditentukan oleh hal yang jauh lebih berat: produktivitas, teknologi, nilai tambah industri, dan posisi dalam perdagangan global. Daripada terus mengolok-olok rupiah karena penuh nol, debat publik seharusnya bergeser ke pertanyaan: bagaimana membuat dunia membutuhkan rupiah sebanyak kita membutuhkan mata uang asing? Jawaban atas pertanyaan itu ada pada kebijakan struktural, bukan pada kebijakan kosmetik yang hanya memotong atau menambah nol di lembar uang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!