Target kinerja memerlukan kerja bersama
Sinergi dalam organisasi adalah kerja sama yang menyatukan komunikasi, koordinasi, dan tanggung jawab tiap pegawai agar sasaran bersama tercapai melalui pelaksanaan tugas yang saling mendukung. Prinsip itulah yang ditekankan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan, Budi Argap Situngkir, saat memimpin apel pagi seluruh jajaran pada 2 November 2026. Pesannya tepat: target kinerja tidak akan tercapai bila setiap bagian bergerak sendiri atau hanya mengandalkan instruksi pimpinan. Pegawai diminta saling mendukung, berkomunikasi efektif, dan menjalankan peran masing-masing. Arahan ini juga mengingatkan bahwa capaian organisasi bukan sekadar angka akhir. Ia bergantung pada kebiasaan kerja harian yang tertib, koordinasi lintas bagian, dan kesediaan tiap orang untuk bertanggung jawab atas hasil. Tanpa unsur-unsur tersebut, target yang sudah ditetapkan berisiko tinggal sebagai rencana.

Rencana aksi harus dibuktikan, bukan hanya dijadwalkan
Penekanan pada rencana aksi (Renaksi) memberi arahan kerja yang konkret: setiap bagian perlu memantau kemajuan, menuntaskan kegiatan sesuai jadwal, lalu menyiapkan hasil dan bukti pelaksanaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Inilah bagian yang menentukan apakah rencana kerja benar-benar berjalan atau hanya tercatat di atas kertas. Ketepatan waktu penting, tetapi penyelesaian yang bisa diverifikasi juga sama pentingnya. Karena itu, pimpinan meminta kesamaan pemahaman, kedisiplinan, dan kesungguhan seluruh pegawai dalam menjalankan program. Pendekatan ini masuk akal: keterlambatan satu kegiatan dapat mengganggu pekerjaan lain, sementara bukti yang jelas membantu organisasi menilai kemajuan secara nyata. Tindak lanjut yang diminta bukan komitmen abstrak, melainkan pemantauan progres dan penyelesaian kegiatan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Soliditas organisasi juga dibangun lewat transisi
Penguatan jajaran tidak berhenti pada apel pagi. Dalam kegiatan terpisah di Aula Musi, Budi Argap Situngkir memberi arahan kepada pegawai tentang kedisiplinan, integritas, profesionalisme, dan tanggung jawab, sekaligus memperkenalkan Fatriansyah sebagai Kepala Divisi Pelayanan Hukum yang baru. Perkenalan tersebut penting sebagai bagian dari membangun soliditas: pergantian pejabat perlu disertai pengenalan yang jelas agar koordinasi dan pembagian tanggung jawab tetap lancar. Keberhasilan Kanwil Kemenkum Sumsel, sebagaimana ditekankan pimpinan, merupakan hasil komitmen dan kerja sama seluruh pegawai, bukan semata-mata kerja seorang pemimpin. Pesan ini relevan bagi divisi pelayanan hukum maupun bagian lain. Organisasi yang kompak lebih siap menjaga kesinambungan tugas saat susunan kepemimpinan berubah.

Dampak yang dirasakan masyarakat
Ukuran akhir dari sinergi dan ketepatan pelaksanaan Renaksi seharusnya terlihat pada layanan yang diterima masyarakat. Koordinasi yang baik dan program yang berjalan terarah diharapkan membantu Kemenkum Sumsel mencapai target kinerja sekaligus meningkatkan mutu pelayanan hukum. Harapan itu baru bermakna jika disiplin internal diterjemahkan menjadi pekerjaan yang selesai, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Arahan pimpinan sudah menetapkan fokus berikutnya: pantau progres, tuntaskan kegiatan sesuai jadwal, dan pastikan setiap target memiliki bukti kerja. Kesimpulannya, mengejar target bukan soal bergerak lebih cepat tanpa arah, melainkan bekerja serempak dan konsisten sampai hasilnya bisa dirasakan. Jika jajaran menjaga komitmen tersebut, soliditas organisasi dapat menjadi fondasi bagi layanan yang lebih baik kepada masyarakat.






